• Home
  • Nasional
  • Kadis Kesehatan Sumut, 54 Persen Kematian Balita Disebabkan Kurang Gizi

Kadis Kesehatan Sumut, 54 Persen Kematian Balita Disebabkan Kurang Gizi

Kamis, 29 Juli 2010 | 06:01:34
MEDAN (EKSPOSnews): Berdasarkan data World Health Organisation (WHO), sebuah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani bidang kesehatan bahwa 54 persen pemicu kematian bayi maupun Balita di seluruh dunia disebabkan karena kurangnya asupan gizi.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (Provsu) Candra Syafei pada Safari Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Sesi IV dengan tuan rumah PWI Cabang Sumut di Hotel Garuda Plaza, Medan, Rabu 28 Juli 2010.

Menurut Candra, melihat angka kematian bayi yang masih tergolong tinggi itu menjadi kewajiban semua pihak untuk serius menangani persoalannya. Tidak hanya peran pemerintah di sisi leading sektor tapi juga peran swasta sebagai pendukung serta adanya kesadaran masyarakat yang tinggi.

Lebih jauh menurut Candra, akibat-akibat dari dampak kurang gizi terutama ketika seorang ibu sedang hamil dan setelah bayi lahir akan sangat membahayakan masa depan anak. Selain berakibat pada cacad atau lemah fisik, tapi juga akan melemahkan fungsi otak sehingga anak menjadi bodoh.

Di Provinsi Sumatra Utara, kata Candra Syafei, upaya atau langkah-langkah yang ditempuh pemerintah daerah untuk mengatasi masalah kekurangan gizi hingga kini terus bergulir dan berproses menuju peningkatan yang lebih baik sejalan visi misi Gubsu agar rakyat tidak sakit.

Diakuinya, melalui langkah-langkah yang dilakukan Pemprovsu dengan melibatkan stakeholder, hingga tahun 2010 capaian jumlah Balita gizi kurang terus mengalami penurunan. Jika untuk rata-rata nasional berada pada kisaran 18,4 persen, Sumut telah berhasil menurunkannya hingga berada di bawah 15 persen.

Capaian itu, lanjutnya, tidak terlepas dari kebijakan teknis yang dilakukan melalui upaya komprehensif dengan sasaran prioritas pada ibu hamil, ibu bersalin, bayi 0-6 bulan, anak 6-24 bulan dan anak usia 2-5 tahun. Kemudian menerapkan standar pemberian makanan bagi bayi dan anak serta meneruskan suplementasi gizi pada Balita, remaja, ibu hamil dan ibu nifas.

Sementara dari sisi strategi operasional dilakukan peningkatan kinerja Posyandu melalui kerjasama lintas sektor dan program untuk penyediaan dukungan operasional, peningkatan kapasitas kader serta dukungan sarana prasarana. Selanjutnya meningkatkan cakupan pemberian air susu ibu (ASI) ekslusif, pemberian makanan tambahan, serta meningkatkan kapasitas masyarakat, Puskesmas dan rumah sakit.

Selain itu, juga melakukan pelayanan gizi pada ibu hamil berupa pemberian tablet Fe, bubuk tabur gizi dan skrining yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan ibu. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan garam beryodium dan pemenuhan terhadap obat gizi, serta penguatan surveilen gizi di kabupaten/kota dilaksanakan dengan meningkatkan kapasitas petugas melalui pelatihan, orientasi dan fasilitasi teknis terpadu.

Khusus dalam penanggulangan masalah gizi, dijelaskan Candra Syafei, pemerintah provinsi Sumatera Utara juga melakukan penanganan yang serius. Bagi pasien gizi buruk dilakukan tindakan rawat inap dan rawat jalan. Sementara untuk penanganan gizi kurang dilakukan pemberian makanan tambahan sampai benar-benar pulih. Sedangkan langkah pencegahan dilakukan pemantauan rutin di Posyandu. (rel)
 



BERITA LAINNYA
Kerabat dan Kolega Jenguk Habibie di RSPAD
Sabtu, 25 Oktober 2014 | 14:18:14
KPK Warning Aceh
Sabtu, 25 Oktober 2014 | 08:25:00
Gayatri Harumkan Indonesia
Sabtu, 25 Oktober 2014 | 08:19:45
JK Belum Pastikan Kenaikan Harga BBM
Jumat, 24 Oktober 2014 | 16:32:25
Petugas Awasi Zona Merah Sinabung
Jumat, 24 Oktober 2014 | 07:16:43
Warga Mukomuko Segel Lahan Pabrik Tortila
Kamis, 23 Oktober 2014 | 15:16:05
Tugu Peringatan Bantu Obati Trauma Korban Tsunami
Kamis, 23 Oktober 2014 | 06:22:46
Persoalan Aceh Sangat Kompleks
Rabu, 22 Oktober 2014 | 05:55:30
Terlantar, Puluhan Penumpang Lion Air Ngamuk
Rabu, 22 Oktober 2014 | 05:50:05
BERIKAN KOMENTAR
Top