Jumat, 24 Nov 2017

Nona Cici, ABG Pencinta Burung

Minggu, 03 Jul 2016 21:59
BAGIKAN:
Usianya masih belia. Istilah sekarang mungkin cocok disebut anak ABG.  Walau usianya  muda, ia tidak  canggung berada diantara puluhan laki-laki. Mondar-mandir kesana kemari untuk mengurus keperluan burung kenarinya yang hendak di gantang di Lapangan Saung Ebod Jaya. Mulai dari membeli tiket, meminjam semprotan dan mengambil cangkang telur untuk dipasang di dasar kandang sebelum kenari digantang. 
 
Cewek ABG itu mengaku bernama Cici. Ia tinggal tak jauh dari Lapangan Saung Ebod Jaya, Tanah 600, Marelan,  tepatnya di Keluruhan Terjun Marelan.  Ia menjadi satu-satunya kontestan wanita dalam gelaran Festival Burung Berkicau Road To Ronggolawe Sumut, tanggal 8 Mei 2016 lalu.  Datang ke lapangan Saung Ebod Jaya berboncengan dengan adeknya.  Si adek mengendari sepeda motor, Cici berada di belakang sembali merangselkan burung kenari kesayangannya. 
 
Cici sebenarnya hanya mengikui satu kelas, yakni kelas kenari Ebod Vit dengan insert Rp40.000. Dalam lembaran jadwal lomba, kelas Ebod Vit adalah kelas kedua terakhir dari keseluruhan kelas yang akan diperlombakan.  Mungkin takut kehabisan tiket, Cici sengaja datang lebih awal dari kicau mania lain. Pukul 10.00 WIB  Cici sudah ada di lapangan Saung Ebod Jaya. 
 
Cici harus menunggu sekitar 6 jam untuk dapat giliran di Kelas Ebot Vit.  Selama penantian itu, Cici menonton lomba kelas demi kelas dengan tekun. Tidak terlihat tanda-tanda kejenuhan pada dirinya.  Dua sesi menjelang kelas Ebod Vit, Cici mulai sibuk mempersiapkan amunisinya. Telur puyuh dan buah aple dikelurakan dari dalam kandang. Cepuk makan juga ditarik. Yang tersisa di dalam kandang saat digantang hanya cepuk minum. 
 
Tak lupa, karpet alas kandang juga ditarik. Setelah dibersihkn tanpa ada sisa makanan lagi, karpet dipasang kembali. Cici sepertinya sudah paham betul dengan prilaku kenari yang suka turun ke dasar kandang jika melihat ada sisa makanan di sana. Kelas yang ditunggu-tunggu Cici akhirnya tiba. Ia mendapat nomor gantangan 10. Karena belum terbiasa menggantang burung, Cici dibantu kicau mania lain. 
 
Setelah digantang,  kenari jagoan Cici berusaha memberikan perlawanan.  Bunyi rajin dan ngotot.  Volume suara memang agak tipis. Wajar karena  kenari itu jenis loper. Suaranya kalah besar dengan kenari-kenari impor. Korlap juga mengatakan demikian, kenari Cici kalah volume dengan kenari lain.  Meski tak masuk nominasi,  Cici tak kalah semangat. Ia berjalan santai keluar dari lapangan. 
 
Ia menceritakan, kecintaannya pada burung sebenarnya baru sekitar empat bulan. Awalnya, karena ia rajin bangun pagi. Ketika bangun pagi, ia mendengar kicauan burung-burung liar. “Suara burung itu indah apalagi di pagi hari. Lalu muncul dipikiran untuk memelihara burung agar setiap saat bisa mendengar suaranya,” kata Cici. Sebelum memutuskan memelihara burung, Cici lebih dulu belajar cara merawat burung.  Sungkan nanya-nanya sama laki-laki,  Cici belajar sendiri dari beberapa situs di internet, termasuk mediaronggolawe.com 

Saat ini, Cici benar tahu merawat burung kenari. “Pagi mandi, terus dijemur, dianginkan lalu dikerodong. Jika hendak dibawa ke lomba, harus diberi ekstrapoding. Telur puyuh hari Jumat, dan Aple Minggu pagi,” katanya. Pemberian pakan pada kenarinya, Cici tak mau asalan. Ia memilih pakan berkwalitas Ebod Canary produk Ebod Jaya.  Yang mengejutkan. Cici ternyata punya juga seekor burung kacer.  “Saat ini sedang ganti bulu. Tiga bulan lagi, sudah bisa dijajal ke arena lomba,” katanya. (js)

  Berita Terkait
  komentar Pembaca

Copyright © 2009 - 2017 eksposnews.com. All Rights Reserved.

Tentang Kami

Redaksi

Pedoman Media Siber

Disclaimer

Iklan

RSS

Kontak

vipqiuqiu99 vipqiuqiu99