
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Bank Mandiri Genjot Kredi untuk Pelaku UMKM di Riau
PEKANBARU (EKSPOSnews): Bank Mandiri menargetkan untuk menyalurkan kredit untuk UMKM sebesar Rp1,5 triliun pada tahun 2012 di Provinsi Riau.
"Penyaluran KUR tahun ini ditargetkan naik sekitar 30 persen dibandingkan tahun 2011," kata Relationship Manager Bank Mandiri Cabang Pekanbaru, Andri Utama, di Pekanbaru, Rabu 8 Februari 2012. Ia menjelaskan, Mandiri pada tahun 2011 telah mengucurkan kredit bagi UMKM sebesar Rp1,2 triliun. Menurut dia, pada tahun ini Mandiri menambah jumlah dana untuk penyaluran kredit UMKM sebesar Rp300 juta dibandingkan tahun lalu. Ia mengatakan, peningkatan target tersebut untuk membantu pembiayaan bagi UMKM potensial agar bisa meningkat usaha menjelang penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII di Riau pada September 2012. "Secara umum kredit yang diperuntukkan bagi UMKM yang bergolongan makro, yakni bermodal dari Rp100 juta hingga Rp5 miliyar," katanya. Meski begitu, ia mengatakan sektor utama yang menjadi sasaran penyaluran kredit adalah usaha perkebunan kelapa sawit dan karet rakyat. Pagu anggaran kredit untuk sektor perkebunan itu jumlahnya mencapai 30 persen. "Melihat prospeknya kedepan, sektor perkebunan masih mendominasi kredit UMKM yang kami gelontorkan, terutama perkebunan sawit dan karet milik pribadi," kata Andri. Berdasarkan data Bank Indonesia Pekanbaru, realisasi kredit perbankan Riau tahun 2011 mencapai angka Rp36,2 triliun. Angka tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 23,5 persen dibandingkan dengan tahun 2010 yang hanya sebesar Rp29,1 triliun. Dari jumlah itu, realisasi untuk kredit UMKM mencapai Rp13,430 triliun. Dari seluruh kredit yang disalurkan tersebut, paling besar untuk modal kerja yakni sebesar Rp9,13 triliun. Kemudian, pengucuran kredit UMKM untuk investasi tercatat mencapai Rp4,29 triliun. Sedangkan, tingkat kesehatan penyaluran kredit UMKM dilihat dari jumlah kredit bermasalah (non performing loan/NPL) relatif rendah yakni 2,4 persen.(antara)
BERITA TERKAIT:
|