Rabu, 30 Juli 2014
Follow: 
Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto,medan kini,terkini,medan, sumatera utara,sumut,nasional,ekonomi,sosial,budaya
Kunjungi eksposnews.com dari HP Anda!
  • Home  / Sosok
    Gurita Bisnis Martua Sitorus
    Jumat, 12 Maret 2010 | 05:28:05
    Penampilannya sederhana. Orangnya tidak banyak bicara dan sebagaimana pengusaha keturunan China di Indonesia, Martua Sitorus, juga menganut paham sedikit bicara banyak bekerja.

    Tiga tahun terakhir, namanya bertengger di papan orang terkaya di dunia versi majalah Forbes. Awalnya Martua bekerja di PT Musim Mas Medan di pabrik es. Karena orangnya rajin dan mampu mengembangkan usaha Musim Mas, bos usaha perdagangan minyak sawit mentah dan sabun cuci itu, Karim, memercayakan penjualan sabun dan minyak sawit mentah kepada Martua.

    Bila tahun lalu Martua menempati peringkat 522 terkaya di dunia dengan jumlah kekayaan US$1,4 miliar, kini kekayaan Martua meningkat menjadi US$3,0 miliar. Peringkat pun terdongkrak menjadi 316.

    Sesungguhnya kekayaan Martua jauh di atas angka tersebut jika asset yang ditangani pihak ketiga (perusahaan yang dikendalikan pihak lain, namun dananya dari Martua) ikut dihitung. Misalnya, pembangunan J.W. Marriot Medan yang sebagian sahamnya dimiliki Martua Sitorus.

    Demikian juga perkembunan kelapa sawit yang kini dikembangkan di Afrika Barat seluas 200.000 ha belum masuk hitungan Forbes.
    Martua sempat menyandang orang terkaya ke-7 di Indonesia pada 2007 dan ke 14 pada 2006 versi majalah yang sama. Meski berkebangsaan Indonesia, dia saat ini tinggal di Singapura sambil menyetir semua gurita bisnisnya.

    Martua Sitorus, sesungguhnya dibesarkan oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang menjual minyak sawitnya kepada perusahaan yang ditangani Martua dan keluarga lewat PT Karya Prajona Nelayan yang berkali-kali mendapatkan penghargaan Primaniyarta dari Departemen Perdagangan sebagai sebuah perusahaan trader yang mampu memasok devisa besar bagi kocek negara.

    Perjalanan bisnis Martua bukan tidak pernah dihadang masalah. Ketika pajak ekspor crude palm oil (CPO) dekade 1990-an sempat mencapai 80 persen, perusahaan trading minyak sawit mentah itu sempat dituding mengekspor CPO secara illegal ke luar negeri untuk menghindari pajak ekspor yang relatif tinggi (sekarang namanya bea keluar CPO dan produk turunnya). Adiknya, Ganda Sitorus sempat buron dan kini keberadaannya tinggal di Singapura.

    Hal lain yang pernah membuat Martua pusing ketika salah satu anak usahanya yang mengekspor CPO ke Rotterdam ditunding mencampur minyak sawit mentah dan solar, sehingga ditolak pembeli dari Eropa. Hadangan tersebut bisa dilewati Martua dan group bisnisnya, walaupun harus mengorbankan dana yang tidak kecil. Ongkos mengangkut kembali CPO dari Rotterdam, bukan sedikit dan kerugian perusahaannya akibat CPO bercampur minyak solar itu lumayan besar.

    Martua lahir 49 tahun lalu di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Sarjana ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen, Medan, yang kecilnya dikenal dengan nama Thio Seng Hap dan dikenal juga dengan panggilan A Hok Martua dulu sempat bekerja di pabrik es milik PT Musim Mas di Belawan.

    Setelah Martua mengetahui dan memahami seluk beluk bisnis minyak sawit di pasar internasional, dia menggaet keluarga Kwok Bersaudara untuk bekerja sama mengembangkan bisnisnya di Indonesia.

    Martua memulai karir bisnisnya sebagai pedagang minyak sawit dan kelapa sawit di Indonesia dan Singapura. Bisnisnya berkembang pesat karena Kwok Bersaudara terutama William Kwok memasok modal dan memberikan kepercayaan penuh kepada Martua mengembangkan dan mengendalikan bisnisnya di Indonesia.

