Kota Tua di Pulau Borneo

Jumat, 12 November 2010 | 05:35:02
blogspot

Kota tua Banjar memiliki sejarah peradaban paling panjang di ujung selatan Pulau Borneo Kalimantan. Umurnya hanya

terpaut dua tahun lebih muda dari ibu kota RI, Jakarta.


Meskipun merupakan kota tertua, pesona Banjarmasin tetap dapat dirasakan hingga detik ini. Kota dengan "gunung

bamega" itu menawarkan beragam tujuan anjangsana yang memikat.

Jangan pernah melewatkan kota batu permata Martapura, di sanalah intan terbaik sepanjang masa pernah dihasilkan

melalui penambangan yang masih sangat tradisional.


"Kalau pernah dengar tentang intan trisakti yang kini tidak diketahui lagi keberadaannya itu, asalnya dari

Martapura. Intan itu ditambang saat zaman Presiden Soekarno dan dilelang di luar negeri," kata Gubernur Provinsi

Kalimantan Selatan, Rudy Ariffin.

Rudy yang pernah menjabat sebagai Bupati Martapura sebelumnya itu, mengatakan, Martapura merupakan penghasil

permata terbaik untuk jenis intan.


Kini, batu alam dengan standar kecerahan yang beragam bisa didapatkan dari harga termurah hingga yang saking

langkanya sampai tak bisa dinominalkan dengan mata uang. Martapura punya semuanya.

Permata hanya salah satu, Borneo Selatan menyimpan sejuta pesona lain. Pasar Terapung Sungai Tabuk,Lokbaintan, dan

Kuin di Banjarmasin Utara layak dikunjungi agar mampu memaknai indahnya berbelanja di sampan dan perahu tua yang

unik.


Sayur-mayur, ikan, kue, dan penganan dijajakan dari perahu ke perahu sejak suara adzan subuh berkumandang.

Masyarakat Suku Banjar dari kampung Melayu tahu betul bagaimana berdagang selepas menunaikan sholat subuh dan

berdzikir.


Cobalah sekali-kali untuk mencicipi kue dari piring yang disajikan dengan sensasi terayun-ayun di atas sampan.

Sementara air terjun di hulu Sungai Selatan yang berair jernih menanti untuk disambangi. Nun di Desa Loksadoh,

masyarakat Suku Dayak mendiami kawasan berair terjun yang juga terdapat mata air panas di sekitarnya.

Hutan di sekitarnya terpelihara hijau karena merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi. Turis asing dari Belanda

tidak akan kembali ke negaranya sebelum menyambangi tempat yang berjarak 160 km dari pusat kota Banjarmasin itu.

Bergeser ke Kota Baru. Jika teringat lagu pujangga "Kota Baru gunungnya bamega" di sanalah tempatnya. Lagu itu

mencerminkan keadaan sesungguhnya di kota pantai itu.


Pegunungan yang tinggi dengan mega-mega di sekitarnya menambah elok Pantai Sarangtiung di bawahnya. Kota itu

demikian melegenda lantaran hampir semua orang menyukai lagu Kota Baru Gunungnya Bamega.

Jika masih menginginkan lebih banyak menghirup udara pantai, 95 km dari pusat kota Banjarmasin, pantai Takisung

menanti dikunjungi. Ada pula Pantai Batakan yang juga indah di Kabupaten Tanah Laut.

Sungai adalah pesona lain. Masyarakat di Kalimantan memandang sungai sebagai kehidupan. Oleh karena itu, mencemari

sungai adalah dosa yang mustahil mereka lakukan.


Inilah hasilnya, sungai yang mengalirkan air jernih di sepanjang hulu-hilir Barito, Martapura, dan Amandit.

Di pagi hingga senja hari, Barito semakin cantik dengan jembatannya yang kondang itu.

Kalimantan di ujung selatan pantas menjadi tujuan wisata susur sungai yang mustahil bisa didapatkan di tempat lain.

A la Banjar

Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin, mengatakan, saat ini wilayahnya terbagi dalam 11 kabupaten dan 2 kotamadya dengan

jumlah penduduk 3,4 juta jiwa.

"Fakta ini menunjukkan bahwa Kalsel merupakan provinsi terpadat di Kalimantan dibandingkan provinsi lainnya,"

katanya.

Banjarmasin merupakan kota pertama yang berkembang di Bumi Kalimantan jadi pantas bila pada perkembangannya ia

menjadi kota yang paling padat.

Kepadatan itu menjadikan Kalsel kaya akan budaya dan tradisi yang unik.

