
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Hutan Pengaman Pelabuhan Baai Terancam Putus
BENGKULU (EKSPOSnews): Hutan pengaman kolam pelabuhan laut Pulau Baai Bengkulu terancam putus akibat abrasi air laut, padahal penanggulangannya hingga kini belum terealisasi. "Kami sudah mengusulkan dana pembangunan hutan pengaman kolam pelabuhan ke pusat sejak tahun lalu, namun belum juga terealisasi, dan kondisi saat ini tinggal 20 meter masuk air laut," kata Kepala Adminsitrasi Pelabuhan (Adpel) Bengkulu Pieter HB Fina, Selasa 18 Oktober 2011. Ia menjelaskan hutan pembatas pengamanan kolam pelabuhan pulau Baai Bengkulu itu sekarang tinggal 20 meter dari sebelumnya mencapai 500 meter dari permukaan laut akibat terkikis abrasi. Awalnya jarak laut dengan kolam pelabuhan Pulau Baai Bengkulu sekitar satu kilometer, kondisinya terus berkurang tinggal 500 meter dan sekarang tinggal 20 meter dan tepat pada pangkalan bungkar BBM milik Pertamina setempat. Pihaknya sudah mengusulkan ke pusat untuk perbaikan hutan pembatas kolam pelabuhan itu sebesar Rp50 miliar, mengingat kondisnya makin memprihatinkan, bila air laut sudah masuk maka pelabuhan pulau Baai Bengkulu seluruhnya dangkal. Menurut dia, akhir-akhir ini yang dikeluhkan adalah pendangkalan pada alur masuk, namun setelah dikeruk PT Pelindo, sekarang kedalamannya sudah mencapai minus 10 meter air pasang terendah (LWS). Namun di satu sisi hutan pembatas antara kolam pelabuhan dengan laut lepas nyaris putus, perbaikannya memerlukan dana cukup besar, tapi pada pembangunan tahap awal cukup dengan dana Rp50 miliar. Apabila hutan pembatas itu habis digrus abrasi, maka kolam pelabuhan akan masuk air laut secara bebas dan seluruh kawasan pelabuhan akan dangkal, bila kolam pelabuhan itu sudah dangkal maka Provinsi Bengkulu akan kehilangan pelabuhan laut cukup potensi karena keberadaan kolam itu terbetuk secara alami. Pelabuhan di daerah lain biasanya membuat kolam sendiri dengan dana cukup besar, sedangkan di Bengkulu sudah tersedia kolam dibetuk secara alami dan tinggal memelihara saja. Ia mengatakan kikisan abrasi pada hutan pembatas kolam pelabuhan itu adalah dampak pendangkalan alur masuk karena alur itu sudah tidak dikeruk sekitar dua tahun terakhir. Sebelumnya, kawasan hutan pembatas antara laut dan kolam pelabuhan jaraknya antara 500 hingga satu kilometer ditumbuhi pohon cemara laut dan pohon bakau. Setelah alur itu dipenuhi gundukan pasir, maka kikisan air laut menghantam bagian kawasan hutan pembatas tersebut sehingga terjadi abrasi besar-besaran. Untuk memulihkan kawasan hutan abrasi itu tahap pertama dilakukan penimbunan jutaan meter kubik pasir dan penanaman kembali pohon cemara dan pohon bakau. Terlambat Anggota Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu M Sis Rahman menilai penanganan kawasan pelabuhan pulau Baai itu sudah terlambat, sehingga akan menelan dana yang cukup besar. Sebelumnya pemerintah Provinsi Bengkulu bertindak tegas dalam pengamanan kawasan pelabuhan tersebut karena satu-satunya pintu gerbang ekonomi Bengkulu hanya pelabuhan laut. Ia mencontohkan, selama alur pelabuhan tidak dikeruk PT Pathawai Internasional 2008-2011 kondisinya makin memprihatinkan dan bahkan berdampak pada roda ekonomi Bengkulu secara keseluruhan. Setelah dikeruk PT Pelindo dari rencana waktu enam bulan ternyata dapat diselsaikan dalam waktu tiga bulan dengan kedalaman minus 10 meter LWS dari sebelumnya hanya minus 3,5 meter LWS. "Usulan Adpel Bengkulu untuk merehabilitas hutan pembatas kolam pelabuhan itu hendaknya didukung Pemprov Bengkulu dengan mencadangkan dana APBD, sedangkan sisanya minta batu dari pusat," ujarnya. (antara)
BERITA TERKAIT:
|