JAKARTA (EKSPOSnews) : Adegan seks dan judul berbau porno menjadi terus warnai perfilman Indonesia. Film komedi dan horor hanya sekadar genre, karena yang dijual justru vulgarisme dan sensualisme artisnya.
Makin maraknya produksi film kategori porno makin menambah jumlah artis bomseks wajah baru, yang siap melakukan adegan apa pun, yang penting popularitas digapai. Sebut saja Jenny Cortez yang memamerkan auratnya di film ‘Pemburu Hantu’ dan ‘Air Terjun Pengantin’. Juga Shinta Bachir yang berani beradena ciuman sesama jenis bersama bintang film porno nomor 2 di Jepang, Rin Sakuragi, di film ‘Suster Keramas’.
Ada juga Cynthiara Alona di film ‘Setan Budek’, Indah Kalalo yang mengumbar keseksian tubuhnya di film ‘Darah Perawan Bulan Madu’, atau Vivian Alamsyah di ‘Kawin Kontrak Lagi’, dan masih banyak yang lain.
Jenny Cortez mengaku melakukan adegan esek-esek dan memamerkan aurat adalah hal biasa. “Kalau berbikini di pantai atau di kolam renang itu kan biasa, jadi aku enjoy aja menjalaninya,” katanya. Dengan bahasa klasik dia membantah melakukan adegan vulgar sekadar cari popularitas. “Nggaklah. Bukan tujuan aku seperti itu. Aku hanya ingin berperan total,” tepisnya.
ADEGAN LESBIAN
“Aku kan melakukan adegan-adegan seperti itu karena sesuai skenario,” kata Shinta Bachir soal adegan mesum lesbianisme dengan bintang porno Rin Sakuragi.
Namun, dia tak masalah jika akhirnya dirinya mendapat julukan artis bomseks baru di jagat perfilman Indonesia. “Buat aku mendapat julukan bomseks atau apalah namanya, ya nggak masalah. Yang pasti, aku hanya berusaha profesional, dengan melakukan adegan apa saja asal sesuai cerita dan skenario,” tegasnya.
Hal sama diutarakan artis berdada besar, Cynthara Alona. “Aku sih nggak merasa jadi bomseks. Karena aku menganggap adegan-adegan yang aku lakukan di film masih biasa-biasa saja. Tapi kalau orang menjuluki aku artis bomseks, ya nggak masalah. Itu kan penilaian mereka,” katanya.
Cynthiara mengaku, tak tahu kenapa payudaranya yang besar selalu dimanfaatkan sutradara di setiap film yang dimainkannya. “Aku sendiri bingung, kenapa setiap main film selalu yang ditonjolkan itu payudaraku. Meski aku berperan sebagai pembantu, tetap saja payudara aku yang ditonjolkan,” katanya.
Vivian Alamsyah mengaku bangga dijuluki artis bomseks. “Masa Julia Perez saja yang dibilang bomseks, padahal banyak artis yang berani seksi. Aku juga seksi,” ujar Vivian.
Dia justru merasa senang dan bangga disebut artis bomseks. Karena untuk menjadi bomseks perlu biaya. “Jadi bomseks itu mahal. Karena harus selalu menjaga kebugaran dan keindahan tubuh. Nah, untuk merawat tubuh agar selalu seksi itu kan mahal,” ujarnya.
PAMER AURAT
Adegan seks dan pamer aurat memang telah menjadi bumbu penyedap di produksi film Indonesia. Karenanya, banyak film dengan beragam tema harus menyisipkan, bahkan mengutamakan, beberapa scene (adegan) vulgar. Tak peduli itu film komedi atau horor. Termasuk juga judulnya yang sudah berbau pornografi, sebut saja Suster Keramas, ML, XL (Extra Large), Hantu Puncak Bulan Madu, dan lainnya.
Film bertabur adegan seks dan judul yang juga ngeseks, sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Di tahun 80-an dan 90-an hal serupa pernah terjadi.
Di tahun 80-an artis bomseks sudah bertaburan, sebut nama Yati Octavia, Doris Callebout, Jenny Rachman, dan Dana Christina. Puncaknya adalah Yurike Prastica yang membuat heboh perfilman Indonesia lewat adegan-adegan mesumnya di film Pembalasan Ratu Pantai Selatan.
Masuk di masa 90-an, film Indonesia makin parah. Di tengah kelesuan produksi dan penonton, maka yang dijual adalah film-film erotis, dengan menampilkan artis-artis bomseks. Judul film pun tak kalah ngeseksnya. Ada Ranjang Pengantin, Gairah Malam, Cewek Metropolis, dan sebagainya.
Sedangkan di barisan artis bomseks tercatat nama Malvin Shayna, Kiki Fatmala, Ayu Yohanna, dan lainnya. Ada beberapa judul film yang berbau mesum, termasuk isinya yang penuh adegan pamer syahwat, sempat dilarang beredar (meski akhirnya diedarkan juga). Misalnya, ML (Mau Lagi), Buruan Cium Gue, Hantu Puncak Datang Bulan dan lainnya.
Ironis, makin dilarang justru film Indonesia makin merangsang. Semakin banyak mendapat kecaman, produser malah makin berlomba memproduksi film beraroma seks. (pk)