Rabu, 18 Sep 2019
  • Home
  • Politik
  • Alasan Evaluasi Pemilu Serentak Terlalu Dangkal

Alasan Evaluasi Pemilu Serentak Terlalu Dangkal

Oleh: Jallus
Jumat, 26 Apr 2019 05:34
BAGIKAN:
istimewa.
Pemilu serentak 2019.
JAKARTA (EKSPOSnews): Pengamat politik dari Komite Pemilih Indonesia, Jeirry Sumampow, menilai evaluasi sistem Pemilu yang ramai dibicarakan belakangan ini terlalu dangkal karena faktor pemicu yang diangkat tidak komprehensif.

Menurut dia, evaluasi semestinya dilakukan berdasarkan dua hal, yaitu tujuan sistem dibuat dan bagaimana teknis pelaksanaan atau implementasi sistem itu.

“Ada tiga maksud ketika membuat sistem pemilu serentak, yang pertama penguatan sistem presidensial, kedua efektivitas anggaran dan penghematan, lalu yang ketiga mobilisasi pemilih,” ucap dia, dalam diskusi di Jakarta, Kamis 25 April 2019.

Ia berpendapat, jika dievaluasi dengan tiga variabel itu, sistem Pemilu 2019 sudah relatif berhasil.

Ia menyebutkan, keberhasilan tersebut ditandai dengan calon presiden dan koalisi partai pendukungnya sama-sama mendapatkan mayoritas suara berdasarkan hasil hitung cepat, serta ada peningkatan partisipasi pemilih.

Dalam hal anggaran, data Kementerian Keuangan menunjukkan, jumlah anggaran yang digelontorkan untuk pemilu adalah Rp25,59 triliun.

Ia mengakui angka itu memang membengkak, namun akan jauh lebih besar jika yang dilaksanakan adalah pemilu terpisah.

Adapun wacana yang mengemuka saat ini untuk mengevaluasi sistem pemilu adalah petugas meninggal yang banyak jumlahnya.

Menurut dia, isu itu hal teknis yang bahkan tidak terkait langsung dengan sistem, sehingga merupakan variabel evaluasi yang tidak tepat.

Menjadikan isu banyak petugas pelaksana pemilu yang meninggal untuk mengevaluasi sistem, kata dia, bisa salah kaprah. Isu itu adalah isu kemanusiaan sehingga tidak akan pas dan sulit mencapai titik temu jika dikaitkan dengan sistem.

Jika isu itu diteruskan sebagai variabel evaluasi sistem pemilu, dia memprediksi hal serupa akan terulang pada pelaksanaan pemilu berikutnya.

Jeirry membandingkan isu yang sama pada pelaksanaan Pemilu 2019 dengan Pemilu 2014. Penambahan orang yang bertugas dalam pemilu turut memengaruhi banyaknya kasus yang terjadi, bukan semata-mata karena sistem.

Berdasarkan data KPU, pada Pemilu 2014 total 157 petugas meninggal ketika menjalankan tugas. Sedangkan pada Pemilu 2019, sampai Kamis sore, jumlah yang meninggal 144 petugas.

Dibanding menyalahkan sistem, dia justru menilai teknis pelaksanaan pemilu yang sesungguhnya perlu dibenahi. Kasus-kasus yang terjadi adalah cerminan ketidaksiapan KPU dalam mengimplementasikan sistem itu. 

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 4 bulan lalu

    Pemahaman Agama Tanpa Ilmu

    JAKARTA (EKSPOSnews): Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengatakan saat ini terjadi pemahaman agama yang tidak berdasarkan ilmu di masyarakat sehingga menciptakan kondisi ya

  • 5 bulan lalu

    Pemilu Serentak, Apa yang Salah?

    AMBON (EKSPOSnews): Pemerintah sebaiknya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pemilu serentak 2019 yang dinilai terlalu memerras pikiran dan energi para penyelenggaraan maupun aparat keamanan

  • 7 bulan lalu

    Tarif Tol Harus Dievaluasi

    JAKARTA (EKSPOSnews): Anggota Komisi VI DPR RI Nyat Kadir menyatakan bahwa tarif sebesar Rp1000 per kilometer yang diterapkan kepada Jalan Tol Solo-Ngawi perlu dievaluasi karena dinilai masih cukup ma

  • 10 bulan lalu

    Evaluasi Peraturan MA dan Lingkungan Peradilan

    JAKARTA (EKSPOSnews): Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta Mahkamah Agung (MA) melakukan evaluasi terhadap ketua pengadilan dan peraturan MA untuk mencegah tindak pidana korupsi di lingkungan MA d

  • tahun lalu

    Evaluasi Menyeluruh untuk LRT Sumsel

    JAKARTA (EKSPOSnews): Kementerian Perhubungan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional LRT Sumsel menyusul kejadian berhenti mendadak LRT Sumsel pada Minggu (12/8)."Pemerintah kembali

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2019 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99