Sidang FPI di Labuhanbatu, 7 Terdakwa Cabut Keterangan di BAP

Rabu, 11 April 2012 | 06:00:44
Berita Terkait:
LABUHANBATU (EKSPOSnews) : Sebanyak 7 orang terdakwa dari pengurus FPI Labuhanbatu kasus pengrusakan beberapa warung yang diduga tempat maksiat mencabut keterangan mereka yang tercantum dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) di Kepolisian. Ketujuh terdakwa yang mencabut keterangannya di BAP tersebut yakni Sangkot Munthe, Adi Prawira, Isman, Dahlan Nur Putra Hasibuan, Sahiri Dalimunthe, Akmal Ansari Tanjung, dan Ridwan MS.

Pencabutan keterangan di BAP tersebut disampaikan ketujuh terdakwa di hadapan Majelis hakim Dedi, yang menyidangkan perkara tersebut di PN Rantau Prapat Selasa 10 April 2012. Ketua Majelis hakim Dedi lantas kemudian mempertanyakan alasan para terdakwa mencabut keterangan mereka di BAP.

Menurut para terdakwa pencabutan keterangan mereka di BAP tersebut atas dasar adanya iming – iming, rayuan, serta saat diambilnya keterangan dalam berita acara pemeriksaan mereka dalam kondisi lelah. “Saat di BAP kami cukup lelah dan ada bujukan saat itu kepada kami untuk segera menandatangani BAP agar persoalannya cepat selesai makanya kami tandatangani saja biar kami bias cepat pulang,” ujar Ridwan MS salahsatu terdakwa menerangkan kepada Majelis hakim.

Sidang yang mashi mendapat pengawalan ketat dari kepolisian ini kemudian ditunda pada pekan depan untuk membaca tuntutan dari JPU. Sedangkan Tim Pembela FPI Labuhanbatu, yang terdiri dari 6 orang pengacara dari Badan Hukum Front (BHF) DPD FPI Sumut, sesuai siding kepada sejumlah wartawan meminta agar majelis hakim segera memvonis bebas ketujuh terdakwa tersebut.

Sebab menurut para tim kuasa hukum ini, sesuai fakta yang ada, dari keterangan 9 orang saksi yang dihadirkan JPU, yang  dikorek keteranganya telah dipersidangan, serta alat bukti yang dihadirkan, telah membuktikan ketujuh terdakwa tidak ada melakukan pengrusakan sama sekali.
“Tiada satupun alat bukti yang sah sebagaimana diatur dalam pasal 184 ayat (1) KUHP yang dapat dijadikan dasar untuk menghukum para terdakwa,” kata tim kuasa hukum yang diwakili Mahmud Irsad Lubis.

Sehingga kata dia dakwaan JPU sebagai mana pasal 160 Jo pasal 65 ayat (1) dakwaan pertama, dan pasal 170 ayat (1) jo pasal 55 ayat (1) ke 2 KUHPidana Jo pasal 65 ayat (1) KUHPidana dakwaan kedua, serta pasal 406 ayat (1) jo pasal 55 ayat (1) ke 2 KUHPidana jo pasal 65 ayat (1) KUHpidana dalam dakwaan ketiga semuanya gugur demi hukum.

Kronologis Versi FPI dan Fakta Sidang Tim Kuasa hukum FPI Labuhanbatu mengungkapkan terjadinya aksi sweeping oleh FPI Labuhanbatu berdasarkan fakta dipersidangan yang dikutip mereka, berawal ketika sejumlah masyarakat sidorukun mengadukan adanya persoalan tempat maksiat dan prostitusi yang sudah meresahkan yang beroperasi didaerah mereka kepada DPW FPI Labuhanbatu.

Menindaklanjuti persoalan itu, DPW FPI Kemudian mengirimkan surat pengaduan hingga tiga kali kepada Bupati Labuhanbatu dan ditembuskan kepada instansi terkait. Namun tidak diperoleh tindakan serius. Sedangkan dari surat balasan Bupati Labuhanbatu melalui Sekdakab hanya menyatakan akan melakukan penertiban dan penutupan lokasi tersebut tanpa menentukan batas waktu.

Dikarenakan tidak ada tanggapan serius dari Pemkab, akhirnya pada bulan Februari 2012 lalu FPI kemudian menghubungi Kasatpol PP, dan saat itu Kasatpol PP menjawab akan melakukan penertiban pada tanggal 5 Maret 2012 namun sayangnya hingga tanggal tersebut penertiban tidak juga dilakukan.

Tidak adanya ketegasan dari Pemkab Labuhanbatu DPW FPI kemudian menggelar rapat yang pada intinya FPI akan melakukan penertiban lokasi maksiat dengan mendatangi lokasi dan meminta pemiliknya memberikan pernyataan tertulis untuk menutup warung tempat maksiat tersebut. Sehingga pada tanggal 9 Maret 2012 sekitar pukul 16.30 wib. 15 orang anggota FPI kemudian meluncur ke dusun II Desa Sidorukun Kecamatan Pangkatan Labuhanbatu.

Di lokasi itu masyarakat setempat sudah terlihat berkumpul menunggu para anggota FPI untuk menunjukan lokasi warung maksiat. Namun menurut para tim kuasa hukum FPI ini ternyata masyarakat sudah terlebih dahulu menghancurkan 2 tempat yang diduga lokasi maksiat yang pemiliknya telah kabur sebelumnya dengan meninggalkan sejumlah gelas yang masih berisi minuman keras. Sedangkan kata mereka lokasi ketiga yang menjadi target, tidak hancur oleh aksi massa sebab saat itu 15 anggota FPI turut mendatangi lokasi dan bertemu dengan pemiliknya dan pemilik warung tersebut bersedia menandatangi surat pernyataan untuk menutup sendiri warung tersebut. “Jadi sebenarnya masyarakat yang emosi dan resah atas warung warung tersebut, dan sudah beberapa kali diperingatkan dengan surat maupun teguran langusng oleh tokoh masyrakat setempat,” terang Husni Thamrin Tanjung  salah satu tim pembela FPI.(fh)

BERITA LAINNYA
Gubernur Riau: Pelaku Mutilasi Harus Dihukum Berat
Kamis, 21 Agustus 2014 | 03:37:55
Peredaran Ganja: Jabar No. 2, Aceh Tetap No. 1
Rabu, 20 Agustus 2014 | 05:24:15
Polisi Kembali Temukan Ganja di Kampus Unas
Selasa, 19 Agustus 2014 | 16:00:01
Susno Duadji Dapat Remisi Lagi
Senin, 18 Agustus 2014 | 02:18:41
ICW: Kasus Korupsi di 2014 Meningkat
Minggu, 17 Agustus 2014 | 17:48:28
Kepala Polsek di Bima Tewas Ditembak
Minggu, 17 Agustus 2014 | 11:46:52
Ratu Ekstasi Riau Dibekuk Polisi
Sabtu, 16 Agustus 2014 | 08:53:48
BERIKAN KOMENTAR
Top