- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Trauma Diintimidasi Guru, Siswi SDN Rantauprapat Enggan Sekolah
LABUHANBATU (EKSPOSnews): Disinyalir diintimidasi oleh wali kelas,
seorang siswi Kelas I SD Negeri nomor 114375 Jalan Menara Rantauprapat,
Labuhanbatu mengalami trauma. Dampaknya, tidak ingin bersekolah lagi.
Diceritakan Adika, warga Lingkungan Aek Siranda, Kelurahan Siringo-ringo, Kecamatan Rantau Utara, awalnya Jumat kemarin dirinya menjemput buah hatinya yang bersekolah disana. Namun setelah beberapa menit baru dilihatnya anaknya masih belajar di meja piket bersama wali kelasnya padahal saat itu sudah pulang sekolah. Lalu dirinya menghampiri Fatimah selaku wali kelas I. Saat dirinya bertanya ada apa dengan anaknya, Jamilah menegaskan bahwa buah hati Adika sangat bodoh dan bandal. Dengan perasaan haru dirinya melihat Jamilah menuntun anaknya agar pandai membaca, menulis dan menghitung. “Ini Sahlima, yang bodohanpun, makan saja tahunya,” kata Adika, kepada wartawan menirukan perkataan Fatimah kepada dirinya dan anaknya, Senin 20 Februari 2012 dikediamannya. Tambah Adika, saat mengatakan hal itu, Fatimah oknum guru tersebut sembari menghujamkan pensil yang dipegangnya kearah wajah Salima. “Guru itu pendidik, kalau anak saya sudah pintar, tidak mungkin saya sekolahkan lagi. Lagi pula itukan sudah jadwal pulang sekolah, masak anak saya sendiri disana,” kenangnya. Dampaknya, akibat dipermalukan didepan puluhan siswa lainnya, Sahlima akhirnya tidak ingin bersekolah lagi dikarenakan malu dan takut melihat oknum guru Fatimah. “Akibat kejamnya guru itu, anak saya tidak mau sekolah lagi, katanya takut nengok gurunya. Bagaimana sistem pendidikan kita sekarang ini,” tanya Adika. Ditambahkan orang tua Sahlima tersebut, sebelumnya oknum guru Fatimah juga pernah didatangi saudaranya akibat menampar buah hatinya. Namun saat itu Fatimah mengatakan hanya memukul tidak kuat sebagai didikan. “Mungkin karena itu anak saya diintimidasinya dan sengaja dipermalukan didepan umum. Namanya anak-anak, ya harus sabarlah sebagai guru,” ungkap Adika lagi. Kepala SD Negeri nomor 114375 Jalan Menara Rantauprapat Tety Jamilah kepada wartawan menjelaskan bahwa tambahan pembelajaran setelah pulang sekolah diperbolehkan, tetapi tidak harus dengan cara kasar. Kondisi lamban atau cepat siswa menangkap pelajaran disebutkan Tety disebabkan beberapa hal, diantaranya takut melihat oknum guru. “Bisa saja takut nengok gurunya, nanti biar saya panggil gurunya,” terangnya. Sekretaris Dinas Pendidikan Hobol Z Rangkuti saat dimintai tanggapannya akan melakukan pengecekan. “Kemungkinan ada masalah dengan siswa, saya kurang tahu persoalannya. Kalau jam belajar disetrap seperti itu tidak dibenarkan, mungkin tadi karena terlambat masuk, tidak mengerjakan PR atau lain-lainnya. Biasalah, kalau anak disekolah orang tuanya ya pak guru dan bu guru untuk mendidik. Sianak harus sekolah jangan takut, nanti saya konfirmasi kepseknya,” kata Hobol.(fh)
BERITA TERKAIT:
|