Jumat, 21 Jul 2017
  • Home
  • Pendapat
  • Aset Gembong Narkoba yang Disita Diserahkan untuk Memperkuat BNN

Aset Gembong Narkoba yang Disita Diserahkan untuk Memperkuat BNN

Oleh: Jallus
Selasa, 21 Feb 2017 06:18
BAGIKAN:
istimewa
Aset gembong narkoba di Jakarta (ilustrasi).
Selayaknya perumahan mewah, siapa pun yang akan berkunjung ke sana harus melalui penjagaan ketat.

Paling tidak ada tiga gerbang yang harus dilalui menuju rumah mewah itu. Saat memasuki gerbang pertama tamu pun akan ditanyai hendak ke mana atau hendak menemui siapa.

Rumah itu merupakan rumah milik istri Pony Tjandra, Santi. Pony Tjandra merupakan bos terpidana narkoba Freddy Budiman yang sudah dieksekusi mati. Memang beruntung dirinya hanya divonis 20 tahun penjara dan kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) enam tahun penjara.

Rumah seharga Rp17 miliar itu berada Perumahan Pantai Mutiara Blok R, Kavling 21, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Saat melihat perumahan model cluster itu, mata kita pun akan takjub.

Bagaimana tidak dari muka saja sudah membuat "keder" tamu, dan setelah melewati ruang tamu bangunan berlantai dua dan bercat putih menyambung ruang keluarga, dari balik kaca terlihat lautan lepas Teluk Jakarta. Di sana ada dermaga pribadi bagi penghuninya.

Di seberang rumah itu, terlihat kapal pesiar pribadi atau yacht berukuran kecil yang tengah bersandar. Hingga tidak mengherankan eksklusifnya kawasan perumahan elit itu, membuat leluasa para pelaku peredaran narkoba mendapatkan barang haram itu yang diduga melalui jalur laut.

Saat menaiki lantai dua rumah mewah bercat putih itu, terlihat ada beberapa kamar yang konon ada ruang karaoke pribadi. Ruang hiburan untuk anak buah Pony Tjandra. Namun untuk melihat bagaimana kondisi di dalamnya, tidak bisa dilakukan karena harus ada kode akses.

Operasional BNN Saat ini, rumah mewah tersebut resmi dimiliki oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) setelah Kejagung menyerahkannya untuk menunjang operasional badan tersebut pada Senin 20 Februari 2017.

Kepala BNN, Budi Waseso mengatakan rumah ini akan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan operasional BNN dalam hal penegakan hukum kasus narkotika.

Dalam acara serah terima rumah itu juga, dilakukan penandatanganan kerja sama antara BNN dengan Kejaksaan. Ini merupakan titik terang bagi aparat penegak hukum dalam proses penyitaan barang bukti tindak pidana pencucian uang yang berasal dari tindak pidana narkotika.

"Mereka telah memanfaatkan teknologi petugas yang terbatas," katanya.

Kejaksaan Agung sendiri menyatakan rumah barang rampasan itu yang diserahkan kepada BNN itu tidak begitu saja, namun melalui proses atas persetujuan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

"Berkat persetujuan Menteri Keuanganlah maka barang barang rampasan negara yang semestinya dilelang dan hasilnya akan menjadi penerimaan negara itu dapat diubah status pengunaannya," kata Jaksa Agung HM Prasetyo.

Penyerahan aset itu sendiri, bukanlah yang pertama kali dan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memberantas kejahatan narkoba.

Harta lainnya milik Pony Tjandra berupa satu bidang tanah dan bangunan yang berlokasi di Jalan. Rawasari Selatan, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dan satu bidang tanah dan bangunan yang berlokasi di Jalan Bintara, Bekasi Barat, Bekasi.

Tiga bidang tanah seluas 90.512 meter persegi yang berlokasi di Blok Cibuluh, Desa Sukaharja, Sukamakmur Bogor, Jawa Barat, satu bidang tanah seluas 35.000 meter persegi yang berlokasi di Jalan Pangradin, Kampung Kandang Sapi, Desa Pangradin, Jasinga, Bogor dan satu bidang tanah seluas 10.000 meter persegi yang berlokasi di Jalan Abdul Fatah, Kampung Poncol Desa Bojong Jengkol, Kecamatan Ciampea, Bogor, Jawa Barat.

Selanjutnya, tiga kendaraan roda empat, merek Ford Ecosport wama biru metalik dengan No. Pol B 1279 URO, Toyota Fortuner dengan No. Pol B 393 PS dan Nissan X-Trail No. Pol B 199 STR.

Aset-aset sitaan negara ini secara resmi diserahkan oleh Kejagung kepada BNN sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 455/KM.6/2016.

"Rumah di Pantai Mutiara itu milik istrinya Pony Tjandra, Santi," kata Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati DKI, Sapto Subrata.

Tanah yang di Bogor, kata dia, akan dijadikan tempat rehabilitaasi narkoba oleh BNN.

"Bahkan saya dengar juga ada aset milik Santi di Jepara, Jawa Tengah," katanya.

Terkait kebenaran adanya juga aset motor Harley Davidson milik Pony Tjandra, ia mengaku tidak tahu menahu.

"Soal itu, tanyakan saja ke Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rumbasa)," katanya.

Pada 2006, pria bernama Pony Tjandra ini dijatuhi vonis 20 tahun penjara karena kepemilikan 57.000 butir ekstasi dan ditahan di LP Cipinang dari balik teralis penjara dirinya masih mampu mengendalikan bisnis narkobanya dengan keuangan mencapai sekitar Rp100 juta perbulan. Pada 2014, aksinya itu diketahui dan diamankan oleh BNN setelah mendapatkan kicauan dari pengembangan tertangkapnya sejumlah bandar narkoba, di antaranya Edy alias Safriady serta dua bandar lainnya, yaitu Irsan alias Amir dan Ridwan alias Johan Erick. Saat ini, Pony Tjandra menghuni sel di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Dari hasil pemeriksaan diketahui seluruh pembayaran hasil berbisnis narkotika dari para bandar tersebut ditujukan ke belasan rekening milik Pony Tjandra yang diperkirakan mencapai Rp600 miliar. Sehingga dirinya dikenakan pasal pencucian uang. BNN juga mengamankan istrinya bernama Santi (47) di Perumahan Griya Agung, Cempa Baru, Kemayoran.

Pony dan Santi dijerat dengan pasal 137 huruf a dan b UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dan Pasal 3,4,5 UU Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

"Saya juga kaget waktu ada penangkapan pemilik rumah itu, yang saya lihat mereka diborgol," kata salah seorang pembantu kompleks perumahan itu yang enggan menyebutkan namanya.

Bahkan dari informasi, saat penangkapan terhadap jaringan Freddy Budiman itu sempat diwarnai adanya pelaku yang kabur menggunakan speedboat hingga menyerupai film laga "James Bond" saat didatangi petugas BNN kala itu.

Dari hasil penelusuran BNN bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), sindikat narkoba Pony Tjandra memiliki aset mencapai angka Rp2,8 triliun.

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  komentar Pembaca

Copyright © 2009 - 2017 eksposnews.com. All Rights Reserved.

Tentang Kami

Redaksi

Pedoman Media Siber

Disclaimer

Iklan

RSS

Kontak