
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Petani Keramba di Koto Panjang Butuh Aliran Listrik
KAMPAR (EKSPOSnews): Sekitar 200 petani ikan pemilik ribuan kerambah di kawasan Koto Panjang, Riau, sangat membutuh aliran listrik yang putus sejak 2011.
"Kami sudah mengusulkan sambungan aliran listrik untuk penerangan dan mendukung usaha kami, tetapi belum ada yang memperhatikan," kata Ali, (43), salah seorang pemilik kerambah ikan, Selasa 24 Januari 2012. Ia mengatakan, persoalan para petani ikan di Koto Panjang sangat ironis dengan kenyataan. Sebab, menurutnya, PT PLN sesungguhnya memanfaatkan danau "Koto Panjang" untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sementara mereka tak kebagian aliran listrik. "Makanya diberi nama PLTA Koto Panjang. Tetapi, warga di sekitar sini, terutama para petani kerambah ikan mas di Desa Pulau Gadang, Kecamatan 13 Koto Kampar Hulu, tak dialiri listrik," ungkapnya. Akibatnya, lanjutnya, sedikitnya 200 kepala keluarga (KK) pemilik ribuan kerambah ikan emas yang berlokasi di kawasan PLTA "Koto Panjang" di Kecamatan 13 Koto Kampar, sejak tahun 2001 sampai saat ini tidak bisa menikmati terangnya cahaya listrik. Ali, "tokeh" ikan yang memiliki omzet sekitar Rp4 miliar per bulan dari usaha kerambah ikan itu mengatakan, pihaknya sudah lama mengusulkan listrik untuk penerangan di tempat tinggal petani ikan di Desa Pulau Gadang, Kecamatan 13 Koto Kampar Hulu. Sebab, menurutnya, aliran listrik itu sangat dibutuhkan pula sebagai penerangan sekitar 5.000 kerambah ikan di kawasan itu. Jawaban PLN Ali juga mengungkapkan, ia bersama sejumlah temannya pernah menemui Bupati Kampar sebelumnya (Burhanuddin Husin), lalu menyampaikan permasalahan listik yang dihadapinya tersebut. Namun, demikian Ali, aliran listrik tidak kunjung terealisasi, karena adanya tawar menawar dalam usaha ikan itu. Kini, Ali dan petani lainnya merasakan sangat pentingnya listrik bagi pengembangan usaha kerambah ikan, disamping untuk penerangan listrik bagi masyarakat. "Di kawasan PLTA ini masyarakat tidak bisa menikmati penerangan listrik dari PLN. Kami sementara ini masih menggunakan 'genset," ungkapnya. Padahal, demikian Ali, saat ini ada teknologi canggih, berupa penerangan yang menembus air, dan hal ini membutuhkan aliran listrik melalui kabel tahan air, atau jaringan di bawah permukaan air. Sementara itu, secara terpisah, Sunardi, 'Supervisor' Operasi dan Distribusi PT PLN Ranting Bangkinang, ketika dikonfirmasi mengenai permasalahan belum adanya jaringan listrik di kawasan tersebut, membenarkan tentang kondisi tersebut. "Memang (aliran) listrik di kawasan perumahan di kawasan itu belum ada. Sebelumnya sudah diusulkan melalui Dinas Pertambangan, entah bagaimana kelanjutannya, kami tidak tahu", ujarnya. Dikatakan, pihak Dinas Pertambangan Kampar mengusulkan pemasangan travo dan kabel SUTM/SUTL, dan manajemen PLN sudah pernah melakukan survei jaringan listrik di perumahan petani. Sunardi juga mengakui, tidak mengetahui jika ada usulan penerangan listrik bagi ribuan kerambah ikan, apalagi menggunakan kabel listrik dalam air.(antara)
BERITA TERKAIT:
|