- Home
- Nasional
- Politik
- Ekonomi & Keuangan
- Hukum & Kriminal
- Agribisnis
- Olahraga
- Hiburan
- Ragam
- Gallery
- Pilkada
- Index

|
||
|
Ternyata Wisata Religi Ada di Singapura
NET
Candi Sri SivanSINGAPURA (EKSPOSnews): Biasanya, orang mengenal objek wisata di Singapura adalah Marina Bay
Sands, Art Science Museum, Merlion Park (Patung Singa setinggi 8,6 meter
dan berbobot 70 ton), Tanglion Mall Bazaar, Esplanade, Sentosa
Boardwalk, Universal Studios, dan banyak lagi.
Namun, puluhan peserta "Asia Journalism Forum" (AJF) dari kalangan jurnalis, akademisi, dan tokoh agama dari 11 negara yang menggelar konferensi dan workshop di Singapura pada 5-8 April 2011 justru mengintip objek wisata yang lain di Negeri Singa itu. Sebagai negara dengan mayoritas pemeluk agama Buddha, Singapura sangat kaya dengan candi mulai dari Hindu, Buddha, dan China (kuil). Data tahun 2010 mencatat pemeluk Islam di Singapura mencapai 14,7 persen dari 5,08 juta penduduk, sehingga jumlah pemeluk Hindu/Buddha lebih dominan. Barangkali, fakta itu membuat penyelenggara AJF mengajak peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, India, Pakistan, China, Nepal, dan Srilanka untuk melongok objek wisata berupa pusat-pusat keagamaan Buddha, Hindu, dan Islam. Salah satu candi yang direkomendasikan oleh penyelenggara AJF dari NTU dan NUS untuk peserta konferensi dan workshop AJF bertajuk "Reporting Religion: Dilemmas of Public Discourse" adalah Candi Sri Sivan yang terletak di 24 Geylang East Ave 2, Kota Singapura. Kedatangan peserta AJF disambut pengurus candi Hindu itu dengan tarian dan musik "Selamat Datang", bahkan peserta pun banyak mengagumi tarian yang disuguhkan dengan banyak bertanya kepada sang penari tentang fungsi dan proses latihan dari tarian itu. Tidak hanya itu, peserta juga diajak mengelilingi candi umat Hindu itu dengan dipandu pengurus candi yang menjelaskan fungsi patung di sekitar candi, lalu peserta pun diajak menyaksikan ritual umat Hindu Singapura saat berdoa di pusat persembahyangan di lantai atas. Selepas mengitari candi, peserta diajak menikmati makanan khas yang disajikan di situs yang berusia tua yang tidak menggunakan piring dan diganti dengan daun pisang berukuran besar yang dirangkai dengan nasi, sayur, dan "tanpa ikan" itu. "Ya, menyenangkan, sebab habis 'tawaf' (berkeliling), lalu makan bersama-sama," kata peserta AJF. Nonpolitik Lain halnya dengan kunjungan ke Jamiyah Singapore yang merupakan komunitas Muslim di Singapura (The Muslim Missionary Society Singapore) yang beralamat di 31 Lorong 12 Geylang, Singapura. Kedatangan peserta AJF disambut dengan musik rebana (hadrah) dan atraksi silat yang dimainkan seorang pemuda di pintu masuk "Jamiyah Singapore" itu. Begitu masuk ke gedung berlantai 4 itu, peserta langsung diajak menikmati makanan oleh Presiden Jamiyah Singapura, Datuk Sri Paduka Utama Haji Abu Bakar Maidin. Sambil menyantap hidangan yang disajikan, peserta AJF mendapatkan penjelasan tentang sejarah Jamiyah Singapura dalam bentuk tayangan video, kemudian video tentang Jamiyah Singapura itu dibagikan kepada setiap peserta AJF dalam bentuk VCD. "Jamiyah kami yang berdiri sejak tahun 1932 itu memang bersifat nonpolitik untuk melayani umat Islam dan masyarakat Singapura melalui pendekatan pendidikan, kesehatan, bisnis, dan konsultasi agama," tuturnya. Setelah itu, peserta diajak naik ke lantai 3 dan 4. Lantai 3 merupakan lembaga pendidikan mulai dari Kelompok Bermain hingga memasuki SD/SMP/SMA, sedangkan lantai 4 yang merupakan grosir bahan kebutuhan pokok dan lokasi untuk konsultasi hukum agama. Untuk lantai 2 di Jamiyah Singapura terdapat Masjid Jamiyah yang luas. Pendekatan nonpolitik dan melayani publik agaknya menjadi pilihan yang menarik untuk menghindari konflik agama yang marak di sejumlah benua. Yang jelas, di Singapura tidak hanya menyimpan wahana wisata seperti Marina Bay Sands atau Patung Merlion, tapi Negeri Singa itu juga menyimpan potensi wisata religi yang tidak kalah uniknya.(an)
BERITA TERKAIT:
|