
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Jumlah Koperasi di Bangka Belitung Meningkat
PANGKALPINANG (EKSPOSnews): Jumlah koperasi di Provinsi Bangka Belitung, selama 2011 meningkat 103 unit atau menjadi 937 unit dibandingkan 2010 sebanyak 834 unit.
"Kami terus mendorong kuantitas dan kualitas koperasi ini melalui kemudahan memperoleh pinjaman permodalan di perbankan, pembinaan dan pelatihan kepada pengurus, anggota koperasi untuk mampu mandiri dan berdaya saing," ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Babel, Budiman Ginting di Pangkalpinang, Sabtu 4 Februari 2012. Ia menjelaskan, koperasi itu umumnya bergerak di sektor usaha simpan pijam di bidang pertanian, pertambangan dan penggalian, simpan pijam unit desa, industri pengolahan, pedagangan besar dan eceran, transportasi, pergudangan dan komunikasi dan sektor simpan pinjam bidang usaha lainnya dari tahun ke tahun cukup menggembirakan termasuk dari segi jumlah anggota juga meningkat. "Pada tahun ini, kami menargetkan pertumbuhan koperasi meningkat lagi dari tahun sebelumnya, termasuk dari segi kualitas manajemen pengelolaan dan kesejahteraan anggotanya harus lebih baik," ujarnya. Sementara itu, kata dia, jumlah koperasi yang tidak aktif selama 2011 mengalami penurunan sebanyak 13 unit atau sebanyak 224 unit jika dibandingkan 2010 sebanyak 237 unit koperasi. "Permasalahan koperasi yang tidak aktif ini, terutama manajemen koperasi yang tidak baik karena masih rendahnya sumber daya manusia (SDM) pengurus koperasi tersebut dalam menjalankan usaha," katanya. SDM pengurus koperasi harus berkualitas, jujur dan amanah karena uang koperasi tersebut tidak dijamin pemerintah tetapi dipegang oleh pengurus, kalau pengurus tidak jujur dan amanah maka merugikan anggota koperasi tersebut. Selain itu, kata dia, koperasi ini tidak aktif karena kredit macet, uang tidak berjalan dan anggota koperasi tersebut tidak membayar pinjaman dan simpanan wajib. "Sebagian besar koperasi ini tidak aktif karena pengurusnya tidak jujur dan amanah, banyak uang simpanan wajib anggotanya dan keuntungan usaha koperasikan digelapkan, sehingga koperasi tersebut sulit untuk berkembang, akhirnya usahanya berhenti total," ujarnya. Namun demikian, kata dia, pihaknya terus mendorong koperasi yang tidak aktif ini kembali aktif menjalankan usahanya, melalui pembinaan dan pelatihan SDM pengurus dan anggota koperasi. Selain itu, untuk menutupi lemahnya akses permodalan, kami terus berupaya agar koperasi ini dapat dukungan perbankan melalui Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) sehingga koperasi tersebut mudah mendapatkan pinjaman permodalan untuk mengembangkan usaha, karena selama ini koperasi masih banyak yang kesulitan menembus akses perbankan karena terbentur syarat yang ketat dari bank. "Masalah modal atau pembiayaan ini merupakan persoalan klasik yang dari dulu masih terjadi, maka kami mencarikan solusinya secara kontinyu lewat program pembinaan yang berkelanjutan dan menjalin kemitraan dengan perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR)," ujarnya.(antara)
BERITA TERKAIT:
|