Sabtu, 02 Agustus 2014
Follow: 
Media, Indonesia, berita Indonesia, foto Indonesia, portal Indonesia, berita terkini, berita ekonomi, berita bisnis, berita olahraga, berita hiburan, berita lingkungan, berita politik, rss feed, galeri foto,medan kini,terkini,medan, sumatera utara,sumut,nasional,ekonomi,sosial,budaya
Kunjungi eksposnews.com dari HP Anda!
  • Tradisi Patita di Bali
    Minggu, 12 Mei 2013 | 02:57:55
    DENPAsAR (EKSPOSnews): Warga Maluku yang berdomisili di Bali menggelar tradisi "patita" atau makan bersama yang menunjukkan kerukunan di antara warga Ambon yang memeluk agama Islam dan Kristen.

    "Tradisi ini tetap kami pertahankan di sini dan adalah bagian dari peringatan hari Pattimura," kata Samuel Uruila selaku Ketua Ikatan Masyarakat Maluku (Ikemal) Bali di Denpasar, Sabtu 11 Mei 2013.

    Tradisi dari tanah nenek moyang tetap dipertahankan di Bali. Hal itu untuk menjaga kerukunan dan keakraban di antara warga Ambon yang bermukim di Pulau Dewata.

    Setiap keluarga harus membawa makanan khas Maluku, seperti ketupat santan, sayur urab dan papeda, yang dikumpulkan dalam satu tempat.

    "Seluruh makanan itu kemudian disantap bersama-sama tanpa melihat latar belakang agama ataupun jabatan, semuanya bersatu sebagai keluarga besar," ucapnya.

    Warga asal Maluku yang berada di Pulau Dewata saat ini sekitar 1.200 kepala keluarga atau berjumlah tidak kurang dari 3.500 jiwa.

    "Mereka tersebar di seluruh kabupaten/kota di Bali. Sebagai paguyuban yang cukup besar jumlahnya berusaha selalu menjaga kerukunan dan membantu pembangunan di daerah ini," ucapnya.

    Sebelum melakukan makan bersama, sejumlah tokoh agama baik Muslim maupun Kristen membacakan doa bergantian dengan harapan tercipta kedamaian bagi masyarakat Maluku di manapun berada.

    Masyarakat Ambon di Bali tampak antusias mengikuti acara patita karena suasananya penuh kekeluargaan, siapa pun yang hadir boleh mencicipi masakan yang diminatinya sesuka hati.

    Tradisi patita dilaksanakan pada waktu-waktu yang tidak tentu. Biasanya setahun sekali, lima tahun sekali, bahkan bisa juga sampai 12 tahun sekali.

    Tradisi makan itu dilaksanakan secara sendiri-sendiri oleh empat aliran keturunan yang dalam bahasa adat Maluku disebut soa, yaitu Soa Pari, Soa Latuei, Soa Tuni dan Soa Raja.

    Masing-masing soa menentukan sendiri waktu pelaksanaan patita adat, dan penentuan waktunya biasanya terjadi saat acara berbalas pantun di meja patita adat.(ant)

    Akses berita terbaru versi mobile di: m.eksposnews.com
    Leave your comment.
    Name*:
    Email*:
    Website:
    Comment*:
    : * Type the captcha!