BANDUNG (EKSPOSnews): Hanya 15 persen gedung hasil rancangan insinyur yang ada di Bandung yang tahan gempa, kata ahli rekayasa gempa Institut Tekhnologi Bandung Adang Surahman.
"Itu pun dengan catatan gedung-gedung yang didisain oleh insinyur. Kalau tidak, ya tidak tahu," kata Adang Surahman dalam orasi ilmiah pada peringatan Dies Natalis ke-51 ITB.
Menurut Adang, minimnya bangunan tahan gempa ini dikarenakan kurangnya sosialisasi dan biaya pembangunan bangunan tahan gempa yang tinggi.
"Banyak masyarakat yang masih tidak tahu, dan memang biaya membangun rumah atau bangunan tahan gempa itu bisatujuh persen lebih tinggi dari yang biasa," kata Adang.
Padahal menurut dia, Bandung memiliki potensi gempa yang tinggi, mengacu pada siklus gempa 200 tahunan yang biasamenimpa kota itu.
"Gempa sebesar ini terjadi di Bandung 130 tahun yang lalu, maka kemungkinan terjadi lagi 70 tahun mendatang. Tapigempa tidak pernah bisa diprediksi, jadi bisa saja gempa ini terjadi besok atau lusa," katanya.
Menurut dia, kemungkinan gempa besar ini muncul dengan pusat di Laut Jawa, sekitar Sukabumi atau Pangandaran dengankekuatan 7,5 skala richter, walaupun potensi dari patahan Lembang tetap ada.
"Kemungkinan akan sampai di Bandung dengan skala tujuh juga dan mengakibatkan kerusakan yang parah," kata Adang.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Adang dan Pusat Mitigasi Bencana ITB tahun 1993-1998 memprediksi, bila gempa tersebut terjadi, maka Kecamatan yang akan mengalami kerusakan paling parah adalah Kecamatan Bojongloa Kaler dan palingringan adalah Kecamatan Cibeunying Kaler.
Selain itu diprediksikan juga 60 persen penduduk di pusat kota dan 20 persen penduduk di daerah konservasi akan kehilangan tempat tinggal.
Adang juga mengatakan, walaupun penelitian itu dilakukan tahun 1998, tapi karena berupa prediksi kasar, maka masihsangat relevan untuk dijadikan acuan hingga tahun 2010 ini.
"Prediksi itu masih bisa berlaku, kemungkinan bila gempa itu terjadi, sekitar 2.600 jiwa penduduk Bandung akan menjadi korban. Bahkan bangunan-bangunan yang dirancang tahan gempa dari tahun 70-an akan rusak berat bila percepatan gempa mencapai 0,238 gravitasi," kata Adang.
Untuk menangani hal ini Adang mengatakan pemerintah harus segera menyosialisasikan penanganan gempa kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan juga mengawasi pembangunan perumahan dan gedung-gedung agar dibuat tahan gempa.
Selain itu, menurut dia, perlu ada perbaikan bagi rancangan bangunan tahan gempa. Karena desain bangunan tahan gempa yang banyak dipakai para insinyur saat ini belum tepat, karena masih berdasar pada anggapan bahwa gempa menimpakan gaya padapada bangunan, sehingga bangunan rusak.
"Padahal gempa itu sebenarnya memberikan getaran energi yang kuat pada bangunan sehingga kekuatan struktur bangunan berkurang dan menyebabkan bangunan rusak. Untuk itu rancangan bangunannya pun harus berbeda. (ant)