
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Depresi, Ibu Polisi yang Menembak Rekannya di Medan
MEDAN(EKSPOSnews): Kelalaian Brigadir Polisi Satu (Briptu) Ikhsan Fuadi saat
membersihkan senjata api hingga menewaskan rekannya Briptu Leonardo
Sitanggang menjadi penyesalan bagi keluarga.
Bahkan, ibunda Ikhsan mengalami depresi berat. Seorang kerabat Ikhsan, Hendrik Syahputra,31,mengatakan, kondisi keluarga bintara polisi yang baru pulang bertugas dari Aceh itu sedang terguncang berat. Selain ibunya, beru Tarigan, mengalami depresi, sang ayah juga sedang mengalami stroke berat. “Kemarin ibu si Ikhsan tidak mau berbicara kepada siapa pun. Sehabis pulang kerja langsung masuk ke kamar. Keesokan harinya juga seperti itu, tidak mau berbicara dan langsung ke Polda Sumut untuk melihat anaknya,” paparnya saat ditemui di kediaman Ikhsan di Kompleks Perumahan Polri Sri Gunting Blok H No 27, Kecamatan Medan Sunggal,Kamis 16 Februari 2012. Apalagi saat mengetahui Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumut Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Wisjnu Amat Sastro telah mengusulkan pemecatan bagi Briptu Ikhsan, keluarga makin terpukul. Menurut Hendrik, orang tua Ikhsan sudah mengetahui hal itu. Dia sendiri tidak bisa mengomentarinya. “Rasa penyesalan pasti ada dari pihak keluarga Briptu Ikhsan. Menurut saya, ibunda Ikhsan sangat menyesali perbuatan ananknya,”pungkasnya. Sementara itu,beru Tarigan menolak menerima wawancara sejumlah wartawan di rumahnya kemarin. Sembari mengusir wartawan, dia agar peristiwa yang menimpa Briptu Ikhsan tidak lagi diberitakan. Di tempat terpisah, Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro mengimbau seluruh anggota Polri agar dapat memahami Standar Operasional Prosedur (SOP) penggunaan senjata api (senpi). Ini dilakukan mengingat semakin meningkatnya anggota Polri yang tewas akibat lalai dalam menggunakan senpi. Selain SOP, juga perlu diperhatikan psikologi anggota. “Ini harus diperhatikan lebih lagi karena fatal akibatnya jika tidak dipahami,” katanya di Medan kemarin. Kepala Satuan (Kasat) Brigade Mobil (Brimob) Polda Sumut Komisaris Besar (Kombes) Pol Setyo Boedi mengatakan, harus ada tes psikologi terhadap anggota Polri dan lulus dalam uji kemampuan menggunakan senjata api. “Ada rekomendasi yang harus dicukupi untuk anggota yang diberikan senjata. Ada ketentuan senjata harus bersih, sebelum berangkat melaksanakan tugas dalam posisi berisi dan terkunci. Pulang juga harus dikosongkan (amunisi),” tukasnya. Dalam uji keterampilan, pimpinan diharapkan dia, benar- benar mempertimbangkan kelayakan anggota untuk diberikan senjata api. “Contohnya, kasih sepuluh butir peluru, kalau sasaran tembak tidak tepat semua berarti enggak lulus. Jadi perlu dipertimbangkan, jangan asal saja (menyerahkan senjata api),” katanya. Jenazah Briptu Leo Dikebumikan di Makam Pahlawan Sementara itu, jenazah Briptu Leonardo Sitanggang dimakamkan di Makam Pahlawan Kota Binjai, Kamis 16 Februari 2012. Prosesi pemakaman dipimpin Direktur Sabhara Polda Sumut Kombes Pol Darma Sinuraya. Ratusan pelayat, termasuk rekan mendiang di kesatuan hadir mengikuti prosesi pemakaman. Tujuh tembakan salvo mengiringi masuknya peti jenazah ke liang lahat.Isak tangis pun keluarga pun tak terbendung. Usai pemakaman, Darma Sinuraya mengatakan,kematian anggota Polri akibat tertembak senjata teman sendiri menjadi pelajaran paling berharga. “Terutama bagi personel Direktorat Sabhara Polda Sumut untuk kembali berhati-hati dan berlatih dalam mempergunakan senjata api,”katanya.(sindo)
BERITA TERKAIT:
|