Rabu, 18 Jul 2018

Media Sosial Percepat Radikalisasi

Oleh: alex
Rabu, 16 Mei 2018 15:02
BAGIKAN:
istimewa.
Facebook.
JAKARTA (EKSPOSnews): Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia (UI) Solahudin mengatakan media sosial mempercepat radikalisasi karena seseorang dapat terpapar pesan radikal dalam jumlah yang banyak dalam frekuensi tinggi.

Berdasarkan hasil penelitiannya terhadap narapidana terorisme, 85 persen melakukan aksi teror hanya dalam rentang kurang dari satu tahun setelah terpapar radikalisme melalui media sosial.

"Kurang dari setahun dia sudah radikal. Media sosial penting, kalau bicara radikalisasi perannya cukup signifikan," ucap Solahudin dalam diskusi Forum Media Barat 9 di Gedung Kominfo Jakarta, Rabu 16 Mei 2018.

Dibandingkan dengan terpidana terorisme 2002-2012, mereka rata-rata mulai radikal dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun sejak pertama terpapar hingga melakukan aksi terorisme.

Kelompok ekstremis, radikal atau teroris di Indonesia, kata dia, memanfaatkan media sosial secara maksimal untuk radikalisasi.

Namun, khusus di Indonesia penggunaan media sosial oleh kelompok tersebut hanya untuk radikalisasi, sementara untuk perekrutan tetap menggunakan metode tatap mata atau pertemuan langsung.

"Di Indonesia radikalisasi melalui media sosial, proses rekrutmen terjadi offline, tatap muka. Tidak lewat dunia maya proses rekrutmennya," ucap Solahudin.

Dari 75 orang narapidana terorisme yang ditemuinya, hanya sembilan persen yang mengatakan bergabung kelompok ekstremis melalui media sosial.

Sebagian besar, ujar Solahudin, direkrut melalui forum keagamaan yang sulit dicegah karena di Indonesia mempunyai kebebasan berekspresi dan berorganisasi.

Alasan selanjutnya rekrutmen di Indonesia melalui pertemuan langsung adalah kelompok teroris tidak percaya pada proses rekrutmen secara daring karena tidak dapat memastikan kebenaran identitas.

Masyarakat pun diimbau untuk melaporkan kepada Kominfo atau langsung kepada platform media sosial apabila menemukan akun atau konten yang berkaitan dengan terorisme dan meresahkan.


Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • satu bulan lalu

    Memantau Paham Radikal di Kampus

    KENDARI (EKSPOSnews): Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) memantau perkembangan paham radikal yang diduga terdapat lingkungan kampus daerah itu.Kapolda Sultra Brigjen Pol Iriyanto, di

  • 2 bulan lalu

    Undip Semarang Sudah Panggil Dosen Terpapar Ide Radikal

    SEMARANG (EKSPOSnews): Universitas Diponegoro Semarang menyebutkan sudah melakukan pemanggilan terhadap sejumlah pengajarnya yang diduga mendukung Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), antara lain seorang gu

  • 2 bulan lalu

    Konten Terkait Radikalisme di Medsos Turun

    JAKARTA (EKSPOSnews): Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan konten terkait radikalisme di media sosial telah menurun sejak pekan lalu karena pemberitaan dan unggahan mengenai hal te

  • 2 bulan lalu

    Kominfo Blokir Ribuan Konten Radikal

    JAKARTA (EKSPOSnews): Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam 10 hari hingga 21 Mei 2018 memblokir 3.195 konten radikal di sejumlah "platform" media sosial."Jadi temuan per 21 mei 2018, selama ku

  • 2 bulan lalu

    Jangan Berikan Panggung kepada Ustaz Radikal

    JAKARTA (EKSPOSnews): Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdul Moqsith Ghazali berharap media massa khususnya televisi tidak memberi panggung kepada ustaz yang diduga memi

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99