- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Situs Benteng Putri Hijau Terbuka Bagi Wisatawan
NET
Benteng Putri HijauLUBUKPAKAM (EKSPOSnews): Situs Benteng Putri Hijau terletak di Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, terbuka bagi wisatawan domestik dan luar negeri meski bangunan peninggalan sejarah tersebut secara bertahap akan segera dipugar.
"Wisatawan yang ingin melihat langsung keberadaan situs bersejarah yang diperkirakan dibangun pada abad XVII pada masa Kerajaan Aru tersebut hingga kini terbuka bagi wisatawan," kata Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Kebudayaan Kabupaten Deli Serdang, Haris Binsar Ginting di Lubuk Pakam, Kamis 9 Juni 2011. Menurut dia, Benteng Putri Hijau sejak lima tahun terakhir relatif ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal, terutama dari Kota Medan dan daerah lain di Sumatera Utara (Sumut). Para wisatawan lokal bukan hanya sekadar ingin melihat langsung bekas peninggalan sejarah yang diperkirakan dibangun oleh perpaduan Suku Melayu, Karo dan Aceh itu saja, tetapi juga banyak di antara mereka mandi di pancuran air di benteng yang kini sebagian kondisi fisiknya sudah termakan usia tersebut. Untuk menyelamatkan situs bersejarah itu, kata Haris, pihaknya bekerja sama dengan instansi terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang juga telah menetapkan batas areal komplek Benteng Putri Hijau yang memiliki total luas sekitar 12 hektare. Di dalam komplek lokasi wisata direncanakan juga akan dibangun museum yang nantinya akan dijadikan tempat penyimpanan benda-benda bersejarah yang ditemukan para arkeolog dari bangunan benteng yang sebagian besar sudah tertimbun tanah. Dia menambahkan, di lokasi Benteng Putri Hijau sejak tahun 2009 hingga sekarang ini masih berlangsung kegiatan ekskavasi yang melibatkan para arkeolog dan sejarawan dari Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Sumut-Aceh. Dari ekskavasi sementara, kata Haris, di sekitar lokasi Benteng Putri Hijau telah ditemukan sejumlah kepingan benda purbakala, antara lain beberapa jenis barang dari bahan tembikar dan keramik, termasuk uang logam yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun. Dalam upaya menyelamatkan situs bersejarah itu, lanjut dia, Pemkab Deli Serdang telah mengusulkan kepada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata agar menetapkan Benteng Putri Hijau di Dusun XI, Kecamatan Deli Tua, sebagai cagar budaya yang harus dilindungi dan dipertahankan kelestariannya. "Upaya pemugaran Benteng Putri Hijau di Deli Tua mulai dilakukan secara bertahap oleh Pemerintah Kabupaten Deli Serdang. Kami juga telah mengusulkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata agar menjadikan Benteng Putri Hijau sebagai cagar budaya," katanya. Kalangan peneliti dan arkeolog menyimpulkan sementara bahwa benteng itu bukan terbentuk dengan sendirinya atau bukan karena faktor alam, melainkan memang dibuat oleh manusia. "Keyakinan bahwa benteng itu buatan manusia jauh lebih penting. Hal ini dibuktikan dari lapisan tanah paling atas benteng lebih tua dan semakin dalam semakin muda, tidak sebagaimana lazimnya struktur tanah makin ke dalam semakin tua," kata Sejarawan dari Universitas Negeri Medan, Dr Phil Ichwan Azhari. Dia menilai, benteng yang penuh sejarah yang hampir rata dengan tanah itu sesungguhnya merupakan salah satu temuan sejarah paling spektakuler dan merupakan rekayasa cerdas manusia pada abad itu. "Keberadaannya juga akan menguak lebih jauh kejayaan Kerajaan Aru, Benteng Putri Hijau, Kota China dan Kota Rantang. Kejayaan Kerjaaan Aru ini sangat disegani, terbukti masuk dalam Sumpah Palapa Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit yang mengatakan, tidak akan istirahat sebelum Kerajaan Pasai dan Aru ditaklukkan," papar Ichwan. Pemberitaan seputar kerusakan Benteng Putri Hijau telah pula mengundang perhatian dari sejumlah kalangan sejarawan dan diplomat asing di Medan, di antaranya Konsul Jenderal (Konjen) Amerika Serikat di Medan saat dijabat oleh Sean Stein dan Konjen Jepang, Yuji Hamada.(an)
BERITA TERKAIT:
|