- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
DBD Mengganas, Dua Meninggal Empat Dirawat Medis di Labuhanbatu
LABUHANBATU (EKSPOSnews): Dua orang meninggal dan empat di antaranya menjadi korban endemik penyebaran Demam Berdarah Dengioe (DBD) di
Labuhanbatu. Dua warga Dusun Tebangan A, Desa Kampung Baru, Kecamatan Bilah Barat yang kebetulan berdekatan rumah meninggal dunia secara beruntun, sedangkan empat lagi saat ini masih dilakukan perawatan secara intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rantauprapat. Desi Puspita (8) anak dari Tugiman dan Sisar meninggal, Sabtu 25 Juni 2011 sekira pukul 05.00 dini hari setelah dirawat sehari di RSUD, sementara Annisa Dewi (9) buah hati pasangan Riadi dan Paini meninggal, Selasa 28 Juni 2011 sekira pukul 18.00 WIB yang juga sempat ditangani dirumah sakit pemerintah tersebut. Sedangkan pada Selasa dihari yang sama sekira usai shalat Maqrib, warga kembali dibuat heboh disaat mengetahui ada 14 anak-anak seusia SD yang mengalami demam tinggi. Tanpa membuang waktu Sukimin paman Puspita dan warga lainnya langsung membawa ke-14 anak-anak itu ke RSUD Rantauprapat. Setelah diperiksa hanya empat orang yang tidak diperbolehkan pulang dan hingga kini masih dirawat. Sukimin ditemani Siswodi kepada wartawan mengatakan saat mengantar 14 anak SD itu tanpa didampingi petugas Pustu didusun itu. "Ya kami langsir pakai mobil pribadilah, kalau petugas kesehatan mana ada," kata Sukimin dan Siswodi. Sejumlah warga lain yang ditemui menerangkan, meninggalnya Desi Puspita sama sekali tidak sempat ditangani pihak Pustu walau sakit panas sudah hampir seminggu, padahal jarak Pustu dengan rumah duka berkisar 150 meter. "Mana ada yang mengobatinya, pulaknya Pustu buka hanya sampai jam 13.00 WIB, makanya kami lebih sering berobat ke bidan dusun sebelah," aku sejumlah warga. Lebih jauh diterangkan warga, korban kedua Desi Puspita ditangani petugas kesehatan setempat setelah warga memberitahukan kondisinya yang kian melemah. "Untung diberitahukan, kami heran mengapa petugas kesehatan tidak tahu ada warga yang kritis apalagi sudah muntah. Kejadian pertama seharusnya sudah bisa jadi bahan awal petugas untuk mengecek lokasi, karena lokasinya tidak jauh," kesal warga lagi. Eko dan warga lainnya, selaku kerabat korban DBD berharap agar Bupati Pemkab Labuhanbatu Tigor Panusunan Siregar lebih tegas dalam memberikan perintah kepada semua jajarannya terlebih yang ditempatkan dipelosok desa. Sebab, warga berharap adanya perubahan seperti yang sering didengungkan saat kampanye bahwa berprogram rakyat tidak bodoh, tidak lapar dan tidak sakit. "Tergambar bahwa bupati yang juga seorang dokter spesialis tidak menjamin warganya bisa hidup sehat. Program rakyat tidak sakit ternyata hanya untuk kepentingan kampanye, setelah duduk terkesan lupa tugas penting. Petugas kesehatan didusun dan desa harus proaktif, jangan hanya duduk manis dikantor menunggu pasien agar tidak terulang. Jika tidak becus, lebih baik bupati mencopot dan mengganti kepada yang perduli dengan masyarakat," harap Eko. Ida, salah seorang petugas kesehatan di Pustu Tebangan didampingi Kepala Desa Samsul Bahri menjawab wartawan mengakui tidak tahu nama dan penyakit Desi Puspita hingga meninggal dunia. Itu disebabkan tidak adanya warga yang melapor sebelumnya. "Macam manalah, orang sini lebih senang berobat ke bidan luar dari pada kemari. Kalau tidak melapor ya tidak tahulah kita," aku Ida. Sementara empat warga yang kini dirawat di RSUD Rantauprapat itu yakni Aditya Prasetyo (9), Muhammad Farel (4), Jodi (4) dan Bintang Pratama (2). Menurut perawat di IGD, ke empat bocah diterima sekitar pukul 19.30 WIB karena sebelumnya mengalami gejala demam sekitar satu minggu dan mencret.(fh)
BERITA TERKAIT:
|