Kamis, 24 Mei 2012
Follow: 
Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto,medan kini,terkini,medan, sumatera utara,sumut,nasional,ekonomi,sosial,budaya
  • Goreng Ubi di Depan BPN Sumut
    Bentrok Lahan Perkebunan
    Bom Rakitan Aktif Ditemukan di Aceh
    Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
    Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
    Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
    Keripik Nangka Dikembangkan di Aceh Tengah
    BANDA ACEH (EKSPOSnews): Usaha keripik nangka yang mulai dikembangkan di Kabupaten Aceh Tengah dinilai mempunyai potensi pasar yang menjanjikan, karena makanan ringan tersebut cukup diminati masyarakat.

    Taupik, pengusaha kripik nangka di Takengon, Sabtu 4 Februari 2012 menyatakan, selain cukup diminati, usaha ini juga telah membuka peluang usaha masyarakat setempat yang masih tergantung pada usaha perkebunan kopi.

    Dikatakan, meski usaha kripik nangka masih dalam skala home industri atau usaha rumahan, namun mempunyai potensi pasar yang menjanjikan.

    Ia menyatakan, pangsa pasarnya berasal dari berbagai kalangan, karena rasa yang renyah dengan aroma khas membuat makanan ringan tersebut sangat diminati.

    Taupik menuturkan, saat ini usahanya memproduksi rata-rata delpan kilogran per hari dengan satu mesin pengolah hingga penggoreng, sedangkan harganya bervariasi tergantung jenis bahan baku buah nangka.

    Untuk kripik jenis super yang berasal dari nangka yang super dengan cita rasa manis dan mempunyai daging tebal satu ons dijual Rp8.000, sedangkan untuk keripik nangka jenis sortiran atau jenis asalan yang berasal dari buah nangka asalan dijual eceran Rp1.000 hingga Rp2.000/bungkus.

    Jenis super dipasarkan melalui supermarket, sedangkan untuk asalan dipasarkan di kios-kios seputaran Takengon. "Kita juga telah menjual keluar daerah terutama jenis kripik super," ujar Taupik.

    Kendala usaha kripik nangka, kata Taupik, ketersediaan bahan baku.

    "Kalau lagi musim buah nangka, kita bisa memproduksi banyak, namun bila lagi tidak musim, kita kesulitan bahan baku hingga kadang tidak produksi sama sekali," katanya.

    Untuk ketersedian bahan baku buah nangka, Taupik membelinya dari petani di sekitar tempat usahanya.

    "Tidak ada petani khusus yang membudidayakan pohon nangka, biasanya berasal dari petani kopi yang mempunyai pohon nangka untuk pelindung kopi," sebutnya.

    Usaha ini, kata Taupik, mempunyai prospek cerah, namun umumnya terkendala modal untuk mesin pengolahan.

    Harga mesin per unitnya berkisar antara Rp40 juta hingga Rp60 juta. "Kita berharap kepada pemerintah membantu modal untuk pengembangan usaha ini," harap Taupik yang saat ini telah memperkerja puluhan orang dalam usahanya.(antara)



    Share |
    Leave your comment.
    Name*:
    Email*:
    Website:
    Comment*:
    : * Type the captcha!