
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Kepong Langkat Nusantara Genjot Laba
MEDAN (EKSPOSnews):PT Kepong Langkat Nusantara (KLN) tahun ini menargetkan perolehan laba sekitar Rp180 miliar menyusul semakin besarnya penigkatan produktivitas kelapa sawit karena sudah ditanam ulang.
Direktur Keuangan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II Tanjung Morawa, Sumatera Utara Dahbul Ali Naif membenarkan tahun ini anak perusahaan PTPN II dan Kepong Berhad, Malaysia itu dibebani target laba kotor sebesar Rp180 miliar. "tahun lalu perusahaan yang mengusahai areal perkebunan sawit dan karet di Kabupaten Langkat, Sumut itu mampu mencetak laba kotor sekitar Rp100 miliar yang bersumber dari penjualan minyak kelapa sawit mentah dan karet," ujarnya di Medan Rabu 1 Februari 2012. Menurut dia, target laba sebesar itu tidak terlalu sulit direalisasikan karena sekitar 8.200 hektare areal tanaman sawit dan karet sudah diremajakan dengan mengeluarkan investasi sebesar Rp340 miliar. "Saya optimis perolehan laba sebesar itu bakal dapat diraih tahun ini. Malahan bisa lebih kalau harga minyak sawit bisa bertahan di atas US$1.000 per ton," tuturnya. Dia mengakui, PT KLN Langkat mengusahai areal perkebunan seluas 20.000 hektare yang terdiri dari 17.000 hektare sawit dan 3.000 hektare karet. Sedangkan komosisi tanaman yang sudah diremajakan anak perusahaan PTPN II dan Kepong Berhad itu mencapai 8.200 hektare yang terdiri dari 3.000 hektare karet dan selebihnya tanaman sawit dengan menggunakan klon unggul dari Malaysia. Sedangkan perolehan laba bersih, paparnya, dibagi sesuai dengan saham PTPN II 60 persen dan Kepong berhat 40 persen. Kerja sama mengusahai lahan tersebut, kata dia, sangat menguntungkan karena aset PTPN II tidak hilang malah mendapat nilai lebih tinggi lagi karena tanaman tua sudah diganti dengan klon yang mampu menghasilkan produktivitas tinggi. Kalau selama ini banyak orang menilai salah langkah manajemen PTPN II menjalin kerja sama dengan perusahaan asing, menurut dia, pendapat tersebut terbantahkan karena aset tidak hilang dan laba lebih besar masuk ke PTPN II. Selama kebun tersebut dikelola PTPN II, tuturnya, selalu memberikan kerugian karena banyak tanaman yang berusia tua, sedangkan dana untuk meremajakan tanaman tidak ada. (em)
BERITA TERKAIT:
|