
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Modal Kerja Kredit Terbesar Perbankan Sumut
MEDAN (EKSPOSnews): Sektor modal kerja masih tetap terbesar menyerap kredit yang disalurkan perbankan Sumatera Utara mencapai Rp53,94 triliun.
"Dari total kredit yang disalurkan perbankan Sumut pada 2011 sebesar Rp106,55 triliun, kredit untuk modal kerja paling besar mencapai Rp53,94 triliun. Hal itu menggembirakan karena menunjukkan sektor riil bergerak," kata Peneliti Ekonomi Madya Senior, Mikael Budisatrio, di Medan, Selasa 31 Januari 2012. Perbankan memang diharapkan bisa terus meningkatkan penyaluran kredit khususnya untuk modal kerja dan investasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Meski BI tetap meminta perbankan berhati-hati dalam menyalurkan kredit untuk menghindari risiko kredit macet. Meski penyaluran kredit meningkat, namun kredit bermasalah di perbankan Sumut relatif rendah atau 2,28 persen. Mikael menambahkan, sektor kedua terbesar penyerap kredit adalah kredit konsumsi sebesar Rp30,10 triliun, disusul investasi Rp22,51 triliun. "Diharapkan kredit untuk investasi bertambah besar sehingga sektor riil semakin bergerak,"katanya. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Parlindungan Purba mengatakan, pengusaha hingga tahun ini masih ragu-ragu mengembangkan bisnis atau investasi karena berbagai faktor seperti krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa yang membuat permintaan dan harga jual berbagai barang berfluktuasi cepat dengan tren menurun. "Jadi wajar kalau penyerapan kredit investasi masih belum menunjukkan kenaikan signifikan,"katanya. Kekhawatiran pengusaha meningkatkan investasi juga karena masih belum memadainya infrastruktur seperti gas dan listrik. Pasokan gas misalnya dipastikan PT Perusahan Gas Negara juga tetap tidak memadai pada 2012, bahkan volume maupun tekanannya diperkirakan semakin kecil dari 2011. "Kalau investasi diperbesar, sementara pemasaran dan harga jual produk tidak terjamin, tentunya pengusaha merugi. Kerugian bisa semakin besar karena akibat keterbatasan gas, biaya produksi perusahaan meningkat," katanya.(antara)
BERITA TERKAIT:
|