Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto,medan kini,terkini,medan, sumatera utara,sumut,nasional,ekonomi,sosial,budaya
Minggu, 20 Mei 2012
Follow: 
Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
Parapat Go-es & Fun With Famili 2012
Serah Terima Jabatan PJP PTPN IV Medan
 Serah Terima Jabatan PJP PTPN IV Medan
 Serah Terima Jabatan PJP PTPN IV Medan
Sertijab Direksi PTPN IV
Sertijab Direksi PTPN IV
Sertijab Direksi PTPN IV
Sertijab Direksi PTPN IV
Sertijab Direksi PTPN IV
Home  / Ragam
Dulmatin Tidak Suka Menghormat Bendera
PEMALANG (EKSPOSnews): Situasi rumah di Jalan Garuda Nomor 24 Desa Kebo Ijo, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, tempat kelahiran Dulmatin alias Joko Pitono, sejak Rabu (10/3) malam hingga Kamis (11/3) tampak ramai dan dipenuhi kursi yang berjajar.

Kesibukan juga terlihat pada keluarga Dulmatin untuk menyambut warga yang ingin sekedar menyampaikan ucapan belasungkawa atas meninggalnya Dulmatin alias Amar Usman alias Joko Pitono.

Dulmatin yang dilahirkan dari keluarga terpandang di Kecamatan Petarukan ini, sejak kecil dikenal warga setempat merupakan sosok yang pendiam dan cerdas.

Pria kelahiran 6 Juni 1970 dari pasangan suami-istri Masniati, 60, dan Usman Sofi ini makin populer dan dikenal masyarakat pascapeledakan bom Bali I.

Ayah tiri Dulmatin, Jazuli Arwan mengatakan, sejak kecil Dulmatin memang mempunyai kemampuan lebih dan tidak nakal.

Bahkan, saat menempuh pendidikan di sekolah dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2 Pemalang, Dulmatin suka membuat prakarya dan melukis.

"Namun, dia (Dulmatin -red) paling tidak suka terhadap orang yang suka berbohong dan berkelahi," katanya.

Selepas tamat SMP, Dulmatin kemudian melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Pemalang.

Namun, saat di SMAN 1 Pemalang, Dulmatin pindah ke SMA Muhamadiyah 1 Yogyakarta, karena dia berselisih paham dengan pihak sekolahnya.

Ia mengatakan, saat menempuh pendidikan di SMA 1 Pemalang, Dulmatin setiap hari Jumat selalu membolos.

"Saya tidak tahu, alasan Dulmatin yang selalu membolos setiap hari Jumat itu. Mungkin dirinya mempunyai sesuatu hal yang harus dikerjakan setiap hari Jumat tersebut," katanya.

Selain itu, katanya, Dulmatin juga tidak suka menghormat bendera merah putih saat upacara. "Saya nggak tahu persis alasan penolakan itu. Mungkin ia berpendapat mengapa benda harus dihormati," katanya.

Selepas tamat SMA, Dulmatin pernah bekerja ke Malaysia selama dua tahun dan kembali lagi ke kampung halamannya.

Setelah di rumah, pria yang pernah dikabarkan tewas di Mindanao, Filipina ini bekerja sebagai petani untuk membantu orang tuanya yang memiliki sawah cukup luas, dan sambil sebagai perantara jual beli kendaraan.

Aktivitas Dulmatin makin tidak diketahui oleh keluarga, setelah kedatangan temannya yang diketahui bernama Imam Samudra dan Muklas.

"Saat itu, kedua teman Dulmatin pernah melakukan shalat bersama saya. Namun, saat itu saya tidak tahu jika orang itu bernama Imam Samudra dan Muklas," kata Jazuli.

Namun, katanya, kini keluarga Dulmatin hanya pasrah dan tabah setelah dipastikan bahwa Dulmatin tewas saat aksi penyergapan oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri di Multiplus Pamulang, Tangerang, Banten.

"Hanya saja, kami berharap kepada Mabes Polri agar jasad Dulmatin dapat dibawa ke Pemalang untuk bisa dimakamkan di kampung halamannya," katanya.

Dulmatin yang beristri Istida itu telah dikarunia enam anak, yaitu Adibah, 14, Ali Amar, 13, Heidar, 12, Muhamed,11, Khotijah,10, dan Uyus Amar, 9.

Kakak kandung Dulmatin, Azam Baafud mengatakan, keluarga tidak mengetahui persis kegiatan yang dilakukan oleh Dulmatin pascapeledakan Bom Bali I.

"Kami kehilangan kontak dengan Dulmatin sudah hampir puluhan tahun. Namun, kami berkeyakinan jika Dulmatin tidak melakukan aksi kekerasan seperti yang dituduhkan karena dirinya tidak suka sikap seperti itu," katanya.

Juru bicara SMA Negeri 1 Pemalang, Wilujeng Ribut mengatakan, sejak duduk di bangku SMA, Dulmatin merupakan siswa yang cukup cerdas, terutama pada mata pelajaran eksata dan agama Islam.

"Sejak duduk di bangku SMA, nilai rapor mata pelajaran Dulmatin bertengger di angka delapan dan sembilan," katanya.

Namun, katanya, kecerdasan yang dimiliki Dulmatin tersebut, tidak diikuti dengan sikap dan tindakan saat mengikuti aturan di sekolah.

"Sikap aneh yang dimiliki Dulmatin ini, adalah dia tidak mau memberi hormat pada bendera merah putih saat sekolah mengadakan upacara yang dilakukan setiap hari Senin," katanya.

Kepiawaian Dulmatin juga terlihat dalam hal elektronika dengan dibuktikan dia mampu menciptakan lampu yang dikendalikan dengan `remote control`.

Dia menyesalkan jika kepandaian Dulmatin tersebut hanya digunakan untuk hal yang dilarang pemerintah.

"Kami kecewa setelah mendengar jika kepandaian Dulmatin disalahgunakan. Namun, secara pribadi kami merasa berduka cita atas tewasnya Dulmatin dalam aksi penyergapan di ruko Multiplus, Tangerang, Banten, pada 9 Maret 2010," katanya.(ant)

Share |
Leave your comment.
Name*:
Email*:
Website:
Comment*:
: * Type the captcha!
Mobile Version | Profile | Kontak | Iklan | Disclaimer | RSS
Copyright eksposnews.com © 2009-2012
All Rights Reserved. design by. arieweb