
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Andaliman Bumbu Masak Khas Batak
BORBOR (EKSPOSnews): Tanaman "Andaliman" yang biasanya digunakan sebagai bahan bumbu masak untuk mengolah makanan khas etnis Batak, hingga kini menjadi komoditi andalan bagi kalangan petani Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.
"Tumbuhan rempah yang memiliki nilai ekonomis itu, harga jualnya bisa mencapai Rp150 ribu per kilo, sehingga petani tetap bergairah untuk membudidayakannya," kata Camat Borbor Alisber Tambunan di Borbor, Sabtu 24 Desember 2011. Ia mengatakan, hampir 90 persen penduduk Kecamatan Borbor berjumlah 6.790 jiwa yang tersebar di 15 desa tersebut, menanam buah berbentuk bulat kecil mirip lada (merica), berwarna hijau agak kehitaman dengan aroma wangi. Memang, kata dia, tanaman tersebut hanya tumbuh di Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara atau di daerah ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, bahkan di Indonesia, tumbuhan rempah ini hanya terdapat di Sumatera Utara. Selain di Sumatera Utara, lanjutnya, andaliman yang tergolong famili "Rutacea" (sejenis tumbuhan jeruk-jerukan) itu hanya terdapat di India, China, Jepang dan Korea. Alisber menyebutkan, jika permintaan konsumen meningkat, harga tanaman yang menjadi primadonna bagi petani Borbor itu dapat mencapai hingga Rp200 ribu per kilo, tetapi tidak jarang harganya bisa anjlok hanya sekitar Rp20 ribu per kilo. Namun, kata dia, meski harga anjlok, tumbuhan tersebut harus tetap dipanen, sebab akan cepat busuk jika tidak terus dipetik bila sudah masak, karena warnanya akan cepat berubah menjadi kehitam-hitaman bila sudah kering. Dikatakannya, teknologi konvensional masih lebih dominan di tingkat petani, tetapi pihak Pemkab Toba Samosir melalui instansi terkait selalu melakukan program penyuluhan terhadap para petani di sejumlah desa, guna memberikan dan pembinaan tentang cara meningkatkan produksi andaliman tersebut, Seorang petani andaliman asal Desa Borbor, Pasaribu mengaku, selama puluhan tahun dirinya sudah menanam komoditas itu di lahan kebun milik orang tuanya, dan hingga kini tetap mempertahankan komoditas tersebut sebagai penopang utama memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Petani andaliman lainnya dari desa yang sama, Simanjuntak (48) menyebutkan, meski harga andaliman sering berflukstuasi dengan penurunan harga cukup tajam, terutama saat bulan April hingga Oktober, tetapi mereka tetap mempertahankan komoditas tersebut sebagai andalan yang utama. "Sudah sejak lama secara turun- temurun kami menanam andaliman, dan hasilnya cukup memuaskan, karena selain sanggup mencukupi keperluan keluarga, juga biaya menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi," kata Simanjuntak.(antara).
BERITA TERKAIT:
|