- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Fogging Diskriminatif, Bocah 6 Tahun Kena DBD di Siantar
Jansen
Bocah tiga tahun yang masih dirawat inap akibat mengidap penyakit DBDPEMATANGSIANTAR (EKSPOSnews): Bocah berumur enam tahun, Citra Vinsensius Sihaloho beralamat di Jalan Bola Kaki Gang Ruku No 40, Kelurahan Banjar, Kecamatan Siantar Barat terjangkit penyakit Demam Berdarah Demoque (DBD). Anak pertama pasangan dari T Haloho dan br Simanjuntak ini harus mendapatkan perawatan di rumah sakit Vita Insani, hingga Rabu (10/2).
Sebelumnya, daerah tersebut termasuk paling rawan, dan sudah ada beberapa korban akibat DBD tersebut baik orang tua dan anak-anak. Bahkan bocah berusia tiga tahun meninggal dunia terjangkit DBD. T Haloho mengatakan, awalnya anaknya mengalami demam tinggi, Senin (8/2) dan dibawa berobat ke Puskesmas di Kelurahan Banjar. Menurutnya, sesaat setelah diberikan obat dari pihak Puskesman, demam anaknya menurun, namun berselang 15 menit kemudian kembali meninggi. “Sebelumnya, saya tidak ada firasat buruk dan menduga hanya demam biasa maka diberikan obat demam. Namun hingga, Selasa (9/2) menurut Haloho kondisi anaknya justru tidak ada perubahan, sehingga dibawa berobat ke klinik dr Faisal. Atas saran dari dokter, meminta agar dilakukan pemeriksaan darah terhadap Citra ke laboratorium Rani di Jalan Merdeka. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, diketahui jika putranya terjangkit DBD. Selanjutnya atas rujukan dari dokter, Citra menjani rawat inap di RS Vita Insani. Haloho juga menambahkan, dari ciri-ciri fisik terdapat bintik-bintik merah di sekujur tubuh. Selain itu, anaknya juga mengalami mual dan terkesan gelisah. Dia juga menyayangkan sikap dari Puskemas Kelurahan Banjar dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemko Pematangsiantar tidak tanggap dalam mengantisiapsi merebaknya penyakit DBD tersebut. Menurutnya, sebelumnya di daerah tempat tinggalnya telah dilakukan foging (pengasapan), karena beberapa waktu lalu ada juga korban DBD. ”Sayangnya, ada kesan diskriminasi dalam melakukan fogging. Terbukti, ini dilakukan hanya disekitar arela rumah korban DBD,” sebutnya. Dia menillai, tindakan tersebut dinilai diskriminasi, pasalnya di Kelurahan Banjar paling marak penyebaran DBD dimaksud. Dikatakannya, seharusnya ini menjadi perhatian bagi Pemko Pematangsiantar melalui instansi terkait untuk mengantisipasi penyakit DBD tersebut. Menurutnya, jangan sampai korban bertambah, maka pemko melakukan foging secara merata.(jansen)
BERITA TERKAIT:
|