Kamis, 18 Jan 2018
  • Home
  • Pojok
  • Perempuan Rentan Alami Kekerasan Seksual di Tempat Kerja

Perempuan Rentan Alami Kekerasan Seksual di Tempat Kerja

Oleh: Jallus
Selasa, 16 Mei 2017 05:43
BAGIKAN:
istimewa
Kekerasan seksual (ilustrasi).
JAKARTA (EKSPOSnews): Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengungkapkan bahwa perempuan rentan mengalami berbagai bentuk kekerasan seksual di tempat kerja.

Beberapa sektor mata pencaharian yang dinilai sangat mengancam perempuan yakni buruh pabrik dan buruh perkebunan, pelayan di kapal laut dan pramugrari pesawat terbang, serta industri hiburan.

"Dalam catatan saya mengikuti isu perburuhan, pelecehan seksual tidak sedikit bahkan dianggap sebuah kelaziman di pabrik-pabrik," ujar Wakil Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah dalam peluncuran film "Angka Jadi Suara" di Erasmus Huis, Jakarta, Senin 15 Mei 2017.

Kekerasan yang dialami para pelayan di kapal disebutnya sulit diproses hukum karena sebagian besar dilakukan oleh warga negara asing yang tidak bisa dengan mudah dijerat dengan hukum Indonesia.

Sementara pramugari, yang seringkali dinilai sebagai profesi "mentereng" dan nyaman, justru sangat dituntut untuk selalu tampil prima dengan selalu merawat kulit dan tubuh. Selain terancam pembatasan usia kerja, gerak-gerik pramugari yang senantiasa dipantau juga menghambat mereka menjalani hidup secara bebas dan utuh.

"Para pramugari itu di-grounded (tidak boleh terbang) kalau tubuhnya gendut atau wajahnya berjerawat. Kerentanan terhadap kekerasan seksual juga sangat tinggi karena mereka biasanya dicolek-colek penumpang yang membutuhkan sesuatu misalnya minta minum," kata Yuniyanti.

Melihat semakin beragamnya pola-pola kekerasan seksual terhadap perempuan, Komnas Perempuan menilai salah satu solusi paling efektif untuk menekan praktik-praktik kejahatan yang seringkali tidak disadari baik oleh korban dan pelaku yakni dengan segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

RUU yang telah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2017 itu antara lain mengatur tentang perluasan definisi kekerasan seksual yang sebelumnya hanya tiga yang diakui di Indonesia yakni pemerkosaan, pelecehan seksual, dan pencabulan terhadap anak.

Padahal, kata Yuniyanti, jenis kekerasan seksual minimal ada 15 diantaranya perbudakan seksual, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi, perusakan genital perempuan, dan perkawinan anak.

Di dalam RUU tersebut juga diatur pemberatan hukuman bagi kasus kekerasan seksual yang dialami oleh orang dengan disabilitas dengan pertimbangan bahwa korban mengalami lapisan-lapisan persoalan yang berkaitan dengan keterbatasan dan kesulitan memberi kesaksian.

Namun, Yuniyanti menegaskan bahwa RUU Penghapusan Kekerasan Seksual akan melahirkan bentuk hukuman-hukuman yang manusiawi dan sesuai dengan hak asasi manusia.

"Walaupun kita marah dengan kejahatan seksual tetapi kita tetap menentang hukuman mati karena itu tidak menyelesaikan persoalan dan tidak otomatis memberi efek jera," tuturnya.

Setelah disetujui oleh Badan Legislasi DPR RI pada Januari lalu, RUU tersebut akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR untuk disahkan menjadi usul inisiatif DPR.

Komnas Perempuan mencatat dalam rentang 2012-2015, rata-rata 3.000-6.500 kasus kekerasan seksual terjadi setiap tahun dalam ranah personal, rumah tangga, maupun komunitas.

Sementara pada 2016 tercatat 3.945 kasus kekerasan seksual terjadi dan ditangani oleh 358 Pengadilan Agama serta 23 lembaga mitra Komnas Perempuan yang tersebar di 34 provinsi di Tanah Air.


Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 10 jam lalu

    Ratusan Perempuan di Bengkulu Deteksi Dini Kanker Rahim

    BENGKULU (EKSPOSnews): Sebanyak 370 perempuan di tiga kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu mengikuti pemeriksaan kanker mulut rahim (serviks) atau Inspeksi Visual Asam (IVA) sebagai upaya dini mend

  • satu minggu lalu

    Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Tangerang Memprihatikan

    BANTUL (EKSPOSnews): Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa menyatakan prihatin atas kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Tangerang Provinsi Banten yang membawa puluhan korban bebera

  • satu minggu lalu

    Kekerasan Terhadap Perempuan di Bengkulu Masih Tinggi

    BENGKULU (EKSPOSnews): Sejumlah tokoh lintas agama di Provinsi Bengkulu menandatangani deklarasi dan komitmen pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang kasusnya masih tinggi di daerah ini.

  • 2 minggu lalu

    Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan Meningkat

    REJANG LEBONG (EKSPOSnews): Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu selama 2017 lalu mencapai 184 kasus, jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan 20

  • 4 minggu lalu

    Kasus Kekerasan Seksual Anak di Lebak Melonjak

    LEBAK (EKSPOSnews): Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lebak mencatat jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Lebak, Banten, pada 2017 meningk

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99