Dikti Perketat Syarat Menjadi Profesor

Minggu, 16 Desember 2012 | 08:52:04
SEMARANG (EKSPOSnews): Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memperketat syarat pengusulan calon guru besar oleh perguruan tinggi mulai 2013.

"Pertimbangan paling mendasar dari pengetatan persyaratan ini berkaitan dengan karakter," kata Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ditjen Dikti Supriadi Rustad di Semarang, Sabtu 15 Desember 2012.

Hal tersebut diungkapkannya usai seminar "Peran MIPA Dalam Peningkatan Kualitas Hidup dan Pengembangan Pendidikan Karakter" yang digelar Fakultas MIPA Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Menurut Guru Besar Unnes itu, guru besar memang berhak mendapatkan tunjangan besar sehingga jangan sampai seseorang semata-mata menginginkan mendapat tunjangan besar itu dengan cara tidak benar.

"Cara yang tidak benar, misalnya plagiarisme. Selama ini, aturan-aturannya (pengangkatan guru besar, red.) sudah ditegakkan. Namun, mulai 2013 mendatang memang ada persyaratan yang lebih," katanya.

Ia mengatakan salah satu pengetatan syarat menjadi guru besar adalah publikasi karya ilmiah di jurnal internasional, sebab dulunya minimal cukup dengan publikasi karya ilmiah pada jurnal nasional.

Selama ini, kata dia, perguruan tinggi juga sudah memperketat pengusulan guru besarnya sehingga mengeliminasi yang persyaratannya belum terpenuhi, tetapi ada pula yang telanjur diusulkan ke Dikti.

"Tim kami akan memverifikasi secara ketat. Pengusulan jabatan mulai lektor kepala hingga guru besar yang masuk ke Dikti setiap bulannya mencapai 500 nama, sementara guru besar sekitar 20-30 nama/bulan," katanya.

Ia mengatakan dari usulan calon guru besar yang masuk belum tentu semuanya lolos, misalnya karena ditemukan pelanggaran atau persyaratannya tidak terpenuhi. "Yang lolos paling hanya sekitar 30 persen," katanya.

Ditanya seandainya ada yang sudah mendapat guru besar tetapi terbukti plagiat, ia menegaskan jika memang terbukti plagiat yang bersangkutan akan diberikan sanksi berupa pencabutan gelar guru besar.

"Kan sudah pernah ada guru besar yang dicabut gelarnya. Itu bagi yang sudah guru besar, jika masih dalam usulan tetapi terbukti plagiat juga mendapatkan sanksi. Sanksinya pembinaan dua tahun oleh PT," katanya.

Apabila perguruan tinggi belum memberikan sanksi kepada yang bersangkutan, kata Supriadi, perguruan tinggi justru yang diberi sanksi, yakni usulan-usulan jabatan yang diajukan ke Dikti tidak akan dilayani.

Sementara itu, Rektor Universitas Diponegoro Semarang Prof Sudharto P. Hadi menyambut positif pengetatan syarat calon guru besar oleh Dikti, mengingat guru besar merupakan jabatan akademik yang tertinggi.

"Guru besar menjadi cermin, panutan, dan tuntunan bagi para dosen. Tahun ini, Undip mengusulkan enam nama calon guru besar ke Dikti. Yang sudah disetujui dua nama, sisanya masih dalam proses," katanya.(antara)

BERITA LAINNYA
Ribuan Pelajar Labuhanbatu Terima Beasiswa
Rabu, 4 Maret 2015 | 05:51:37
Unand Wisuda Ribuan Sarjana
Sabtu, 28 Februari 2015 | 16:02:25
Sekolah Mitra USAID Unjuk Kebolehan
Jumat, 27 Februari 2015 | 12:28:26
PAUD Terintegrasi di Padang
Rabu, 25 Februari 2015 | 11:44:16
Kabupaten Bangka Salurkan Beasiswa
Senin, 23 Februari 2015 | 12:56:56
Sekolah Sehat di Banjaranbaru
Kamis, 19 Februari 2015 | 14:21:36
UMSU Gandeng Lantamal Belawan
Selasa, 10 Februari 2015 | 06:06:37
Banyak Perguruan Tinggi di Sumut Tak Terakreditasi
Selasa, 10 Februari 2015 | 06:04:42
Calon Rektor Unimed Jangan yang Pernah Plagiat
Senin, 9 Februari 2015 | 06:14:08
Avrist Dukung Program Pendidikan Anak Usia Dini
Kamis, 5 Februari 2015 | 14:46:43
BERIKAN KOMENTAR
Top