Kamis, 21 Feb 2019
  • Home
  • Pojok
  • Tingkat Perceraian di Tapin Melonjak

Tingkat Perceraian di Tapin Melonjak

Kamis, 29 Des 2016 07:57
BAGIKAN:
ist
Cerai (ilustrasi).

RANTAU (EKSPOSnews): Wakil Kepala Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Khairudin mengatakan tingkat perceraian suami istri di wilayahnya cukup tinggi dan cenderung terjadi peningkatan dalam setiap tahunnya.

Menurut Khairudin di Rantau  berdasarkan data sampai tanggal 27 Desember 2016 permohonan perceraian yang masuk di PA Rantau mencapai 396 perkara, naik dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 355 perkara.

Dari 396 permohonan perceraian tersebut, kata dia, meliputi cerai talak sebanyak 93 perkara dan cerai gugat sebanyak 303 perkara. Dari permohonan talak dan gugat tersebut, sebanyak 392 perkara, sudah mendapatkan putusan.

"Yang sudah putus 392 itu, dan yang belum jatuh putusan sekitar 4 perkara," katanya, Rabu 28 Desember 2016.

Menurut dia, penyebab perceraian, karena berbagai faktor seperti, faktor perselisihan terus-menerus, tidak ada tanggung jawab dari pihak suami, sampai masalah ekonomi.

"Tertinggi faktor tidak ada keharmonisan sebanyak 121 perkara, disusul faktor tidak ada tanggung jawab 77 perkara, dan sisanya faktor ekonomi dan krisis akhlak," tambah Khairuddin.

Sedangkan, dari sisi pekerjaan, perceraian tersebut didominasi oleh wiraswasta, baik itu petani, pedagang dan buruh sebanyak 382 orang, disusul Pegawai Negeri Sipil seperti ASN, Polisi, dan TNI sebanyak 14 orang.

Ditambahkan dia, syarat permohonan perceraian di PA Rantau cukup mudah, khusus masyarakat umum hanya melengkapi foto kopi KTP pemohon, fotokopi buku akta nikah, alamat termohon sekarang tinggal dan membayar panjar biaya perkara sesuai radius. Sedangkan bagi ASN dari syarat yang sudah ada ditambah dengan fotokopi surat izin pimpinan langsung.

"Setelah berkas masuk sekitar 10 hari hingga satu bulan, permohonan bisa diketahui hasil putusannya," ucapnya.

Tingginya tingkat perceraian di beberapa kabupaten di Kalsel, khususnya di Banua Enam, juga disebabkan oleh masih tingginya angka pernikahan dini.

Tingginya angka pernikahan dini, menyebabkan sebagian besar pasangan belum siap menghadapi berbagai problematika yang terjadi di rumah tangga, sehingga sangat mudah berujung pada perceraian.(ant)


  Berita Terkait
  • 2 minggu lalu

    Biaya Kargo Melonjak

    JAKARTA (EKSPOSnews): Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) menilai tingginya tarif Surat Muatan Udara (SMU) yang membuat kenaikan biaya kargo berdampak pa

  • 2 bulan lalu

    Penetrasi Internet Luar Biasa

    JAKARTA (EKSPOSnews): Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penetrasi internet di Indonesia berkembang dengan pesat, yaitu dari 25,37 persen pada 2016 menjadi 32,34 persen pada 2017."Hal ini dapat mend

  • 3 bulan lalu

    Pengidap HIV/AIDS di Pamekasan Melonjak

    PAMERKASAN (EKSPOSnews): Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, Jawa Timur Ali Maksum menyatakan, pengidap human immunodeficiency virus infection and acquired immune deficiency syndrome (HIV/A

  • 12 bulan lalu

    Penjualan Pertalife Melonjak

    PEKANBARU (EKSPOSnews): PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) 1 area Sumatera bagian Utara mencatat pertumbuhan penjualan produk Pertalite meningkat cukup tajam sebesar 65 persen pad

  • tahun lalu

    Kasus Perceraian di PN Bengkalis Melonjak

    BENGKALIS (EKSPOSnews): Pengadilan Negeri Kelas II Bengkalis, Provinsi Riau mencatat kasus perceraian pada tahun 2017 di daerah itu meningkat tinggi dibandingkan tahun 2016."Sidang kasus perceraian me

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2019 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99