Boleh saja lain waktu mencoba menggoyangkan badan a la Suku Banjar yang sedang menari tarian Banjar yang mulai

langka itu.


Masyarakat Suku Banjar yang asli Melayu itu sering pula mempertontonkan Madihin, alunan musik terbang sembari

berpantan gaya Melayu.

Mereka tidak sekadar berpantun, melainkan menyampaikan petuah melalui budaya yang diwariskan sejak puluhan tahun

silam.

Tak jauh dari permukiman Suku Banjar, masyarakat dari Suku Dayak tak pernah canggung mempertontonkan tarian Dades

Giring-giring yang unik.


Pegunungan adalah latarnya dan gadis Dayak yang berkulit putih akan menarikannya dengan gemulai.

Di tempat yang sama, mereka hidup berdampingan dengan bekantan, varietas endemik sejenis kera yang hanya mendiami

hutan pedalaman Kalsel.

Kuliner adalah sesuatu yang paling menarik di Banjar. Soto banjar dengan campuran telur itik hanya salah satu yang

layak dicoba. Masih ada ikan seluang, ikan papuyu, dan ikan haruan yang dimasak pedas.

Banyak yang setelah mencicipinya tak ragu untuk berucap Unda Cinta Banjar alias aku cinta Banjar.


Jangan lupa untuk memborong cenderamata asal Kalsel bila tiba waktunya kembali ke kampung halaman.

UKM di wilayah itu menawarkan souvenir khas berupa batik sasirangan yang beragam warnanya. Miniatur mandao, senjata

suku asli juga banyak ditawarkan kepada wisatawan.

Alangkah lebih afdolnya jika wisatawan pulang dari Banjar dengan bertopi purun yang semakin langka itu.

Kerajinan dari rotan dan enceng gondok juga banyak dikembangkan di provinsi itu.


Penganan untuk ditenteng pulang bisa berupa amplang, kropok, abon ikan, hingga dendeng itik.

Kalsel tak pernah kehabisan cara untuk menyenangkan pendatangnya. Bahkan untuk memuaskan rasa penasaran masyarakat

di ibukota Jakarta, pemerintah provinsi melalui Dinas Koperasi dan UKM setempat akan menjual produk UKM khas Kalsel

di Jakarta.

"Jangan khawatir, sebelum tutup tahun ini souvenir khas Kalsel akan dipasarkan juga di Gedung Smesco Jakarta," kata

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kalsel, Taufik Akamudin.


Dengan begitu, masyarakat di Jakarta yang tak punya waktu panjang ke Banjar bisa mendapatkan cenderamatanya di

Gedung Smesco.

"Kalsel itu punya segalanya, sayangnya hanya satu, belum dilirik. Itu saja," kata Menteri Koperasi dan UKM,

Sjarifuddin Hasan, dalam sebuah kunjungannya ke Kalsel.


Namun sayang seribu sayang, Kalsel saat ini menghadapi persoalan penambangan liar batubara yang hampir sulit

dikontrol. Hektaran lahan terancam rusak parah akibat penambangan liar tak berizin.

Jangan sampai wajah bermega Banjar yang indah ternoda akibat perbuatan tak bertanggung jawab bahkan sebelum ia

dilirik.(ant)

BERITA LAINNYA
Gubernur Optimis dengan Perkembangan Wisata Sumbar
Senin, 20 Oktober 2014 | 13:26:17
Makanan Gratis di Bundaran HI Ludes
Senin, 20 Oktober 2014 | 13:03:12
Jajanan Pelantikan Jokowi-JK Laku Keras
Senin, 20 Oktober 2014 | 12:26:52
Jajanan Betawi di Mal Artha Gading
Senin, 20 Oktober 2014 | 06:18:53
Lomba Mancing Nasional di Pesisir Selatan
Sabtu, 18 Oktober 2014 | 19:04:11
Festival Budaya Indonesia di London
Jumat, 17 Oktober 2014 | 08:05:05
Labuhanbatu Juara Dua Duta Wisata Sumut
Kamis, 16 Oktober 2014 | 06:42:46
Sabang Prioritas Pengembangan Wisata
Selasa, 14 Oktober 2014 | 21:28:09
Chatime Ramaikan Kuliner Manado
Selasa, 14 Oktober 2014 | 21:27:10
Bos Facebook Perkuat Promosi Borobudur
Senin, 13 Oktober 2014 | 05:16:53
Mendorong Wisata Mancing di Bali
Minggu, 12 Oktober 2014 | 20:55:57
Abu Vulkanik Sinabung Tutupi Permukaan Danau Toba
Sabtu, 11 Oktober 2014 | 18:57:29
BERIKAN KOMENTAR
Top