Kasus Gizi Buruk di NTB Masih Tinggi

Kamis, 22 Juli 2010 | 04:43:17
Ilustrasi

MATARAM (EKSPOSnews): Fraksi Partai Golkar DPRD Nusa Tenggara Barat mempertanyakan masih tingginya kasus gizi buruk di daerah ini, sehingga perlu penanganan yang lebih intensif.

"Dengan tingginya kasus gizi buruk di NTB, maka alokasi dana untuk kesehatan terutama dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan tahun 2010 diberikan lebih banyak," kata juru bicara Fraksi Golkar DPRD NTB, Bair Indah Puspitasari, di Mataram, Rabu 21 Juli 2010.

Ketika menyampaikan pemandangan umum terhadap tiga Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) termasuk Raperda APBD Perubahan, dia menjelaskan, APBD NTB tahun 2010 bertambah sebesar Rp76,9 miliar dari Rp1,31 triliun menjadi Rp1,38 triliun.

"APBD Perubabahan tersebut hendaknya diarahkan untuk hal-hal yang menyuntuh langsung kepada masyarakat seperti kesehatan dan pendidikan," katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. H. M. Ismail mengatakan, dalam empat tahun terakhir ini atau mulai tahun 2006 hingga 2009 tercatat sekitar 151 orang warga Nusa Tenggara Barat meninggal akibat menderita gizi buruk dari 4.698 kasus yang ditemukan.

"Sebanyak 151 orang yang meninggal akibat gizi buruk tersebut, rinciannya tahun 2006 sebanyak 10 orang dengan 2.465 kasus," katanya.

Ia menjelaskan, tahun 2007 sebanyak 52 orang tanpa kasus, tahun 2008 sebanyak 45 orang dengan 1.207 kasus dan tahun 2009 yang meninggal 44 orang dengan 926 kasus.

Khusus untuk tahun 2009 dari sebanyak 44 yang meninggal terbanyak di Kabupaten Lombok Timur sebanyak 11 orang, kemudian Lombok Barat sembilan orang, Lombok delapan orang.

Selanjutnya, Kabupaten Bima enam orang, Dompu empat orang dan Lombok Utara dua orang dan Kota Mataram satu orang sementara Kabupaten Sumbawa dan Kota Bima tidak ada yang meninggal.

Untuk menekan angka kematian akibat gizi buruk, pihaknya melakukan penimbangan bayi setiap empat bulan sekali yang dilakukan tenaga kader di Posyandu sekaligus memberikan makanan tambahan.

Gizi buruk biasanya akibat kurang makan, namun jika dilihat dari produksi padi NTB yang mencapai 1,8 juta ton rasanya NTB tidak mungkin akan kekurangan pangan, karena NTB termasuk lumbung pangan nasional.

Yang menjadi kendala adalah kurangnya pengetahuan masyarakat terutama ibu-ibu dalam memberikan makanan yang bergizi kepada anak-anaknya, hal ini terlihat anaknya gizi buruk, tetapi orang tuanya sehat dan gemuk-gemuk.

"Makan tambahan bagi anak-anak bukan hanya diberikan oleh Dinas Kesehatan, tetapi juga dari Badan Ketahanan Pangan NTB, terutama bagi siswa di daerah terpencil," katanya. (ant)


BERITA LAINNYA
5 Cara Labu Tingkatkan Kekebalan Tubuh
Minggu, 26 Oktober 2014 | 07:28:01
Hidup Sehat Cegah Diabetes
Sabtu, 25 Oktober 2014 | 19:40:48
2.000 Dokter di Riau Belum Tersebar Merata
Jumat, 24 Oktober 2014 | 16:29:15
Dinkes DKI Belum Berikan Izin Praktik Dokter Asing
Jumat, 24 Oktober 2014 | 15:30:18
Perokok Indonesia Teraktif Merokok daripada Cina
Jumat, 24 Oktober 2014 | 05:14:29
Gubernur Dukung PNS Ikut BPJS Ketenagakerjaan
Kamis, 23 Oktober 2014 | 17:16:31
Inilah Tanda-Tanda Ikan Asin Tak Beres
Kamis, 23 Oktober 2014 | 10:51:13
Pemkot Medan Tingkatkan Kemampuan Bidan Puskesmas
Rabu, 22 Oktober 2014 | 05:53:35
Udara di Palembang Sangat Berbahaya!
Rabu, 22 Oktober 2014 | 05:43:29
2 Pengungsi Sinabung Alami Gangguan Jiwa
Selasa, 21 Oktober 2014 | 22:10:38
Makan Jeruk Mampu Turunkan Berat Badan
Senin, 20 Oktober 2014 | 18:40:25
Penderita ISPA di Jambi Meningkat Setiap Pekan
Senin, 20 Oktober 2014 | 03:56:30
BERIKAN KOMENTAR
Top