• Home
  • Pojok
  • Kehamilan Remaja di Kalbar Meningkat

Kehamilan Remaja di Kalbar Meningkat

Rabu, 17 Juli 2013 | 15:12:43
PONTIANAK (EKSPOSnews): Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan KB Nasional Provinsi Kalimantan Barat, Dwi Listyawardani mengungkapkan adanya kecenderungan kenaikan angka kehamilan remaja untuk wanita usia 15 tahun - 19 tahun di provinsi itu.

"Ini perlu menjadi perhatian dan kepedulian semua pihak," kata Dwi Listyawardani di Pontianak, Rabu 17 Juli 2013.

Menurut dia, berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2002, persentase kehamilan remaja di Kalbar tercatat 9,3 persen. Lima tahun kemudian, atau pada 2007, naik menjadi 11,6 persen.

"Tahun 2012, sedang dilakukan perhitungan. Tetapi kenaikan dari tahun 2002 ke tahun 2007, terbilang tinggi, dua persen lebih," kata dia.

Metode pencatatan yang dilakukan, wanita di usia 15 tahun - 19 tahun yang disurvei, ditanya apakah sudah hamil atau sudah punya anak. Pemicunya, selain usia pernikahan yang dini, juga akibat dari pergaulan bebas.

Responden tersebar di seluruh Kalbar, tanpa terkonsentrasi khusus di perkotaan atau perdesaan. Pihak yang terlibat dalam survei, dari BPS, BKKBN dan Kementerian Kesehatan.

Dwi Listyawardani menambahkan, saat ini BKKBN tengah mendorong berbagai program yang berkaitan dengan remaja dan kesehatan reproduksi.

"Dengan Brigadir Mobile (Brimob) Polda Kalbar, kita akan kerja sama, mengadakan program generasi berencana ke sekolah-sekolah," ujar dia.

Ia mengakui, usia remaja dan muda rentan akan berbagai pengaruh negatif dari globalisasi yang semakin mewabah hingga ke pelosok desa.

"Mereka yang harus diberi bekal agar tahu dampak dari segi kesehatan reproduksi kalau menikah atau hamil terlalu dini," ujar dia.

Ada tiga ancaman bagi generasi muda, yakni seksualitas, narkotika dan HIV/AIDS. "Mereka sangat rentan terkena, sehingga perlu usaha terus menerus dan melibatkan semua pihak," katanya.

Selain itu, kalau terjadi kehamilan dini, maka yang paling terkena dampak adalah remaja perempuan. "Mereka yang harus menanggung risiko lebih berat," kata Dwi Listyawardani.

Ia juga berharap, masyarakat terutama orang tua tidak membiarkan anaknya bergaul terlalu bebas. "Jangan sampai ada kesan pembiaran," katanya. (ant)

BERITA LAINNYA
Guru Ngaji di Batam Cabuli Muridnya
Minggu, 21 September 2014 | 06:38:08
Lagi, Balita Alami Pelecehan Seksual
Kamis, 18 September 2014 | 05:42:01
Gadis Australia Ini Kecanduan Perbesar Payudara
Selasa, 16 September 2014 | 09:28:01
Tenggak Miras Oplosan, Nyawa Benny dan Ronald Melayang
Selasa, 16 September 2014 | 04:15:20
Diceraikan Suami Gara-gara Selingkuh dengan Smartphone
Senin, 15 September 2014 | 07:56:01
Biadab, Pejabat Malang Perkosa Pembantu
Senin, 15 September 2014 | 06:32:40
Gubernur Riau Annas Maamun Laporkan Balik Wanita WW
Kamis, 11 September 2014 | 14:56:51
Sepasang Kekasih di Aceh Tidur Sekamar, Digrebek Warga
Rabu, 10 September 2014 | 15:16:00
PNS Doyan Selingkuh Dilaporkan Istri ke Polisi
Senin, 8 September 2014 | 03:07:01
BERIKAN KOMENTAR
Top