
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Gedung SD Roboh di Taput, Satu Anak Tewas dan Dua Terluka
TAPUT (EKSPOSnews): Gedung SD Negeri 174583 di Desa Sigotom Julu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Selasa 6 Desember 2011 rubuh. Akibatnya, seorang siswa tewas dan dua lainnya luka dan patah tulang. Korban tewas bernama Fransisco Tambunan,7,warga Desa Sigotom Julu. Putra dari Lancar Tambunan ini diketahui berangkat ke sekolah sekitar pukul 06.40 WIB.
Di sekolah dia bertemu dua temannya, Syaloom Tambunan, 10,dan LW Listarto,8. Menurut saksi mata,ketiganya masuk ke salah satu gedung di kompleks SD Negeri 174583.Bangunan itu ternyata sedang direnovasi, bahkan atapnya sudah dibongkar. Tidak lama kemudian terdengargemuruh. Bangunanituruntuh. Ketiga siswa memekik. Mendengar gemuruh dan jeritan,seorang guru yang tinggal di kompleks sekolah itu langsung menuju lokasi.Dia kemudian mengangkat tumpukan beton serta plafon yang menimpa korban. Ketiga korban sempat dilarikan ke Pusat Kesehatan Desa (Puskedes) di daerah yang tergolong terpencil itu. Karena kondisinya sudah terlalu kritis, pihak sekolah dan keluarga membawa ketiganya ke RSU Swadana Tarutung yang jaraknya lebih 40 km dari lokasi kejadian. “Melihat kondisinya sangat memprihatinkan, saya memerintahkan agar ketiga korban dilarikan ke RSU di Tarutung,”paparParnigotan Tambunan,salah seorang guru. Di perjalanan menuju rumah sakit, namun belum jauh desa mereka, Fransisco Tambunan mengembuskan napas terakhir. Selanjutnya, jenazah bocah itu dimakamkan di pemakaman keluarga Tambunan sekitar pukul 15.00 WIB kemarin. Sementara itu, pihak keluarga dan guru memutuskan tetap membawa Syaloom dan Listarto ke RSU Swadana Tarutung, meskipun kondisi jalan rusak parah. Sesampainya di Tarutung, kedua bocah itu langsung mendapatkan pertolongan. Listarto dinyatakan mengalami patah tulang,sedangkan Syaloom mengalami cedera akibat benturan di kepala. Saat kejadian, guru yang ada di sekolah itu juga sempat panik.Sebab,Kepala SD Negeri 174583 T Sianipar langsung pingsan di tempat kejadian saat mengetahui tiga siswa tertimpa gedung yang akan dibongkar itu. Bahkan sampai berita ini dikirimkan, dia belum dapat dimintai keterangan karena masih menjalani perawatan medis di Puskesmas Pangaribuan. “Biasanya kita kantiba di sekolah sekitar pukul 07.00 WIB untuk bariskan siswa dan melakukan senam pagi. Namun kami juga tidak tahu kenapa para siswa tersebut datang lebih awal tidak seperti biasanya,” kata Parnigotan. Dia menjelaskan bahwa atap gedung sekolah tersebut sudah dibuka sejak sepekan lalu. Namun, dia mengaku tidak mengetahui kenapa bangunan permanen tersebut belum dirubuhkan, sehingga hanya menyisakan tembok dengan kusen serta plafon. “Gedung itu memang sudah kami khawatirkan,bahkan menunggu selesainya pembangunan gedung lokal baru, kami sudah memindahkan lokasi belajar ke gereja yang ada di belakang sekolah,”paparnya. Sementara itu, keluarga korban belum ada yang dapat dimintai komentar.Orang tua Syaloom dan Listarto masih mengikuti proses perawatan medis anak mereka di Tarutung. Sementara itu, keluarga Fransisco masih dalam suasa berduka. Sejumlah warga sangat menyesalkan kelalaian oknum yang melakukan pembongkaran gedung sekolah itu. Pasalnya, sekeliling bangunan yang akan dikerjakan menggunakan Dana Alokasi Kusus (DAK) tersebut tidak dikelilingi penutup bangunan. “Anehnya lagi sejumlah pekerja tidak terlihat saat peristiwa itu terjadi. Makanya kita heran dengan semua ini,” ujar seorang warga yang enggan menyebutkan namanya. Pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Pangaribuan sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).Namun, mereka belum menetapkan tersangka di balik rubuhnya bangunan sekolah yang menewaskan seorang siswa itu.“Kami masih menyelidiki sampai tuntas kasus ini. Asumsi kita, bangunan rubuh karena kuatnya angin yang menggoyang dinding akibat dibukanya atap lokal tersebut,”ucap Kapolsek Pangaribuan Ajun Komisaris Polisi (AKP) Kondar Simanjuntak. Menurut Kondar, peristiwa ini murni diakibatkan kelalaian. Namun, mereka belum dapat menetapkan tersangka karena kepala SD tersebut belum dapat dimintai keterangan. “Kalau dari pembangunan gedung sekolah kita belum dapat pastikan apakah ada keterkaitan dengan rubuhnya gedung tersebut. Pasalnya gedung baru dan gedung lama berada pada posisi berbeda. Karena itu kita berharap masyarakat juga bersabar menunggu hasil penyelidikan polisi,” ujarnya. Ketua Komisi A DPRD Taput Chales Simanungkalit sangat menyesalkan peristiwa itu dan kecewa dengan pihak rekanan yang membangun sekolah. Dia menduga pembongkaran atau pembangunan itu tidak mempertimbangkan area aman bagi siswa. “Saya sangat terkejut dan sangat prihatin dengan ini,karena itu kami meminta pihak yang berwajib usut tuntas rubuhnya gedung ini. Jika dilakukan pembongkaran, seharusnya ada pertimbangan dampak dan risiko,” paparnya. Politikus asal Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) ini menyatakan legislatif akan mempertanyakan hal ini kepada eksekutif.Pemkab Taput juga didesak mengajukan rencana pembenahan seluruh gedung sekolah yang kondisinya memprihatinkan agar anggarannya ditampung dalam APBD tahun depan, sehingga peristiwa serupa tidak terulang kembali. “Jelas ini akan kita pertanyakan. Siapa kontraktornya dan bagaimana kondisi bangunnya juga menjadi pertanyaan bersama,”katanya. (sindo)
BERITA TERKAIT:
|