• Home
  • Humaniora
  • Kisah Anak Jenderal DI Panjaitan Mengenai G 30 S/PKI

Kisah Anak Jenderal DI Panjaitan Mengenai G 30 S/PKI

Minggu, 30 September 2012 | 03:09:27
JAKARTA (EKSPOSnews): Masih ingat dengan film Pemberontakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau G30S/PKI? Selama masa kepresidenan Soeharto, film berkisah penculikan serta pembunuhan tujuh jenderal revolusi itu selalu diputar pada 30 September oleh Televisi Republik Indonesia atau TVRI. Satu korban yang menjadi sasaran pembantaian adalah Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan atau D.I. Panjatian. Dan putrinya, Catherine Panjaitan menjadi saksi mata penculikan itu.

Pada Majalah Tempo edisi 6 Oktober 1984, Catherine menceritakan kejadian malam berdarah itu. Ingatan itu tertuang dalam tulisan berjudul, Kisah-kisah Oktober 1965. Bagi Anda yang sempat menonton filmnya pasti melihat adegan putri D.I Panjaitan membasuhkan darah sang ayah ke mukanya. Tapi benarkah Chaterine melakukan hal itu?

»Saya melihat kepala Papi ditembak dua kali,” kisah Catherine. »Dengan air mata meleleh, saya berteriak, "Papi..., Papi...." Saya ambil darah Papi, saya usapkan ke wajah turun sampai ke dada.”

Kata Catherine, penculikan terjadi sekitar pukul 04.30, pada 1 Oktober 1965. Kala itu, ia tengah tidur di kamar lantai dua. Kemudian terbangun karena teriakan dan tembakan. Catherine mengintip ke jendela. Ternyata telah banyak tentara berseragam lengkap pada perkarangan rumah. »Beberapa di antaranya melompati pagar, sambil membawa senapan,” kata Catherine.

Panik, ia lari ke kamar ayahnya. Yang dicari sudah terbangun dari tidur. Mereka pun berkumpul di ruang tengah lantai atas. Kata Catherine, almarhum papinya terus mondar-mandir, dari balkon ke kamar. Dia sempat mengotak-atik senjatanya, semacam senapan pendek.

Catherine sendiri sempat bertanya pada ayahnya soal apa yang terjadi. Tapi sang jenderal bergeming. Sedangkan di lantai bawah, bunyi tembakan terus terdengar. Televisi, koleksi kristal Ibu Panjaitan, dan barang lainnya hancur. Bahkan meja ikut terjungkal. »Tiarap…tiarap,” kata Catherine menirukan ayahnya.

Sebelum menyerahkan diri ke tentara, mendiang Panjaitan sempat meminta Catherine menelepon Samosir, asisten Jenderal S. Parman. Usai itu, Catherine menghubungi Bambang, pacar sahabatnya. Tapi belum selesai pembicaraan, kabel telepon diputus.

Berseragam lengkap, kemudian D.I. Panjaitan turun ke ruang tamu. Seorang orang berseragam hijau dan topi baja berseru "Siap. Beri hormat". Tapi Panjaitan hanya mengambil topi, mengapitnya di ketiak kiri. Tak diacuhkan begitu, si tentara memukul Panjaitan dengan gagang senapan, hingga ia tersungkur. Setelah itu kejadian bergulir cepat. Dor! Dor! »Darah menyembur dari kepala Papi,” kata Catherine.(tempo)

BERITA LAINNYA
Pengungsi Sinabung Membutuhkan 1,8 Ton Beras Perhari
Rabu, 22 Oktober 2014 | 04:59:48
Pemprov Babel Salurkan Sembako Murah
Selasa, 21 Oktober 2014 | 21:40:28
Batasi Anak Nonton Televisi
Minggu, 19 Oktober 2014 | 17:12:29
Candi Muara Takus Awal Peradaban Manusia
Minggu, 19 Oktober 2014 | 04:09:39
Pengajian Lintas Agama NU Jerman
Rabu, 15 Oktober 2014 | 07:27:52
Pernikahan Dini Sangat Berbahaya
Sabtu, 11 Oktober 2014 | 04:58:43
Pemkot Aceh Tolak Buku Paket dari Kemendiknas
Jumat, 10 Oktober 2014 | 20:47:39
Bank Mandiri Salurkan Bansos via Layanan Digital
Rabu, 8 Oktober 2014 | 15:23:04
Hotman Paris Beri Amplop Besar Kepada Keluarga Korban
Selasa, 7 Oktober 2014 | 03:53:04
Angka Bunuh Diri di Gunung Kidul Tinggi
Senin, 6 Oktober 2014 | 06:30:12
PTPN IV Qurbankan 11 Ekor Sapi dan 26 Ekor Kambing
Minggu, 5 Oktober 2014 | 13:08:11
BERIKAN KOMENTAR
Top