Jum'at, 25 Juli 2014
Follow: 
Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto,medan kini,terkini,medan, sumatera utara,sumut,nasional,ekonomi,sosial,budaya
Kunjungi eksposnews.com dari HP Anda!
  • Home  / Ragam
    Surya Paloh Diisukan Alami Masalah Keuangan, Grup Trans Tv Mau Beli Metro TV?
    Jumat, 30 Oktober 2009 | 20:22:46
    JAKARTA(EKSPOSnews): Industri media tengah dihebohkan oleh pertarungan para pemilik modal. Kabar teranyar, anak usaha Media Grup yang beregerak di bidang pertelevisian, Metro TV, akan dilepas dan akan jatuh kepangkuan Trans Corp. Benarkah?

    Sebenarnya, kabar ini sudah lama mencuat di kalangan wartawan. Kabar ini awal mulanya berhembus pasca-Pemilu 2009. Kala itu, Surya Paloh yang tak lain adalah Presiden Komisaris Metro TV, mencalonkan diri menjadi ketua umum Partai Golkar di Gedung Olahraga (GOR) Cendrawasih, Jaya Pura, Papua, Kamis 24 September silam.

    Surya Paloh atau yang biasa disebut dengan SP, maju berkompetisi bersama kandidat lainnya, yakni Aburizal Bakrie, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, dan Yuddy Chrisnandi. Pengusaha media kelahiran Banda Aceh ini maju berbekal dukungan DPD I Papua, DPD I Bali, DPD I NTB, dan 29 DPD II se-Papua. Namun, kenyataannya Ketua Dewan Penasehat Partai ini tidak lolos. Kemenangan pun digenggaman Aburizal, pemilik PT Bakrie & Brother's Tbk (BNBR).

    Mulai dari situlah kekayaan SP dikabarkan susut. Karena, uang yang digulirkan dalam bursa pencalonan ketua umum partai berlogo pohon rindang ini tidak sedikit. Kendati kabar ini belum bisa dibuktikan, namun disebut-sebut SP telah merogoh sekira Rp200-250 miliar dari kantong pribadinya.

    Di saat yang bersamaan, pemilik Para Group (induk usaha TransCorp) Chairil Tanjung (CT) berambisi menambah tiga stasiun telivisi baru, melengkapi TransTV dan Trans7. Kabarnya, pada pertengahan tahun lalu, CT telah melirik PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI).

    Singkat cerita, transaksi itu kandas. Kabar lainnya juga,  pengusaha yang mendapat julukan The Rising Star ini, tergiur bisnis industri media online yang saat ini tengah menjadi tren pemilik modal. Namun, lagi-lagi isu itu hanya isapan jempol.

    Yang jelas, saat ini kerajaan bisnis CT tengah jaya-jayanya. Bisnis Trans TV dan Trans7, sangat strategis, karena mengandalkan program-program 'home made' alias buatan sendiri.

    Sekadar diketahui, industri broadcast (TV) terkenal dengan highcost. Dengan jurus produksi sendiri, Trans Corp bisa berhemat sangat signifikan dan efisien dalam biaya operasional. Maka tidak heran jika kondisi keuangan TransTV dan Trans7 pun sangat sehat.

    Salah satu bukti kejayaan lainnya, yakni perusahaan mampu memiliki tambang baru yakni Trans Studio. Studio megah yang sekelas studio Warner Bross atau Walt Disney ini berdiri di Makassar, Sulawesi Selatan. Studio ini adalah Indoor Theme Park terbesar di dunia.

    Di sisi lain, saat ini keuangan Metro TV kabarnya masih minus. Kondisi diperburuk dengan adanya pemain baru yakni TVone, yang mampu menyalip Metro TV. Ditambah lagi kantong sang empunya setelah pemilu tengah kembang kempis, walhasil SP mulai kewalahan.

    Jika dirunut, secara bisnis kondisi CT dan SP saling menguntungkan. CT memiliki modal yang banyak, sedangkan SP memiliki stasiun TV tersohor.  Tapi apakah semua desas-desus ini benar adanya?

    Kabar burung Trans Crop melirik Metro TV telah menyeruak. Kabar itu pun dibenarkan oleh salah satu orang dalam Trans TV. Namun, soal kepastiannya masih belum jelas.

    "Benar bos, Metro ditawarkan ke Trans Corp. Tapi soal deal or no deal, aku belum tahu. Tks," demikian isi pesan singkat sumber, di Jakarta, Jumat (30/10).

    Lain lagi apa yang diutarakan oleh orang dalam TransTV. Kabar lirikan CT pemilik Para Group yang tak lain adalah induk usaha TransCorp, tidak popular di internal mereka. "Sangat mungkin membeli MetroTV. Tapi, CT mana mau membeli asetnya Metro TV. Ditambah lagi gaji karyawan Metro TV kan tinggi-tinggi," jelas dia yang namanya enggan disebutkan.

    Dari sisi politik, lanjut dia, juga tidak memungkinkan. Surya Paloh adalah ikon Partai Golkar.

    Metro TV dan Media Indonesia adalah aset utamanya. "Jadi dia tidak akan rela. Kalau secara bisnis, kemungkinan bisa saja. Mekanismenya mungkin tukar guling. Semua mengikuti sistem TransCorp yang sudah berjalan (termasuk sistem gaji), dan kalau itu terjadi saya yakin karyawan MetroTV memilih cara lain," reka dia.

    Hingga kini, kebenaran rumor tersebut belum terkonfirmasi. Kabar ini laksana menghitung kancing baju saja: benar-salah-benar?

    Jika lirikan pengusaha media Chairil Tanjung (CT) terhadap Metro TV terbukti, maka Metro TV akan menjadi adik dari TransTV dan Trans7. Lalu bagaimana nasib Surya Paloh (SP) yang kehilangan separuh relung usahanya?

    Kabar dijajakinya anak perusahaan Media Grup ini, dibantah oleh pihak redaksi Metro TV. Wakil Pemimpin Redaksi Makroen Sanjaya menuturkan, jika dirinya belum pernah mendengar hal tersebut. "Saya belum pernah dengar kabar itu. Saya tidak tahu-menahu mengenai urusan itu," kata Makroen di Jakarta, Jumat (30/10).

    Penggagas program Acara Kick Andy ini mengungkapkan, isu tersebut merupakan kabar yang tidak wajar. "Itu kabar yang aneh," katanya dengan nada tinggi.

    Hal senada juga diutarakan oleh Komisaris TransTV Ishadi SK. "Tidak mungkin Metro TV (dilepas ke TransCorp) soalnya (Metro TV) baurekso-nya Pak SP (Surya Paloh). Yang sudah dibeli Metro Departemen Store," ujar Ishadi SK dengan nada canda.

    Menurutnya, saat ini Trans Corp masih melakukan konsolidasi dalam merumuskan bisnis di 2010. "Tidak mungkin (membeli Metro TV). (Isu) itu tidak benar," pungkasnya.(ok)

    Akses berita terbaru versi mobile di: m.eksposnews.com
    Leave your comment.
    Name*:
    Email*:
    Website:
    Comment*:
    : * Type the captcha!