- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Ulos Terancam Punah
TARUTUNG(EKSPOSnews): Produk tenun asli yang dikenal sebagai ulos dari Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) dan
sekitarnya semakin langka dan terancam punah karena para perajin sudah jarang menenunnya.Padahal,tenun ini merupakan warisan budaya Batak yang tidak ternilai harganya. Salah satu penenun ulos di Kecamatan Siatas Barita, Sisi Simorangkir, 25, mengakui mereka tidak lagi memproduksi tenun asli, baik ulos maupun sarung. Pasalnya, tenun yang dikerjakan dengan alat tradisional dan membutuhkan ketelitian serta waktu yang lama itu semakin sulit dipasarkan. Masyarakat, khususnya dari etnis Batak, kini lebih memilih ulos ulos yang dikerjakan dengan mesin dari pabrikan dan jauh lebih murah. Bahkan, sudah sejak lama masyarakat banyak yang beralih menggunakan tenun songket yang berasal dari Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Songket digunakan untuk kegiatan-kegiatan adat seperti acara pernikahan dan untuk acara resmi lainnya. “Bahkan,saat ini tidak ada lagi yang mengajarkan kami bagaimana caranya untuk menenun ulos. Para perajin ulos di sini juga banyak yang tidak paham lagi bagaimana menenun dengan motif tenun asli dari Tapanuli Utara (Taput),” katanya kepada SINDO, kemarin. Karena kalah bersaing,perajin tenun di Taput terpaksa beralih menenun kain sarung dengan corak songket. Sehelai sarung songket yang ditenun dalam waktu satu bulan dapat dijual seharga Rp950.000.Meskipun keuntungan yang diperoleh perajin tidak banyak, pekerjaan ini tetap mereka tekuni karena hasilnya jauh lebih mudah dipasarkan dibandingkan corak ulos. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena tenun ulos merupakan warisan budaya Batak. Jika para perajin tidak lagi menenun ulos dengan alat tradisional itu, warisan ini akan hilang dan terlupakan. Selain itu, banyak penenun yang sebelumnya menjadikan pekerjaan ini sebagai mata pencaharian harus beralih ke profesi lain. Padahal, selain menjadi salah satu sektor perekonomian kecil,penenun juga merupakan bagian dari pelestarian budaya. Budayawan Batak Toba Thompson HS menuturkan, agar warisan ini tetap terjaga, maka tenun ulos harus dipertahankan. Solusinya, ulos harus difungsikan kembali dan dibudayakan sehari-hari. Sebab, tenun di daerah -daerah Tapanuli pada dasarnya lahir untuk kebutuhan keseharian, yang selanjutnya masuk dalam konsep adat. “Saat ini,yang harus diperhatikan untuk melestarikan tenunan ini adalah fungsi. Karena itu, jika memang penenun ulos masih merupakan bagian terpenting yang harus dipertahankan maka fungsi barang tenun ulos harus dibudayakan,” papar Thompson HS. Thompson mencontohkan hasil kerajinan tekstil di daerah lain seperti batik tulis di Jawa sampai saat ini masih dapat bertahan.Bahkan, harganya lebih mahal jika dibandingkan dengan batik stempel.Menurut dia, batik tetap eksis karena dibudayakan dan digunakan sehari- hari. Kondisi yang sama juga dapat dilakukan pada tenun ulos. Tenun itu dapat dibudayakan dengan membuat ulos sebagai seragam sekolah. “Karena justru dengan adanya batik stempel,batik tulis jadi lebih mahal karena memiliki nilai seni tinggi.Selain itu,fungsi batik harus semakin ditingkatkan sehingga pembatik tetap dapat berproduksi. Jadi penenun di daerah Taput secara khusus juga bisa demikian,” paparnya. Dia menuturkan, dari segi kualitas, pada dasarnya ulos hasil tenunan lebih baik daripada ulos pabrikan, baik secara motif dan tuntutan nilai.Sebab,ulos tenunan dijalin satu persatu untuk setiap untai benangnya sehingga menyiratkan persatuan yang ditata dengan baik di kalangan masyarakat. “Kalau yang sekarang sering kita lihat di adat, ulos itu adalah produk pabrik yang dijual dengan ukuran meter dan bukan helai,” paparnya.(si)
BERITA TERKAIT:
|