Gurita Bisnis Martua Sitorus

Jumat, 12 Maret 2010 | 05:28:05
Martua Sitorus
Penampilannya sederhana. Orangnya tidak banyak bicara dan sebagaimana pengusaha keturunan China di Indonesia, Martua Sitorus, juga menganut paham sedikit bicara banyak bekerja.

Tiga tahun terakhir, namanya bertengger di papan orang terkaya di dunia versi majalah Forbes. Awalnya Martua bekerja di PT Musim Mas Medan di pabrik es. Karena orangnya rajin dan mampu mengembangkan usaha Musim Mas, bos usaha perdagangan minyak sawit mentah dan sabun cuci itu, Karim, memercayakan penjualan sabun dan minyak sawit mentah kepada Martua.

Bila tahun lalu Martua menempati peringkat 522 terkaya di dunia dengan jumlah kekayaan US$1,4 miliar, kini kekayaan Martua meningkat menjadi US$3,0 miliar. Peringkat pun terdongkrak menjadi 316.

Sesungguhnya kekayaan Martua jauh di atas angka tersebut jika asset yang ditangani pihak ketiga (perusahaan yang dikendalikan pihak lain, namun dananya dari Martua) ikut dihitung. Misalnya, pembangunan J.W. Marriot Medan yang sebagian sahamnya dimiliki Martua Sitorus.

Demikian juga perkembunan kelapa sawit yang kini dikembangkan di Afrika Barat seluas 200.000 ha belum masuk hitungan Forbes.
Martua sempat menyandang orang terkaya ke-7 di Indonesia pada 2007 dan ke 14 pada 2006 versi majalah yang sama. Meski berkebangsaan Indonesia, dia saat ini tinggal di Singapura sambil menyetir semua gurita bisnisnya.

Martua Sitorus, sesungguhnya dibesarkan oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang menjual minyak sawitnya kepada perusahaan yang ditangani Martua dan keluarga lewat PT Karya Prajona Nelayan yang berkali-kali mendapatkan penghargaan Primaniyarta dari Departemen Perdagangan sebagai sebuah perusahaan trader yang mampu memasok devisa besar bagi kocek negara.

Perjalanan bisnis Martua bukan tidak pernah dihadang masalah. Ketika pajak ekspor crude palm oil (CPO) dekade 1990-an sempat mencapai 80 persen, perusahaan trading minyak sawit mentah itu sempat dituding mengekspor CPO secara illegal ke luar negeri untuk menghindari pajak ekspor yang relatif tinggi (sekarang namanya bea keluar CPO dan produk turunnya). Adiknya, Ganda Sitorus sempat buron dan kini keberadaannya tinggal di Singapura.

Hal lain yang pernah membuat Martua pusing ketika salah satu anak usahanya yang mengekspor CPO ke Rotterdam ditunding mencampur minyak sawit mentah dan solar, sehingga ditolak pembeli dari Eropa. Hadangan tersebut bisa dilewati Martua dan group bisnisnya, walaupun harus mengorbankan dana yang tidak kecil. Ongkos mengangkut kembali CPO dari Rotterdam, bukan sedikit dan kerugian perusahaannya akibat CPO bercampur minyak solar itu lumayan besar.

Martua lahir 49 tahun lalu di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Sarjana ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen, Medan, yang kecilnya dikenal dengan nama Thio Seng Hap dan dikenal juga dengan panggilan A Hok Martua dulu sempat bekerja di pabrik es milik PT Musim Mas di Belawan.

Setelah Martua mengetahui dan memahami seluk beluk bisnis minyak sawit di pasar internasional, dia menggaet keluarga Kwok Bersaudara untuk bekerja sama mengembangkan bisnisnya di Indonesia.

Martua memulai karir bisnisnya sebagai pedagang minyak sawit dan kelapa sawit di Indonesia dan Singapura. Bisnisnya berkembang pesat karena Kwok Bersaudara terutama William Kwok memasok modal dan memberikan kepercayaan penuh kepada Martua mengembangkan dan mengendalikan bisnisnya di Indonesia.

Mulai dari bisnis memasok gula ke Indonesia, perkapalan (pengangkutan), tangki timbun, pemasok pupuk kimia, perdagangan minyak sawit mentah (PT Karya Prajona Nelayan), perkebunan kelapa sawit, pabrik minyak goreng hingga pabrik pengolahan kelapa sawit dirambah mulai dari Sumatra dan Kalimantan.

Pengembangan bisnis Martua tidak terlepas dari pemberian fasilitas kredit oleh Bank Mandiri. PT Prajona Nelayan Group (sebelum diubah namanya menjadi Wilmar Trading) mendapatkan kredit investasi dan modal kerja dari Bank Mandiri.

Perusahaan ini pun sempat dikendalikan dari Gedung Bank Mandiri Medan sebelum pindah ke J.W. Marriot Hotel Medan yang kini sahamnya dimiliki sebagian besar oleh Martua Sitorus.

Pada 1991 Martua mampu memiliki kebun kelapa sawit sendiri seluas 7.100 hektare di Sumatra Utara. Pada tahun yang sama pula Martua bisa membangun pabrik pengolahan minyak kelapa sawit pertamanya.

Warga keturunan Tionghoa kemudian melebarkan sayapnya dengan bendera Wilmar (singkatan dari William Kwok dan Martua) International Limited. Perusahaan agrobisnis terbesar di Asia ini merupakan perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Singapura. Bahkan, untuk pabrik biodiesel, dia memiliki produksi terbesar di dunia. Meski sebagai pemilik, Martua masih menduduki jabatan direktur eksekutif di Wilmar.

Pembangunan biodiesel dilakukan di Riau pada 2007 dengan membangun tiga pabrik biodiesel, masing-masing berkapasitas produksi 350.000 ton per tahun, sehingga total kapasitasnya 1,050 juta ton per tahun.

Di negeri ini, Wilmar memiliki sekitar 48 perusahaan. Salah satunya adalah PT Multimas Nabati Asahan, yang memproduksi minyak goreng bermerek Sania. Dalam laporan keuangan Wilmar, total aset Wilmar pada 2007 mencapai US$15,5 miliar, dengan pendapatan US$16,46 miliar. Pada tahun itu Wilmar juga bisa membukukan laba bersih US$675 juta. (em)


BERITA LAINNYA
Inovatif, Kunci Sukses Pria Ini
Rabu, 15 Oktober 2014 | 08:20:56
Profil Setya Novanto Ketua DPR 2014-2019
Jumat, 3 Oktober 2014 | 04:08:40
Anggota TNI yang Nyambi jadi Guru di Pelosok
Kamis, 2 Oktober 2014 | 03:25:50
Snowden Raih Nobel Alternatif
Kamis, 25 September 2014 | 18:25:03
Inilah Pria yang Paling Ditakuti Pemerintah Tiongkok
Rabu, 24 September 2014 | 18:13:48
Jack Ma Pernah Ditolak Bekerja di KFC
Minggu, 21 September 2014 | 12:39:54
Dari Senam Menjadi Atlet Wushu Berprestasi
Sabtu, 20 September 2014 | 19:28:01
Orang Inilah Penyelamat Satwa Liar dari Kepunahan
Jumat, 19 September 2014 | 20:03:33
Kesulitan Perankan Karakter Orang Minangkabau
Jumat, 19 September 2014 | 05:18:21
Aula dan Ainul, Raja dan Ratu Baca Aceh 2014
Minggu, 14 September 2014 | 18:56:01
Berserah, Komitmen, dan Kerja Keras
Jumat, 5 September 2014 | 08:07:01
BERIKAN KOMENTAR
Top