• Home
  • Humaniora
  • Ribuan Pekerja Anak di Jawa Barat Dikembalikan ke Sekolah

Ribuan Pekerja Anak di Jawa Barat Dikembalikan ke Sekolah

Rabu, 5 Juni 2013 | 15:30:24
BANDUNG (EKSPOSnews): Sebanyak 2.280 pekerja anak dari 15 kabupaten/kota di Jawa Barat ditarik dari tempat bekerja dan dikembalikan ke sekolah melalui program Pengurangan Pekerja Anak dalam rangka mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH).

"Tidak boleh ada kegiatan usaha apapun yang melibatkan pekerja anak. Sekali lagi kita mengimbau, mengawasi, tidak boleh ada lagi perusahaan yang menggunakan pekerja anak. Supaya kita punya masa depan," kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar saat menyerahkan bantuan paket peralatan sekolah di Gedung Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Bandung, Rabu 5 Juni 2013.

Para pekerja anak itu kemudian akan menerima pembinaan di tempat penampungan (shelter) selama empat bulan dimana mereka juga akan menerima uang saku untuk satu bulan pra-shelter, satu bulan di shelter dan dua bulan pasca shelter sebesar Rp250 ribu per bulan.

Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemnakertrans) melalui program PPA-PKH menargetkan untuk menarik 11.000 pekerja anak di 89 kabupaten/kota di 21 provinsi selama 2013.

Sasaran program tersebut adalah para pekerja anak yang berasal dari rumah tangga sangat miskin (RTSM), berusia diantara 7-15 tahun, putus sekolah dan bekerja.

Muhaimin mengatakan pemerintah berkomitmen untuk mewujudkan Indonesia tanpa pekerja anak namun keterbatasan anggaran masih menjadi kendala untuk mewujudkan hal tersebut.

"Komitmen kita Indonesia tanpa pekerja anak, tapi anggaran kita sangat terbatas. Oleh karena itu komitmen ini harus melibatkan pemilik-pemilik lembaga pendidikan, perusahaan swasta," ujar Muhaimin.

Melalui program PPA-PKH itu, Muhaimin mengatakan hanya mampu untuk menarik 14 ribu pekerja anak dari tempatnya bekerja dan dikembalikan ke sekolah.

"Kita hanya mampu untuk 14 ribu anak. Tapi ini yang murni dari APBN. Tentu yang dari pihak swasta, lembaga pendidikan, pemda, insya Allah tiap tahun paling tidak 500 ribu (anak) bisa (ditarik dari tempat bekerja)," kata Muhaimin.

Saat ini, perusahaan yang banyak mempekerjakan anak disebut Muhaimin adalah usaha kecil menengah (UKM) dan usaha padat karya yang omzetnya kecil.

Untuk perusahaan-perusahaan ini, Muhaimin mengatakan akan dilakukan pembinaan selain sanksi lainnya seperti teguran.

"Seluruh perusahaan dilarang mempekerjakan anak. Sanksi ada yang sifatnya teguran, perdata, pidana," kata Muhaimin.(ant)

BERITA LAINNYA
Kasus Bunuh Diri di Indonesia Meningkat
Selasa, 16 September 2014 | 04:18:24
Dirut Semen Padang Meninggal Dunia
Senin, 15 September 2014 | 12:56:47
Membangun Fasilitas Lansia di Labuhanbatu
Senin, 15 September 2014 | 04:53:00
Gubsu Harapkan Dokter Lulusan USU Mau Praktik di Desa
Minggu, 14 September 2014 | 04:41:05
Banyak PNS di Gunung Kidul Minta Cerai
Jumat, 12 September 2014 | 05:20:29
Kemenko Kesra Minta Tambahan Anggaran Rp35 M
Selasa, 9 September 2014 | 16:30:05
Media Sosial Pengaruhi Gaya Hidup Masyarakat
Selasa, 9 September 2014 | 13:20:46
Menekan Angka Kelahiran di Sumut
Selasa, 9 September 2014 | 05:07:12
Perempuan Disabilitas Rawan Kekerasan Seksual
Sabtu, 6 September 2014 | 06:38:53
Lions Hospital Operasi 100 Pasien Katarak
Rabu, 3 September 2014 | 15:36:55
BERIKAN KOMENTAR
Top