Minggu, 29 Mar 2020
  • Home
  • Ragam
  • Gerilyawan Suriah Tinggalkan Dataran Tinggi Golan

Gerilyawan Suriah Tinggalkan Dataran Tinggi Golan

Oleh: Jallus
Sabtu, 21 Jul 2018 05:01
BAGIKAN:
reuters.
Dataran tinggi Golan.
BEIRUT (EKSPOSnews): Gerilyawan Suriah akan meninggalkan kawasan Dataran Tinggi Golan, yang berbatasan langsung dengan Israel, dimulai pada Jumat 20 Juli 2018.

Mereka akan meninggalkan daerah itu sesuai dengan kesepakatan penyerahan wilayah kepada Presiden Bashar al Assad.

"Kami menunggu operasi itu dimulai dan semoga saja bisa dimulai pada hari ini," kata Hammam Dbayat, Gubernur Provinsi Quneitra, kepada Reuters.

Sejumlah bus telah disiapkan untuk mengangkut para gerilyawan itu ke Provinsi Idlib di kawasan barat laut Suriah.

Rekaman video Reuters dari sisi perbatasan Israel menunjukkan sejumlah pria menaiki truk penuh barang, yang kemudian meninggalkan desa al Qahtaniya di perbatasan Golan. Tidak diketahui ke mana tujuan kendaraan itu.

Puluhan ribu orang melindungi diri di sejumlah tempat penampungan di daerah perbatasan yang sama sejak pihak pemerintah memulai operasi militer satu bulan lalu.

Gerilyawan di Quneitra sepakat pada Kamis untuk memilih antara menerima kekuasaan pemerintah, atau meninggalkan wilayah itu ke Idlib di utara. Populasi di Idlib semakin membengkak oleh arus warga Suriah yang melarikan diri dari serangan Bashar di area lain.

Operasi militer oleh pemerintah Suriah telah berhasil membebaskan sebagian besar wilayah di barat daya, yang sangat strategis karena berbatasan dengan Yordania dan Israel.

Kemenangan pemerintah di barat daya merupakan salah satu kemenangan yang paling signifikan selama tujuh tahun perang di negara itu. Amerika Serikat, yang dulu sempat memberi senjata pada gerilyawan di selatan, telah memperingatkan gerilyawan untuk tidak berharap intervensi dari Washington.

Meski banyak wilayah Suriah yang belum dikuasai pemerintah, operasi militer Bashar dalam dua tahun terakhir semakin membuat dia dekat dengan kemenangan.

Situasi ini membuat gerilyawan hanya punya satu wilayah besar tersisa, di wilayah barat laut yang berbatasan dengan Turki yang merentang dari Provinsi Idlib sampai dengan kota Jarablus di Aleppo.

Selain itu, sebagian wilayah timur laut dan timur juga masih di luar kontrol Bashar, karena masih dikuasai oleh milisi Kurdi, dengan dukungan 2.000 tentara Amerika Serikat di darat.

Gubernur Dbayat masih belum mengetahui seberapa banyak gerilyawan yang akan meninggalkan Quneitra, dan pemerintah telah menyediakan 45 bus.

"Kami siap untuk memindahkan milisi keluar dari area ini. Dan setelah selesai, kami akan segera memulihkan layanan kepada para warga, termasuk listrik dan air," kata dia.

Serangan di Quneitra membuat lebih dari 320.000 orang mengungsi ke perbatasan selatan, dekat dengan Israel dan Yordania, yang sudah menegaskan tidak akan menerima pengungsi.

Sumber: antara/reuters.

  Berita Terkait
  • 12 bulan lalu

    Negara Teluk Tolak Klaim Dataran Tinggi Golan

    DUBAI (EKSPOSnews): Empat negara Teluk Arab pada Selasa menolak keputusan Amerika Serikat untuk mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Riyadh memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat

  • 12 bulan lalu

    Donald Trump Akui Dataran Tinggi Golan Milik Israel

    WASHINGTON (EKSPOSnews): Presiden AS Donald Trump pada Senin malam (25/3) menandatangani dekrit yang mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang diduduki Israel sejak 196

  • 12 bulan lalu

    Dataran Tinggi Golan Milik Israel

    BEIRUT (EKSPOSnews): Pemerintah Suriah bertekad merebut kembali Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel sementara sekutu dan musuhnya mengecam Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat yang m

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2020 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99