Kamis, 21 Nov 2019

Sanksi Dagang untuk Malaysia?

Oleh: alex
Senin, 21 Okt 2019 16:14
BAGIKAN:
reuters.
Mahatir Mohammad, Perdana Menteri Malaysia.
KUALA LUMPUR (EKSPOSnews): Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan negaranya, yang bergantung pada ekspor, dapat terkena sanksi perdagangan di tengah peningkatan proteksionisme yang terlihat dalam perang tarif AS-China.

Mahathir tidak menyebut sumber dari kemungkinan sanksi terhadap negara Asia Tenggara itu, namun dia mengaku kecewa karena para pendukung perdagangan bebas kini terlibat dalam praktik perdagangan terbatas dalam "skala besar".

"Sayangnya, kami terjebak di tengah-tengah," katanya dalam sebuah konferensi di Kuala Lumpur, saat berbicara soal perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

"Dalam bidang ekonomi, kita terhubung dengan kedua negara dan secara fisik, kita juga terjebak di tengah-tengah karena alasan geografis. Bahkan ada yang mengatakan kita sendiri akan menjadi sasaran sanksi."

Amerika Serikat dan China adalah dua dari tiga tujuan ekspor terbesar bagi Malaysia dalam periode Januari-Agustus tahun ini sementara Singapura berada di posisi teratas.

Untuk mengurangi dampak dari benturan antara kedua negara adidaya tersebut, Mahathir mengatakan Malaysia lebih banyak berkolaborasi dengan negara-negara tetangga di kawasan.

Dia juga mengeluhkan perundungan yang dilakukan oleh negara-negara kuat. Ia mengacu pernyataannya itu pada tindakan yang dilakukan oleh negara-negara Eropa terhadap andalan pertanian Malaysia, yakni kelapa sawit.
 
Minyak kelapa sawit Malaysia berkontribusi sebesar 2,8 persen untuk produk domestik bruto (PDB) Malaysia tahun lalu, dan 4,5 persen dari total ekspor.

"Setelah menebangi sebagian besar hutan mereka dan menolak untuk mengurangi emisi berbahaya mereka, mereka sekarang mencoba memiskinkan orang miskin dengan mencegah mereka menebang hutan untuk ruang hidup dan mencari nafkah," ungkap Mahathir.

Pada awal 2019, Uni Eropa memutuskan untuk menghapuskan minyak kelapa sawit dari bahan bakar terbarukan pada 2030 karena kekhawatiran terkait penggundulan hutan.

Ada juga kekhawatiran bahwa India, sebagai salah satu pembeli minyak kelapa sawit terbesar di Malaysia, akan membatasi impor produk tersebut karena pertikaian diplomatik atas komentar yang dibuat oleh Mahathir mengenai tindakan yang diambil New Delhi baru-baru ini di wilayah Kashmir yang disengketakan di Asia Selatan.

Sumber: antara/reuters.

  Berita Terkait
  • 4 bulan lalu

    Pejabat Malaysia Perkosa Seorang WNI

    JAKARTA (EKSPOSnews): Pemerintah Indonesia akan terus mengawal proses hukum atas kasus pemerkosaan terhadap seorang WNI oleh anggota DPRD Negara Bagian Perak, Malaysia.Langkah yang akan diambil pemeri

  • 5 bulan lalu

    2 Warga Malaysia Dibekuk karena Bawa Narkoba

    JAKARTA (EKSPOSnews): Dua Warga Negara asing (WNA) asal Malaysia berinisial MJ alias Gordon dan AT alias Jack serta satu orang Warga Negara Indonesia (WNI) berinisial DW ditangkap atas dugaan penyelun

  • 5 bulan lalu

    Menteri Perekonomian Malaysia Terlibat Skandal Seks?

    KUALA LUMPUR (EKSPOSnews): Menteri Perekonomian Malaysia Dato’ Seri Mohamed Azmin Ali membantah tudingan video porno sesama jenis terkait dirinya.“Saya merujuk kepada laporan media hari ini berhub

  • 7 bulan lalu

    BNN Bongkar Jaringan Narkoba Malaysia-Indonesia

    MEDAN (EKSPOSnews): Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat dan BNN Provinsi Sumatera Utara mengamankan narkoba jenis sabu-sabu seberat 84 kg merupakan jaringan internasional Indonesia-Malaysia.Deputi Pe

  • 7 bulan lalu

    BNN Ungkap Jaringan Narkoba Malaysia-Dumai

    SURABAYA (EKSPOSnews): Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil mengungkap peredaran gelap Narkotika jaringan Malaysia - Indonesia (Aceh - Dumai - Medan)"Modusnya narkotika masuk ke Indonesia melalui j

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2019 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99