Jumat, 01 Feb 2019
eksposnews.com
  • Home
  • Politik
  • Anggota DPD Tak Boleh dari Partai Politik

Anggota DPD Tak Boleh dari Partai Politik

Oleh: Jallus
Senin, 23 Jul 2018 14:43
BAGIKAN:
istimewa.
Parpol.
JAKARTA (EKSPOSnews): Mahkamah Konstitusi (MK) melalui putusannya menegaskan bahwa anggota DPD sejak Pemilu 2019 dan pemilu-pemilu setelahnya tidak boleh diisi oleh pengurus partai politik.

"Untuk selanjutnya, anggota DPD sejak Pemilu 2019 dan pemilu-pemilu setelahnya yang menjadi pengurus partai politik adalah bertentangan dengan UUD 1945," ujar Hakim Konstitusi I Dewa Gede Palguna di Gedung MK Jakarta, Senin 23 Juli 2018.

Palguna mengatakan hal tersebut ketika membacakan pertimbangan Mahkamah atas permohonan uji materi Pasal 182 huruf l UU Nomor 7 Tahun 2017 (UU Pemilu) dalam perkara Nomor 30/PUU-XVI/2018 yang diajukan oleh seorang fungsionaris partai yang ingin mencalonkan diri sebagai anggota DPD.

Putusan untuk perkara Nomor 30 ini kembali menegaskan bahwa calon anggota DPD tidak boleh berasal dari partai politik.

Dalam pertimbangan putusan tersebut, Mahkamah juga memberikan jawaban terkait dengan anggota partai politik yang pada saat ini juga menjabat sebagai anggota DPD.

Mahkamah dalam pertimbangannya mengakui bahwa ketentuan Pasal 182 huruf l UU Pemilu tidak tegas melarang anggota partai politik menjabat sebagai anggota DPD, meskipun putusan MK sebelumnya tetap menyebutkan bahwa anggota DPD tidak boleh diisi oleh anggota partai politik.

"Sejalan dengan sifat prospektif putusan Mahkamah, maka putusan ini tidak berlaku terhadap yang bersangkutan (anggota DPD yang merupakan anggota partai politik) kecuali yang bersangkutan mencalonkan diri kembali sebagai anggota DPD setelah putusan ini berlaku sesuai dengan Pasal 47 UU MK," jelas Palguna.

Sementara itu terkait dengan anggota partai politik yang sudah mendaftarkan diri sebagai anggota DPD ke KPU, Mahkamah meminta KPU untuk memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk tetap mencalonkan diri sebagai anggota DPD dengan syarat sudah menyatakan mengundurkan diri dari kepengurusan partai politik.

Pada sidang sebelumnya, Muhammad Hafidz selaku pemohon berpendapat Pasal 182 huruf I sepanjang frasa "pekerjaan lain' mengandung ketidakjelasan maksud, sehingga menimbulkan kerugian konstitusional bagi pemohon.

Pemohon merasa anggota DPD yang dijabat oleh fungsionaris partai politik akan mengalami konflik kepentingan di antara dua jabatan tersebut.

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 4 bulan lalu

    Persaingan Antarparpol Bakal Seru

    PEKANBARU (EKSPOSnews): Pakar Politik Universitas Riau, Hasanuddin mengatakan berdasarkan konstruksi perundang-undangan mengenai Pemilu terutama berkaitan dengan perhitungan suara dan perolehan kursi

  • 12 bulan lalu

    Dukungan Parpol Terhadap Calon dalam Pilkada Perlu Dibatasi

    SEMARANG (EKSPOSnews): Ketua Program Magister Ilmu Politik FISIP Universitas Diponegoro Semarang Teguh Yuwono memandang perlu menyetop borong dukungan terhadap pasangan calon pada pemilihan kepala dae

  • tahun lalu

    5 Parpol Deklarasikan Pasangan Edy-Ijeck

    MEDAN (EKSPOSnews): Lima partai politik mendeklarasikan dukungan dan pencalonan pasangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah dalam pemilihan gubernur Sumatera Utara di Lapangan Mereka Medan, Minggu 7 Jan

  • 2 tahun lalu

    Bendahara Parpol Ikut dalam OTT Gubernur Bengkulu

    JAKARTA (EKSPOSnews): Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menginformasikan bahwa salah satu dari lima orang yang diamankan dalam operasi tangkap tangan di Bengkulu adalah bendahara dari sal

  • 2 tahun lalu

    AM Fatwa Terpukul karena Anggota DPD Ditangkap KPK

    PURWOKERTO (EKSPOSnews): Ketua Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Daerah AM Fatwa menyesalkan ada anggota DPD yang tertangkap oleh KPK, yang semakin memperburuk citra institusinya yang seharusnya me

  komentar Pembaca

Copyright © 2009 - 2019 eksposnews.com. All Rights Reserved.

Tentang Kami

Redaksi

Pedoman Media Siber

Disclaimer

Iklan

RSS

Kontak

vipqiuqiu99 vipqiuqiu99