Senin, 16 Jul 2018

Memetakan Kawasan Perairan Danau Toba

Oleh: alex
Minggu, 08 Jul 2018 05:30
BAGIKAN:
istimewa.
Danau Toba.
MEDAN (EKSPOSnews): Wacana dilakukannya pemetaan kawasan perairan Danau Toba di wilayah Provinsi Sumatera Utara, untuk kebaikan dunia pelayaran agar tidak terjadi lagi musibah kapal tenggelam.

Seperti dialami kapal kayu KM Sinar Bangun yang tenggelam atau karam di perairan Danau Toba kawasan Tiga Ras Kabupaten Simalungun, Sumut, Senin (18/6) sore.

Kejadian yang dialami kapal yang diperkirakan mengangkut hampir 200 orang dengan puluhan unit kendaraan roda dua dan roda empat itu, tidak hanya menimbulkan trauma bagi masyarakat yang menggunakan jasa transportasi di Danau Toba, tetapi juga pihak pemilik armada.

Sehubungan dengan itu, apa yang digagas pemerintah mengenai perlunya dilakukan pemetaan perairan Danau Toba, perlu didukung dan disambut masyarakat selaku pengguna jasa pelayaran.

Pemetaan kawasan Danau Toba itu, juga untuk mengetahui mengenai daerah yang sangat berbahaya dan rawan kecelakaan, serta wilayan aman untuk dilalui kapal-kapal kayu yang mengangkut penumpang.

Kepala Pusat Hidro Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) Laksda TNI Harjo Susmoro menjelaskan, insiden tenggelamnya KM Sinar Bangun membuat sejumlah pihak sadar untuk melakukan beberapa perbaikan terkait pelayaran di Danau Toba.

Selain itu, menurut dia, Pusat Hidro Oseanografi TNI AL memang juga ingin melakukan pemetaan kawasan perairan Danau Toba.

"Karena itu, Pushidrosal akan melanjutkannya dengan survei pemetaan, kemudian nantinya dikoordinasikan dengan beberapa pemerintah daerah setempat," ujarnya.

Harjo menambahkan, pihaknya akan mengandalkan tim mobile yang dimiliki. Tim akan melakukan pemetaan dengan menggunakan alat semacam multibeam echo sounder (MBES).

Pemerintah Awasi

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, Pemerintah Pusat akan turut melakukan pengawasan pelayaran di Danau Toba, dan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sudah memberikan beberapa rekomendasi yang harus dilaksanakan.

Hal tersebut dikatakan Menteri Perhubungan di Pelabuhan Tiga Ras Kabupaten Simalungun, Sumut, Kamis (5/7), saat melakukan pemeriksaan di KMP Sumut I dengan mempraktikkan pelaksanaan standar operasional prosedur (SOP) pelayaran.

Semua penumpang, diregistrasi dengan membuat manifes, mengumumkan aturan-aturan yang harus dilaksanakan selama pelayaran dan memakai jaket pelampung.

Langkah konkrit ini dilakukan, dalam upaya membangun prasarana dengan memperbaiki pelabuhan serta melakukan penambahan armada kapal feri jenis roll on roll off atau Roro sebanyak empat unit.

Menteri Perhubungan menyampaikan kepada Bupati Samosir Rapidin Simbolon dan Bupati Simalungun JR Saragih untuk betul-betul memperbaiki SOP, sehingga tercipta pelayaran yang nyaman dan aman.

Bupati Samosir menyampaikan, mulai Jumat, 6 Juli 2018, KMP Sumut I dan II serta kapal kayu pengangkut penumpang kembali beroperasi.

Kabulkan Aspirasi

Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan saat mengunjungi Posko Basarnas di Pelabuhan Tigaras Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mengambulkan aspirasi yang disampaikan keluarga korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba itu.

Dalam pertemuan dengan keluarga korban, Senin (2/7), Menko Luhut menampung dan mengabulkan aspirasi mereka dengan harapan bisa menerima musibah, dan tidak lagi memiliki ganjalan perasaan menjalani kehidupan.

"Kita kabulkan aspirasinya, di antaranya pemerintah siap menanggung biaya pendidikan anak-anak yang orang tuanya menjadi korban, tetap melanjutkan pencarian, memberdayakan SAR setempat dan pengawasan," katanya.

