Minggu, 29 Mar 2020

Robert Mugabe Menolak Mundur

Oleh: alex
Senin, 20 Nov 2017 14:20
BAGIKAN:
reuters.
Robert Mugabe.
HARARE (EKSPOSnews): Presiden Robert Mugabe membuat terkejut rakyat Zimbabwe, Minggu, ketika ia tidak menyinggung soal pengunduran dirinya dalam pidato di stasiun televisi meski telah dipecat dari Partai ZANU-PF dan ratusan ribu orang berunjuk rasa menuntut pengunduran dirinya.

Dua sumber, satu seorang anggota senior pemerintah, serta satu lagi yang dekat dengan sumber pimpinan militer, sebelumnya mengatakan bahwa Mugabe akan mengumumkan pengunduran diri secara nasional setelah ZANU-PF memecatkan sebagai pimpinan partai.

Tapi saat berpidato di kantor Kepresidenan, sambil duduk bersama barisan para jendral, Mugabe justru menyinggung kecaman dari ZANU-PF, pihak militer dan publik terhadap dirinya, tapi tidak menyinggung soal posisi dirinya sendiri.

Malahan, ia menegaskan bahwa apa yang terjadi dalam beberapa minggu belakangan "bukalah tantangan terhadap kekuasaannya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, dan berjanji untuk tetap memimpin kongres yang dijadwalkan bulan depan.

Pemimpin oposisi Morgan Tsavangirai mengaku sangat terkejut dan tidak bisa berkata-kata dengan sikap Mugabe tersebut.

"Saya sungguh bingung. Bukan cuma saya, tapi seluruh negeri. Ia memainkan sebuah permainan. Ia mencoba menipu semua orang. Ia membiarkan seluruh bangsa ini kecewa," katanya.

Partai ZANU-PF telah memberikan Mugage, pria berusia 93 tahun dan memimpin Zimbabwe sejak 1980 waktu kurang dari 24 jam untuk mundur sebagai kepala negara atau menghadapi "impeachment".

Langkah tersebut merupakan usaha untuk menjaga agar masa jabatannya bisa berakhir secara damai setelah militar secara de facto melakukan kudeta.

Chris Mutsvangwa, pemimpin veteran perang kemerdekaan yang menjadi ujung tombak upaya mendongkel Mugabe selama 18 bulan, menegaskan bahwa upaya untuk menurunkan dia di parlemen, akan jalan terus dan akan berlangsung unjuk rasa besar pada Rabu mendatang.

Menurut Chris, Mugabe yang berbicara dengan nada keras, seperti tidak menyadari apa yang terjadi dalam beberapa jam sebelumnya.

"Buta atau Tuli" "Mungkin seseorang di Partai ZANU-PF tidak memberi tahu apa yang telah terjadi di dalam partai, sehingga ia terus berpidato, atau ia memang sudah buta atau tuli sehingga tidak mendengar apa yang telah disampaikan orang partai kepadanya," kata Mutsvangwa.

Komite Pusat ZANU-PF sebelumnya telah menunjuk Emmerson Mnangagwa sebagai pimpinan yang baru.

Adalah keputusan Mugabe yang memecat Mnangagwa sebagai wakil presidennya -untuk melicinkan jalan bagi istrinya Grace untuk menggantikanya- yang menjadi pemicu campur tangan pihak militer.

Pada Sabtu lalu, ratusan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan di Ibukota Harare untuk merayakan Mugabe yang diharapkan lengser dan menginginkan era baru di negara mereka.

Sebagian besar rakyat Zimbabwe menginginkan "kemerdekaan kedua" dan menyatakan keinginan dan harapan mereka agar terjadi perubahan situsasi ekomoni dan politik yang dalam dua dekade terakhir terpuruk ke jurang depresi.

Sebagaimana halnya lebih dari tiga juta warga Zimbabwe yang pindah ke Afrika Selatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, rakyat Zimbabwe pada umumnya kecewa dengan sikap keras kepada Mugage yang tidak mau mundur.

Berbicara dari lokasi yang dirahasiakan di Afrika Selatan, keponakan Mugage, Patrick Zhuwao, kepada Reuters mengungkapkan bahwa Mugabe dan istrinya "siap mati atas apa yang dianggap benar", daripada mundur untuk mengakui sesuatu yang digambarkan sebagai kudeta.

Chatunga, anak Mugabe, juga mati-matian membela ayahnya.

"Kalian tidak bisa memecat pemimpin revolusi. ZANU-PF tidak ada apa-apanya tanpa Presiden Mugabe," katanya melalui akun Facebook.

Sebagian warga di Harare sebenarnya bisa memahami campur tangan militer yang lebih lunak jika memang hanya sekedar untuk membantu proses alih kekuasaan, dibanding kudeta yang bisa menimbulkan kekacauan.

Tapi sebagian lawan politik Mugabe merasa tidak nyaman dengan terlalu besarnya peran militer dan khawatir kalau Zimbabwe akan jatuh ke tangan penguasa dukungan militer.

"Bahaya yang nyata dari situasi sekarang ini adalah setelah mendapatkan calon dari pihak mereka di istana presiden, maka pihak militer akan memaksakan untuk terus bertahan disana," kata mantan Menteri Pendidikan David Coltart.

Amerika Serikat yang sudah lama menentang Mugabe, menyatakan bahwa mereka menginginkan era baru di Zimbabwe, sementara Presiden Ian Khama dari negara tetangga Botswana mengakui bahwa Mugabe sudah tidak mendapatkan dukungan diplomatik di kawasan dan sebaiknya segera mundur.

Disamping mengganti pemimpin, Partai ZANU-PF menyatakan bahwa mereka menginginkan perubahan konstitusi untuk mengurangi kekuasaan presdein, sebuah keinginan ke arah terjadinya sistem politik yang lebih pluralistis dan inklusif.

Sumber: antara/reuters.

  Berita Terkait
  • 2 tahun lalu

    Robert Mugabe Tak Sebut Siapa Penggantinya

    HARARE (EKSPOSnews): Surat pengunduran diri Presiden Zimbabwe Robert Mugabe yang dibacakan ketua parlemen tidak menyebutkan siapa yang ditunjuknya untuk memimpin negara itu.Ketua parlemen menambahkan

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2020 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99