- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
21 Orang Meninggal akibat DBD di Medan
MEDAN(EKSPOSnews): Dinas Kesehatan Pemko Medan mencatat 1.578 kasus demam berdarah
dengue (DBD) terjadi sejak Januari hingga Agustus 2011. Dari jumlah
tersebut, 21 orang di antaranya meninggal dunia.
Kepala Seksi Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Pemko Medan Pocut Fatimah menuturkan, jumlah kasus tersebut berdasarkan data dari 21 kecamatan di Kota Medan.Untuk 10 besar kasus DBD sepanjang Januari hingga Agustus 2011 yakni, Kecamatan Medan Denai sebanyak 155 kasus, Medan Amplas 124, Medan Helvetia 103, Medan Sunggal 97, Medan Tembung 94, Medan Kota 94, Medan Deli 91,Medan Marelan 87, Medan Baru 83,Medan Barat 82, dan Kecamatan Medan Johor sebanyak 82 kasus. “Tapi jumlah itu dari Januari sampai Agustus.Bisa saja di bulan yang sama, Kecamatan Medan Denai lebih rendah dari kecamatan lain,”ungkap Pocut Fatimah, Kamis 15 September 2011 di Medan. Pocut Fatimah menuturkan, tingginya kasus penyakit DBD di Kota Medan tidak terlepas dari prilaku masyarakat dalam menjaga kebersihannya. Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) belum dijalankan sehingga sarang nyamuk banyak ditemukan di berbagai kawasan. “Jadi pemberantasan sarang nyamuk itu harus dilakukan serentak, jangan sebagian-sebagian. Kalaupun ada yang serentak, tapi sekali setahun,”ujarnya. Namun,menurut dia,secara geografis,tidak bisa dipungkiri letak Kota Medan turut menjadi salah satu faktor tingginya kasus DBD.Kota Medan merupakan salah satu daerah endemis DBD. Dinkes sendiri sudah berupaya menanggulangi penyebaran DBD melalui kader jemantik, petugas pengasapan atau fogging, kader patroli puskesmas, dan menindaklanjuti laporan dari rumah sakit. “Laporan dari rumah sakit yang rutin itu sangat diperlukan agar kami bisa segera turun ke lapangan. Jadi kuncinya di pelaporan kasus,”kata Pocut. Dia menambahkan,laporan tersebut sering kali menjadi penghambat pihaknya. Pasalnya, masih ada rumah sakit yang tidak rutin memberikan laporan walaupun ada kasus DBD yang ditangani.“Maunya laporan diberikan sebelum 24 jam sudah diberikan kepada kami sehingga petugas cepat turun ke lapangan,”ujarnya. Kepala Seksi P2P Dinkes Sumut Sukarni SKM sebelumnya juga mengatakan, meningkatnya jumlah kasus DBD di Sumut kemungkinan disebabkan berbagai faktor. Beberapa di antaranya, peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan lancarnya arus transportasi antardaerah, urbanisasi yang sulit dikendalikan, serta tersebarnya infeksi virus dengue pada penduduk rawan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Sukarni menuturkan,masalahpenanggulangandanpemberantasan DBD sudah dibahas dalam dialog nasional DBD di Jakarta belum lama ini.Dalam pertemuan tersebut,kepala daerah menyepakati beberapa komitmen antara lain,mengendalikan DBDdengancara meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) untuk mengatasi permasalahan DBD, meningkatkan upaya promosi kesehatan pencegahan DBD, meningkatkan mutu surveilans,menyiapkan logistik, sertapendanaanoperasional yang memadai. Komitmen lainnya meningkatkan kerjasama lintas sektor, mengembangkan institusi pemerintah dan sekolah dan tempat umum bebas jentik.Kemudian menggerakkan peran serta masyarakat, sekolah, karang taruna, pramuka dan PKK. “Dengan komitmen ini, diharapkan laju penyebaran DBD di Sumut akan dapat dibatasi,” tandas Sukarni.(si)
BERITA TERKAIT:
|