Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto,medan kini,terkini,medan, sumatera utara,sumut,nasional,ekonomi,sosial,budaya
Selasa, 22 Mei 2012
Follow: 
Bom Rakitan Aktif Ditemukan di Aceh
Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
Serah Terima Jabatan PJP PTPN IV Medan
 Serah Terima Jabatan PJP PTPN IV Medan
 Serah Terima Jabatan PJP PTPN IV Medan
Sertijab Direksi PTPN IV
Sertijab Direksi PTPN IV
Sertijab Direksi PTPN IV
Sertijab Direksi PTPN IV
Home  / Ragam
Siswa SMPN 2 Dusun Tanjung Harapan Belajar Beralaskan Tikar
LABUHANBATU (EKSPOSnews): Kasus siswa-siswi belajar tanpa dilengkapi sarana dan prasarana proses belajar mengajar (PBM) yang memadai kian sering terdapat di Labuhanbatu. Selain belajar beralaskan tenda biru di SMA Negeri 1 Kecamatan Panai Hilir, Labuhanbatu. Kondisi siswa beralaskan tikar juga ditemukan di SMP Negeri 2 (Satu Atap) Dusun Tanjung Harrapan, kecamatan Pangkatan, Labuhanbatu juga cukup ironis.

Bagaimana tidak, sebanyak 44 pelajar di lembagta pendidikan formal itu terpaksa belajar beralaskan tikar. Pasalnya meubeler seperti meja dan kursi yang sudah lama dipesan pihak sekolah ke di Dinas Pendidikan setempat tak kunjung direalisasaikan.

Ironisnya lagi, ruangan perpustakaan yang disulap menjadi ruangan belajar tersebut  tanpa  memiliki papan tulis. Sedangkan disisi kiri dan kanan ruangan itu banyak ditemukan barang bekas sepeti kayu dan papan. Ruangan ini sendiri sudah sejak Senin 29 Januari 2012 digunakan sebagai ruangan belajar tanpa meja dan kursi. Padahal jaraknya antara sekolah tersebut dengan  Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu tidak jauh, hanya sekitar 30 menit perjalanan dengan kenderaan roda dua melewati aspal yang mulus hingga ke lokasi.

Wakil Kepala  Sekolah SMP2 Kecamatan Pangkatan Roma Uli Ambarita mengatakan, siswanya terpaksa belajar diruangan tanpa  meja, kursi dan papan tulis. Karena  sebanyak 4 ruangan yang diperuntukkan  menampung 157 -an siswa mulai dari kelas I hingga kelas III  tidak lagi dapat menampung seluruh pelajar yang bersekolah  di SMPN2 tersebut.  “Sebelumnya memang ada yang masuk siang. Tapi kalau diterapkan masuk siang ada orang tua murid yang keberatan, karena memang aturannya sekolah SMPN2 ini masuk pagi gini,” kata Roma Uli, Kamis 2 Februari 2012.

Dia menambahkan, Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu belum mengetahui kondisi proses belajar  tanpa meja dan kursi di sekolah itu, karena pihak terkait belum ada yang berkunjung kesana, meski pengusulan kekurangan mobeler sudah sejak tahun 2010  sudah disampaikan  pihak sekolah ke Dinas Pendidikan setempat.

Ummu A’iman guru honorer bidang study Agroindustri di SMP Negeri 2  Tanjung Harapan Kecamatan Pangkatan Kabupaten Labuhanbatu mengatakan, tikar yang menjadi alas duduk bagi para pelajar itu adalah hasil inisatif para guru. Sejumlah guru terpaksa membawa tikar dari rumah sendiri agar siswa-siswi memiliki alas duduk ketika sedang berlangsung proses belajar di ruang tersebut.

Selain itu, Ummu mengatakan, di SMP Negeri 2  Tanjung Harapan itu terdapat 18 tenaga pengajar, namun yang PNS hanya 3 orang, sati diantaranya kepala sekolah dan 2 lagi sebagai tenaga pengajar bidang study Bahasa Indonesia. “Memang disini ada 18 guru, tapi yang berstatus PNS  hanya 3 orang satu kepala sekolah dan dua guru Bahasa Indonesia. Sisanya honor semua,” ungkap wanita berjilbab tersebut.

