
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Jalan Provinsi Siborong-borong - Pangaribuan - Garoga Rusak Parah
TARUTUNG (EKSPOSnews ) : Warga Kecamatan Garoga, Pangaribuan dan Sipahutar sampai Siborong-borong harapkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memberi perhatian atas kerusakan jalan provinsi yang melewati daerah mereka. Akses jalan tersebut merupakan satu-satunya jalan mereka bila hendak menuju Medan sebagai ibukota Provinsi. Hal tersebut disampaikan bukannya tanpa alasan, karena akibat rendahnya kualitas jalan provinsi itu, Garoga Pangaribuan sekitar 30 km harus dilalui dalam jangka waktu 1 ½ jam, padahal seharusnya bisa hanya 20 30 menit.
Demikianlah disampaikan Sobar Sipahutar anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Taput dari Partai Persatuan Daerah (PPD) kepada beberapa wartawan Senin 29 november 2010 di Tarutung. Sobar menyampaikan kerusakan yang paling parah khususnya di Dolok Matutung Kecamatan Pangaribuan, untuk Kecamatan Garoga di Desa Sibaganding, Padang Siandomang dan Aek Tangga dimana kedalaman lobang bahkan hampir 1 meter. Sehingga kenderaan bermotor baik roda dua maupun empat harus ekstra hati-hati melewatinya kalau tidak ingin mandi lumpur ataupun gardang rusak menghantam batu dilumpur tersebut. Selain karena rendahnya kualitas jalan sempitnya jalan juga berpengaruh pada kelancaran karena bila berpapasan dengan kenderaan lainnya harus berhenti dan mencari tempat agar bisa saling bersisian. Padahal masyarakat pemilik tanah seputaran jalan Siborong-borong sampai Garoga mau memberikan tanahnya tanpa ganti rugi asal dipakai untuk memperlebar jalan, ujar Sobar. Disampaikan juga bahwa perbaikan jalan dengan aspal hotmix kurang tepat karena terkesan menghambur-hamburkan biaya, karena apabila untuk pengaspalan dapat membangun ruas jalan yang lebih panjang dan lebar. Disamping itu dengan tekanan walss pada saat pembatuan dan pengaspalan beram jalan tidak akan jauh beda dengan tingginya badan jalan yang akan mengurangi resiko kecelakaan lalulintas (Lakalantas) yang cenderung mengambil korban jiwa maupun kerusakan armada angkutan. Sementara itu, akibat rendahnya kualitas serta lebar jalan juga membuat lambatnya perkembangan, karena pengusaha angkutan enggan melewati rutenya. Sehingga azas ekonomi tidak berlaku akan tetapi azas sosial bagi angkutan dalam melayani trayek Garoga menuju Pangaribuan, Sipahutar, Siborong-borong bahkan menuju Medan. Karena pengusaha harus siap mengeluarkan biaya ekstra tinggi baik untuk perbaikan maupun service angkutannya. Saat ini untuk Garoga Pangaribuan sekitar 30 km akan dilalui sekitar 1 ½ 2 jam padahal seharusnya antara 15 30 menit, karena harus ekstra hati-hati dan sering berhenti. Sedangkan Pangaribuan Sipahutar Siborong-borong yang jauhnya sekitar 45 km harus dilalui sekitar 1 ½ jam, dengan kondisi jalan sama bahkan dibeberapa titik, ruas jalan terancam longsor. Pantauan wartawan, disepanjang jalan Siborong-borong Garoga rentan terjadi longsor menutupi badan jalan maupun putusnya prasarana jalan tersebut, karena saluran drainase asal ada dan saat ini sudah terkikis oleh air yang kedalamannya bahkan sampai 2 meter. Selain itu kenderaan bermotor bila berpapasan dengan kenderaan lainnya harus ekstra hati-hati, karena sempitnya jalan, sehingga jalan Siborong-borong Garoga sangatlah tidak layak disebut jalan provinsi. Rendahnya kualitas pengaspalan dengan Hotmix juga sangat berpengaruh, karena disepanjang jalan bekas aspal hotmix terlihat ketebalannya hanya sekitar ½ sampai 1 ½ cm saja sementara kenderaan yang melewatinya bebas sebagaimana layaknya jalan provinsi sehingga sangatlah wajar usia jalan tersebut sangat pendek.(er)
BERITA TERKAIT:
|