Sabtu, 26 Mei 2018

Media Sosial Percepat Radikalisasi

Oleh: alex
Rabu, 16 Mei 2018 15:02
BAGIKAN:
istimewa.
Facebook.
JAKARTA (EKSPOSnews): Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia (UI) Solahudin mengatakan media sosial mempercepat radikalisasi karena seseorang dapat terpapar pesan radikal dalam jumlah yang banyak dalam frekuensi tinggi.

Berdasarkan hasil penelitiannya terhadap narapidana terorisme, 85 persen melakukan aksi teror hanya dalam rentang kurang dari satu tahun setelah terpapar radikalisme melalui media sosial.

"Kurang dari setahun dia sudah radikal. Media sosial penting, kalau bicara radikalisasi perannya cukup signifikan," ucap Solahudin dalam diskusi Forum Media Barat 9 di Gedung Kominfo Jakarta, Rabu 16 Mei 2018.

Dibandingkan dengan terpidana terorisme 2002-2012, mereka rata-rata mulai radikal dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun sejak pertama terpapar hingga melakukan aksi terorisme.

Kelompok ekstremis, radikal atau teroris di Indonesia, kata dia, memanfaatkan media sosial secara maksimal untuk radikalisasi.

Namun, khusus di Indonesia penggunaan media sosial oleh kelompok tersebut hanya untuk radikalisasi, sementara untuk perekrutan tetap menggunakan metode tatap mata atau pertemuan langsung.

"Di Indonesia radikalisasi melalui media sosial, proses rekrutmen terjadi offline, tatap muka. Tidak lewat dunia maya proses rekrutmennya," ucap Solahudin.

Dari 75 orang narapidana terorisme yang ditemuinya, hanya sembilan persen yang mengatakan bergabung kelompok ekstremis melalui media sosial.

Sebagian besar, ujar Solahudin, direkrut melalui forum keagamaan yang sulit dicegah karena di Indonesia mempunyai kebebasan berekspresi dan berorganisasi.

Alasan selanjutnya rekrutmen di Indonesia melalui pertemuan langsung adalah kelompok teroris tidak percaya pada proses rekrutmen secara daring karena tidak dapat memastikan kebenaran identitas.

Masyarakat pun diimbau untuk melaporkan kepada Kominfo atau langsung kepada platform media sosial apabila menemukan akun atau konten yang berkaitan dengan terorisme dan meresahkan.


Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 4 hari lalu

    Dosen Unair yang Terindikasi Paham Radikal Silahkan Keluar

    SURABAYA (EKSPOSnews): Universitas Airlangga Surabaya mengancam mengeluarkan dosen atau mahasiswa yang mempunyai paham radikalisme atau yang menolak ideologi Pancasila.Rektor Unair M Nasih di sela per

  • 5 hari lalu

    Ribuan Situs Radikalisme Akan Diblokir

    BATANG (EKSPOSnews): Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan bahwa sekitar 9.500 situs yang menyebarkan radikalisme sedang dalam proses verifikasi untuk diblokir."Ada 2.528 yang sampa

  • 3 bulan lalu

    Mahasiswa Harus Kritis Terhadap Media Sosial

    JAKARTA (EKSPOSnews): Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Kadarsah Suryadi mengatakan masyarakat, khususnya mahasiswa, harus kritis pada informasi terutama isu-isu yang berkembang di medi

  • 4 bulan lalu

    Polisi Tangkap Penyebar Video Konten Porno ke Media Sosial

    PEKANBARU (EKSPOSnews): Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Pekanbaru, Provinsi Riau menangkap seorang pria penyebar konten video porno ke media sosial "facebook"."Tersangka dijerat dengan U

  • 6 bulan lalu

    Wah...Media Sosial Semakin Garang

    PALEMBANG (EKSPOSnews): Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan sekarang ini media sosial semakin garang menyebarluaskan berbagai informasi positif dan negatif kepada masyarakat secar

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99