Melihat kondisi sistem pendidikan di Labuhanbatu  masih jauh dari harapan, sehingga perlu adanya perbaikan secara menyeluruh. Sebab, dua guru PNS yang terdapat di sekolah itu jurusannya yang mereka ajarkan adalah sama  yakni, Bahasa  Indonesia.

Sementara itu, hanya berjarak sekitar 50 meter dari SMPN2 Dusun Tanjung Harapan Desa Tanjung Harapan Kecamatan Pangkatan Kabupaten Labuhanbatu juga terdapat siswa kelas III SDN118376 yang belajar sangat memperihatinkan. Pasalnya, selama tiga tahun belakangan ini para siswa terpaksa belajar di ruangan guru dan rumah sekolah yang dijadikan sebagai ruangan kelas bagi murid.

Plapon ruangan itu tampak seadanya terbuat dari anyaman bambu. Sehingga kalau kondisi cuaca panas,tentunya akan terasa dari pantulan  atap ruangan tersebut. Karena tidak semuanya  ruangan itu memiliki flapon.

Selain itu pihak sekolah juga menggunakan  ruangan rumah sekolah  sebagai tempat proses belajar bagi siswa. Kondidinya pun tampak kumuh karenakurang mamadai. “Sudah tiga tahun kami menggunakan ruangan ini sebagai tempat belajar bagi anak-anak. Karena ruangan sekolah tidak cukup,” katanya guru yang enaggan memberitahu nama itu.
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Labuhanbatu Iskandar ketika dikonfirmasi tidak membantah kondisi yang terjadi di SMAN 1 Panai Hilir, Labuhanbatu dimana para siswanya belajar beralaskan tenda biru. Demikian juga di SMPN 2 Pangkatan. Dimana siswanya mengikuti proses belajar mengajar dengan beralaskan tikar.

Iskandar mengakui telah meninjau lokasi sekolah tersebut. Dan dia mengetahui kalau pada Tahun Ajaran 2011-2012 saat penerimaan siswa baru daya tampung di SMAN 1 Panai Hilir hanya dapat menampung siswa sebanyak 3 kelas. Tapi, ujarnya, para orangtua siswa di Panai Hilir meminta dilakukannya penambahan ruang kelas sebanyak 2 kelas sehingga menjadi 5 kelas.

Untuk itu, ujarnya seharus disiapkan meubiler. Namun, karena menunggu masa pengalokasian anggaran dari Dinas Pendidikan untuk penyediaan sarana pendidikan itu, kepala sekolah yang lama mengambil kebijakan mengadakan proses belajar sore. Tapi, tambahnya, ketika terjadi proses pergantian kepala Sekolah, terjadi juga pergantian kebijakan. “Saat terjadi pergantian semester bertepatan terjadi pergantian Kepsek, dampaknya terjadi pergantian kebijakan,” ujarnya.

Kasek yang baru tanpa berkordinasi kepada Dinas meniadakan proses belajar sore, menjadi pagi. Sehingga sarana sekolah kekurangan untuk mendukung proses belajar mengajar. “Padahal untuk meniadakan pendidikan sore. Seharusnya terlebih dahulu mempersiapkan meubiler yang ada,” ujarnya.

Padahal, katanya, pihak Dinas Pendidikan Labuhanbatu telah mempersiapkan dana anggaran untuk pengadaan meubiler di sekolah itu. “TA 2012 sudah dipersiapkan dana untuk pembelian meubiler itu,” ujarnya.

Iskandar juga menambahkan, untuk SMPN2 Pangkatan juga tak jauh beda dengan kondisi yang dialami SMAN 1 Panai Hilir. Itu terjadi dampak perubahan kebijakan pelaksanaan pendidikan sore menjadi pagi. Dan, pihaknya juga akan mempersiapkan dana anggaran untuk pembelian sarana dan rpasarana pendukung proses belajar mengajar di sekolah itu. “Tak jauh beda kondisi yang di SMPN 2 Pangkatan dengan SMAN 1 Panai Hilir. Terjadi kebijakan proses belajar sore menjadi pagi. Tapi, Dinas akan mempersiapkan pengadaan meubiler disana,” tandasnya.(fh)


Share |
Leave your comment.
Name*:
Email*:
Website:
Comment*:
: * Type the captcha!
Mobile Version | Profile | Kontak | Iklan | Disclaimer | RSS
Copyright eksposnews.com © 2009-2012
All Rights Reserved. design by. arieweb