    Mulai dari bisnis memasok gula ke Indonesia, perkapalan (pengangkutan), tangki timbun, pemasok pupuk kimia, perdagangan minyak sawit mentah (PT Karya Prajona Nelayan), perkebunan kelapa sawit, pabrik minyak goreng hingga pabrik pengolahan kelapa sawit dirambah mulai dari Sumatra dan Kalimantan.

    Pengembangan bisnis Martua tidak terlepas dari pemberian fasilitas kredit oleh Bank Mandiri. PT Prajona Nelayan Group (sebelum diubah namanya menjadi Wilmar Trading) mendapatkan kredit investasi dan modal kerja dari Bank Mandiri.

    Perusahaan ini pun sempat dikendalikan dari Gedung Bank Mandiri Medan sebelum pindah ke J.W. Marriot Hotel Medan yang kini sahamnya dimiliki sebagian besar oleh Martua Sitorus.

    Pada 1991 Martua mampu memiliki kebun kelapa sawit sendiri seluas 7.100 hektare di Sumatra Utara. Pada tahun yang sama pula Martua bisa membangun pabrik pengolahan minyak kelapa sawit pertamanya.

    Warga keturunan Tionghoa kemudian melebarkan sayapnya dengan bendera Wilmar (singkatan dari William Kwok dan Martua) International Limited. Perusahaan agrobisnis terbesar di Asia ini merupakan perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Singapura. Bahkan, untuk pabrik biodiesel, dia memiliki produksi terbesar di dunia. Meski sebagai pemilik, Martua masih menduduki jabatan direktur eksekutif di Wilmar.

    Pembangunan biodiesel dilakukan di Riau pada 2007 dengan membangun tiga pabrik biodiesel, masing-masing berkapasitas produksi 350.000 ton per tahun, sehingga total kapasitasnya 1,050 juta ton per tahun.

    Di negeri ini, Wilmar memiliki sekitar 48 perusahaan. Salah satunya adalah PT Multimas Nabati Asahan, yang memproduksi minyak goreng bermerek Sania. Dalam laporan keuangan Wilmar, total aset Wilmar pada 2007 mencapai US$15,5 miliar, dengan pendapatan US$16,46 miliar. Pada tahun itu Wilmar juga bisa membukukan laba bersih US$675 juta. (em)


    Akses berita terbaru versi mobile di: m.eksposnews.com
    woww,,, hebat, sangat membanggakan

    Pak Martua, mungkin perkebunan sawitnya sdh ada yang mau di replanting, kalau ada yg mau di repalanting mohon diberikan proyeknya dong....thanks.

    ingatlah segalanya yg kita miliki semua dari Tuhan.. mati ga bawa harta. sukses bwt martua

    horas lae...jaya terus,suatu hr kelak kita akan ketemu dlm kapasitas saling menguntungkan.

    Lah, make marga batak "Sitorus" ternyata orang china juga, bijimana tuh..???? Jadi, sebetul-betulnya, belum ada orang asli pribumi Indonesia yang kaya...!

    pak martua....pinjamin saya uang buat modal usaha biar saya bisa sukses seperti bapak....saya capek hidup susah...saya mau punya kehidupan yang lebih baik dari sekarang.....

    AUDIT BAGIAN EKSPEDISI S4 DI DUMAI KARENA BANYAK KORUPSI DI PERUSAHAAN ADIK BAPAK

    semoga musnah perusahaan2 seperti ini
    http://walhi.or.id/in/kampanye/air-dan-pangan/143-siaran-pers/1831-presiden-membangun-papua-dengan-bencana

    "Lebih baik kaya didunia dan lebih baik meninggal dalam keadaan kaya" sy suka kuotasi sukses tokoh ini. Etos bisnis menghindari rugi inilah hemat kami yang membuat tokoh ini tumbuh jadi pengusaha Jawara dan bermanfaat bagi banyak orang. Dalam keyakinan penulis, bung Martua akan lebih dahsyat lagi pengaruhnya bila juga mampu mentransformasikan ilmu dan keterampilan bisnisnya kepada sebanya mungkin orang, sehingga kelak namanya terus mengabadi. salam hangat dan salam sukses selalu.

    Wow.. hebat.. salut.. musti belajar ilmu kya gtu neh... d universitas mana pun ga ada d pembelajaran materi spt ini... hehhehee...

    hebat...sangat menginspirasi..semoga makin banyak spt dia di Indonesia

    saya salut sama Martus Sitorus, mampu membangun bisnis kelas dunia yg dimulai dari awal (karyawan)

    Leave your comment.
    Name*:
    Email*:
    Website:
    Comment*:
    : * Type the captcha!