- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Menyingkap Misteri Perang Dunia Kedua di Riau
PEKANBARU (EKSPOSnews): Hingga kini, masih banyak misteri terkait sejarah perang dunia II di wilayah Riau belum terungkap ke publik, di antaranya, ada di kawasan ladang minyak bumi di Duri, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Berdasarkan penelusuran lapangan bukti keberadaan sejarah itu sebenarnya terlihat jelas dengan adanya monumen Korban Perang Dunia II yang terletak di area kerja PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) di Duri. Monumen itu berada di tengah pemakaman, yang ada di Komplek Sago CPI tak jauh dari landasan helikopter. Tingginya sekitar tiga meter berupa beton dengan ubin hijau dan hitam yang bagian tengahnya berbentuk prisma segi empat. Bagian atas berbentuk persegi panjang dan ada tulisan berwarna emas dengan dua bahasa: "Monumen Korban Perang Dunia-II/'Monument of World War-II Victim". "Sayangnya Pemerintah Daerah (Pemda) Riau dan Chevron kurang merawatnya, apalagi mengungkap sejarah yang sebenarnya. Sedangkan, warga Duri yang mayoritas pendatang juga tak banyak tahu sejarah itu, apalagi bisa melihat monumennya, karena tak bisa sembarangan masuk ke area komplek CPI," kata Koordinator 'Duri Institute', Agung Marsudi, Jumat 11 November 2011. Monumen itu, lanjut Agung, kini hanya menjadi saksi bisu sejarah yang terbengkalai. Warnanya terlihat kusam dan huruf-huruf di monumen banyak yang terlepas. "Seharusnya Pemda dan perusahaan melakukan peringatan Hari Pahlawan di tempat itu. Bahkan, kalau bisa pemerintah dan perusahaan secara bersama mengungkap sejarah itu dan menjadikannya kurikulum sejarah untuk pendidikan karena mereka berutang sejarah kepada masyarakat," katanya. Dia menambahkan, sejarah tugu tersebut berawal ketika Chevron menemukan banyak tulang belulang terkubur saat proses pembuatan infrastruktur migas di Duri tahun 1950-an. Kuat dugaan tulang belulang itu merupakan korban kerja paksa di zaman penjajah Jepang atau Romusha. "Tulang belulang itu dipindahkan ke lokasi yang sekarang berdiri monumen di komplek Chevron, dan perusahaan saat itu mengakui bahwa mereka adalah korban Perang Dunia II," tutur Agung. Pernyataan itu, lanjutnya, diperkuat dengan bukti, Jepang saat itu mengambil alih fasilitas Migas di Duri hingga Minas dari Amerika Serikat saat Perang Dunia II. Bahkan, Jepang saat itu juga membangun rel kereta api karena menduga ada kandungan emas di Duri. "Bukti rel kereta api masih ada di daerah Balai Raja yang dahulu dibangun oleh rakyat Indonesia hingga mengorbankan jiwa dan raganya," ujar Agung. (antara)
BERITA TERKAIT:
|