Rabu, 23 Mei 2012
Follow: 
Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto,medan kini,terkini,medan, sumatera utara,sumut,nasional,ekonomi,sosial,budaya
  • Bentrok Lahan Perkebunan
    Bom Rakitan Aktif Ditemukan di Aceh
    Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
    Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
    Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
    Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
    Pelatihan Jurnalisme Perspektif Gender FJPI di Medan
    MEDAN(EKSPOSnews): Jurnalisme perspektif gender harus menjadi kode etik. Perspektif ini perlu dimasukkan untuk menghindari pemberitaan-pemberitaan yang diskriminatif terhadap perempuan.

    Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan, Mariana Amiruddin mengatakan, dengan perspektif gender, diharapkan setiap pemberitaan perempuan di media bisa dipertanggungjawabkan dan lebih objektif.Publik tidak mengetahui secara jelas fakta di lapangan sehingga media yang harus menjelaskan secara benar informasi ini dengan memperhatikan perspektif gender.

    “Dengan perspektif gender itu membawa pemberitaan perempuan supaya lebih objektif,” ujar lulusan Program Studi Kajian Gender Pascasarjana Universitas Indonesia ini saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Jurnalisme Perspektif Gender menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-4 Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) di Grand Swiss- BelHotel Medan, Sabtu 3 Desember 2011.

    Sebagai jurnalis,lanjutnya, perempuan mempunyai peluang besar untuk mengubah semua mitos negatif dan salah yang seharusnya disyukuri oleh perempuan. Baik keperawanan, menoupase, serta kecantikan. Dia mencontohkan mitos perkosaan. Selama ini penyebab perkosaan sering kali disebutkan karena perempuan yang menggoda pria dengan tubuhnya dan juga perempuan yang tidak bisa menjaga diri.

    Padahal secara alami, pria tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya. Perempuan kemudian menyalahkan diri sendiri atas perkosaan yang terjadi. Banyak kasus korban perkosaan yang akhirnya berakhir dengan korban yang dinikahkan dengan pelaku pemerkosanya. Selain itu, korban perempuan dikucilkan karena dianggap sudah rusak dan kotor. “Padahal faktanya korban banyak dipilih berdasarkan kesempatan dan kerentanan kasus.

    Seperti kasus pemerkosaan di angkutan umum di Jakarta beberapa waktu lalu.Pemerkosaan ini sudah direncanakan dahulu, tersangka telah mengintai korbannya sejak lama,” ucap penulis buku berjudul Perempuan Menolak Tabu ini. Untuk itu, jurnalis khususnya perempuan, harus kritis terhadap penulisan berita dan memahami fakta-fakta ketimpangan relasi gender di masyarakat dalam membaca atau memantau persoalan perempuan.

    Kemudian,menemukan faktafakta ketimpangan tersebut dalam berbagai peristiwa, lalu menuliskan atau memberitakannya dengan benar. “Jurnalis juga harus memiliki kapasitas pengetahuan gender secara khusus dan pengetahuan hak asasi manusia secara umum dan menyadari profesi sebagai bagian dari agen perubahan,”pungkasnya.

    Di kesempatan yang sama, wartawan senior Harian Kompas, Maria Margaretha Hartiningsih mengungkapkan persoalan di media adalah yang benar dan yang salah.Jurnalis harus bertanggung jawab atas apapun yang ditulis.“Konflik akan menjadi besar dan kecil tergantung bagaimana wartawan menulis berita,”terang penerima penghargaan Yap Thiam Hien untuk tahun 2003 ini.

    Maria mengatakan,beberapa peristiwa kekerasan yang belakangan ini terjadi adalah contoh paling baik untuk mempraktikkan jurnalisme damai. Seperti konflik di Papua yang tak kunjung selesai. ”Persoalan yang harus dilihat, bukan hanya Papua harus merdeka apa tidak.Namun harus dilihat lebih dekat permasalahan sebenarnya di lapangan, baik dari sisi masyarakat bawah hingga atas,”ucap dia.

    Memang,biaya untuk melakukan jurnalisme damai itu sangat mahal.Namun,jika jurnalisme damai ini dapat dilaksanakan dengan baik, maka jurnalisme perspektif gender tidak perlu dilakukan.“Masalahnya karena selama ini cover both side pemberitaan banyak yang mengadu domba, maka jurnalisme berperspektif gender harus dilakukan,”tuturnya. Maria juga mengungkapkan jurnalis juga harus mengetahui permasalahan terlebih dahulu sebelum ke lapangan agar tidak menjadi corong.

    Untuk itu, jurnalis juga harus rajin membaca, turun ke lapangan, dan memahami jurnalismejurnalisme baru.“Serta memahami sembilan eleman jurnalisme,” tandasnya. Menurut Maria, jurnalisme damai bekerja untuk mendamaikan konflik.Namun, tidak menyembunyikan fakta yang ada sehingga konflik tidak berkelanjutan dan lebih baik untuk kehidupan masyarakat di masa yang akan datang.

    Sementara itu Pembina FJPI,Darmayanti Lubis mengungkapkan perspektif gender ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang baik bagi negara yang belum tampak.Selama ini, lanjutnya, media memang lebih mencitrakan perempuan dalam pemberitaan. ”Kalau perempuan salah sedikit saja, dibesar-besarkan di media. Kalau sudah maju, tidak kelihatan juga.

    Karena itu, media diharapkan dapat mengangkat citra perempuan sehingga lebih maju. Dengan begitu, sumber daya manusia dan kontribusi perempuan juga bisa dioptimalkan,”kata anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Sumut ini.(sindo)


    Share |
    BERITA TERKAIT:
    Leave your comment.
    Name*:
    Email*:
    Website:
    Comment*:
    : * Type the captcha!