
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Bayu Krisnamurthi Minta Industri Kelapa Sawit Jangan Dikontrol Asing
MEDAN(EKSPOSnews): Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Bayu Krisnamurthi minta para pengusaha kelapa sawit membuat strategi untuk menentukan arah industri ini ke depan agar bisa tetap bertahan dan tidak lagi di kontrol pihak asing.
”Komoditas ini sudah ada sejak 1848 dibawa dari Afrika Barat ke Kebun Raya Bogor dan bisa diolah mulai 1911 terus berlanjut hingga kita bisa mengembangkan lebih luas dengan sistem PIR (perkebunan inti rakyat) hingga akhirnya menjadi produsen terbesar pada 2006. Namun, keadaan ini bisa saja berubah terlebih lagi sekarang masih dikendalikan asing mulai dari lingkungan hingga harga,” katanya pada Konferensi 100 Tahun Industri Kelapa Sawit Indonesia di Medan, Selasa 29 Maret 2011. Kebesaran industri kelapa sawit juga pernah dialami industri tebu dan teh. Dulu Indonesia pernah menjadi penghasil gula terbesar di dunia, tapi sekarang kesulitan untuk bangkit lagi, begitu juga dengan teh. Penyebabnya adalah tidak ada strategi mempertahankannya. Kondisi serupa jangan sampai terjadi juga pada industri kelapa sawit. Karena itu,berbagai halyangharusdiperbaiki,segera lakukan perbaikan. Adapun upaya yang bisa dilakukan,yaitu memperbaiki arah investasi. Kalau selama ini masih terfokus pada peningkatan produksi,ke depan mulai fokus ke hilirisasi. ”Industri harus dikembangkan, di samping melakukan peremajaan karena kebutuhan dunia akan naik terus,”ucapnya. Bentuk lain investasi, lanjut Bayu,adalah dengan membuka lahan baru di negara-negarayang mulai tertarik mengembangkan sawit,seperti Afrikadan Amerika Latin.Jadi,Indonesiatidakhanya mengundang investor datang, tetapi juga pergi menanamkan modal ke luar negeri. ”Nah,saat itulah dibutuhkan perbankan untuk memberikan kredit kepada pelaku usaha,”ucapnya. Kemudian terkait asing, Bayu menilai sampai sekarang seluruh pihak yang terkait dengan kelapa sawit ini masih minder dengan potensi yang dimilikinya sehingga mudah dikuasai asing.Asing terus mengumbar isu negatif kelapa sawit dari sisi lingkungan.Padahal, Indonesia bukan negara yang tidak perduli dengan hal itu. Terbukti sejak awal pembentukan rountable suistanable palm oil (RSPO), Indonesia turut andil di dalamnya. Dengan bukti itu seharusnya pelaku kelapa sawit mempunyai sikap untuk menanggapi berbagai isu negatif tersebut.Apalagi sudah ada penelitian dari seorang peneliti Belanda menyebutkan bahwa emisi karbon yang bisa dikurangi dengan pengolahan sawit menjadi biofuel mencapai 62%. ”Kita tidak perlu minder. Sebagai lead pada industri sawit seharusnya tidak di kontrol asing. Mulai produksi biofuel, tidak lagi hanya minyak goreng yang kebutuhannya hanya 5 juta ton sehingga bisa meningkatkan nilai tambah industri hilir,”tegasnya. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Pusat Joefly J Bahroeny mengatakan, mereka selalu berusaha membuat kelapa sawit tetap berjaya. Sejak 1911 terbukti industri ini mampu bertahan sampai sekarang. Diakui dia, memang perlu upaya lebih ekstra lagi seperti pengembangan sektor hilir dan lainnya. Hingga akhir tahun ini, luas areal kelapa sawit diperkirakan menyentuk 8 juta hektare (ha) dengan produksi minyak sawit mentah melebihi 22 juta ton dan lebih dari 16 juta ton akan diekspor.”Indonesiamenguasai pangsa pasar sekitar 45% dari total produksi CPO (crude palm oil) dunia,”ucapnya.(si)
BERITA TERKAIT:
|