- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Pentas Budaya di Borobudur
MAGELANG (EKSPOSnews): Para seniman yang tergabung dalam Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI), Sabtu malam menyelenggarakan pentas budaya di halaman Hotel Pondok Tingal, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk menyambut Tahun Baru 2012.
Kegiatan tersebut diawali dengan kirab budaya oleh para seniman dari pos polisi pariwisata di sekitar Candi Borobudur menuju Hotel Pondok Tingal yang berjarak sekitar satu kilometer. Selain diikuti para seniman, kirab tersebut juga diikuti oleh anggota Motor Antik Club Magelang (MACM) yang mengendarai sepeda motor kuno mereka. Pada kirab tersebut ditampilkan permainan "obar-abir", yakni tongkat api yang diputar-putar. Ketua KSBI Umar Khusaeni, mengatakan pada kegiatan ini KSBI mencoba membuat catatan budaya untuk menyambut kedatangan tahun 2012. "Dengan semangat kebersamaan seni budaya di wilayah Borobudur sebagai salah satu tujuan wisata internasional ini bisa semakin bersemangat menjadi lebih baik dan selalu mengedepankan nilai-nilai tradisi. Ia menyebutkan, sejumlah grup kesenian yang tampil dalam kegiatan ini, antara lain kuda lumping, musik keroncong, kesenian "pentul tembem", pembacaan puisi, dan pantomim. Budayawan Magelang, Mualim, dalam pidato budaya mengatakan, secara nasional masih terjadi "gonjang-ganjing", yakni kerusuhan terjadi di sejumlah tempat, dan kekerasan. "Seharusnya disyukuri. Semua berada di sebuah wilayah peninggalan Candi Borobudur yang merupakan berkah dari Tuhan yakni sebuah monumen dunia," katanya. Ia mengatakan, menjadi berkah bagi semua karena warga tidak pernah tahu bagaimana Borobudur diciptakan, tetapi sebagai generasi pewaris mendapatkan berkah tersebut. "Selama ini Candi Borobudur sebagai warisan dunia, di mana bangsa-bangsa lain turut memeliharanya," katanya. Berkaitkan dengan kesejahteraan masyarakat, katanya, Borobudur sekarang menempati urutan ke-17 dari 22 kecamatan di Magelang. "Sebuah monumen dunia paling tidak dikunjungi ratusan ribu pengunjung setiap tahun ternyata belum berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Tentu hal ini menjadi sebuah tantangan tersendiri," ujarnya. Ia mengatakan, pergantian tahun sama artinya menatap ke depan untuk kehidupan yang lebih baik. "Kami berharap seniman menjadi agen perubahan, namun jangan sampai menjadi objek atau tergilas oleh perubahan itu sendiri," katanya.(antara)
BERITA TERKAIT:
|