Luhut juga mengharapkan, pengertian sulitnya melakukan evakuasi, karena alat teknologi berat dan besar tidak bisa digunakan di Danau Toba.

Selain itu, pengangkatan kerangka kapal dan jasad korban dari kedalaman 400 meter berisiko pada ketidakutuhan benda dan orang.

Pemerintah, kata Luhut, telah memulai penerapan ketentuan pada angkutan umum pelayaran untuk keselamatan penumpang.

Usai pertemuan, Menko Kemaritiman, Bupati Simalungun, Toba Samosir, Samosir dan Humbahas bersama keluarga korban melakukan tabur bunga di lokasi tenggelamnya KM Sinar Bangun.

Sebelumnya, KM Sinar Bangun tenggelam pada jarak sekitar satu mil dari dermaga Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin (18/6) sekitar pukul 17.30 WIB.

KM Sinar Bangun mengalami musibah akibat pengaruh cuaca buruk berupa angin kencang dan ombak cukup besar.

Hingga kini, tercatat baru 21 orang penumpang KM Sinar Bangun ditemukan selamat dan tiga orang meninggal dunia, yakni Tri Suci Wulandari asal Aceh Tamiang, Fahrianti (47) warga Jalan Bendahara Kelurahan Pujidadi Kecamatan Binjai Selatan, Kota Binjai, dan Indah Yunita Saragih (22) warga Pulau Sidamanik.

Sedangkan, 164 penumpang lainnyan dinyatakan hilang dan belum dapat diangkat jasadnya dari Danau Toba pada kedalaman 450 meter.

Bahas Keselamatan Pelayaran Wakil Bupati Samosir, Juang Sinaga dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah?(FKPD) membahas keselamatan pelayaran penyeberangan di Danau Toba dengan pemilik dan pengusaha kapal penyeberangan Danau Toba.

Acara tersebut dihadiri Bupati dan Wakil Bupati, yakni Rapidin Simbolon dan Juang Sinaga, kemudian Ketua DPRD Rismawati Simarmata, Kapolres Samosir AKBP Agus Darojat, Dandim 0210/TU yang diwakili oleh Kasdim, mewakili Kajari Pangururan.

Dalam forum tersebut disepakati beberapa hal terkait poin-poin yang disampaikan Bupati Samosir yang merupakan hasil rapat dengan Kemenko Maritim di Jakarta.

Di antaranya, implementasikan regulasi dan penegakan hukum meliputi SPB (Surat Persetujuan Berlayar) merupakan syarat mutlak, pelabuhan ditetapkan sebagai kawasan yang steril, yakni hanya petugas dan penumpang yang boleh masuk, dan pelaksanaan inspeksi atau ramp check.

Kemudian, peningkatan kompetensi sumber daya manusia meliputi diklat kompetensi kecakapan pegawai kapal, pemda menyiapkan personil dan operator.

Standardisasi aspek keselamatan di antaranya seluruh kapal harus memiliki sertifikat dan ada pendampingan teknis serta audit kinerja oleh Kemeterian Perhubungan.

"Selain itu, harus memenuhi kebutuhan mendasar yakni adanya daftar manifes penumpang dan barang, life jacket harus tersedia sesuai kapasitas angkut, serta penumpang tidak melebihi kapasitas yang selayaknya," kata Wakil Bupati Samosir itu.

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 2 hari lalu

    Danau Toba Akan Punya Galangan Kapal

    JAKARTA (EKSPOSnews): Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Danau Toba akan segera memiliki galangan kapal.Dalam siaran pers di Jakarta, Luhut meninjau Dermaga Pors

  • 4 hari lalu

    Kejati Sumut Kembalikan Berkas Kasus Kapal Tenggelam

    MEDAN (EKSPOSnews): Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara mengembalikan berkas perkara empat tersangka kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba, Tiga Ras, Kabupaten Simalungun kepada penyid

  • 6 hari lalu

    Idealnya Keramba Jala Apung di Danau Toba Hanya 543 Unit

    JAKARTA (EKSPOSnews): Peneliti-peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut idealnya hanya boleh ada 543 unit keramba jaring apung (KJA) di Danau Tob

  • satu minggu lalu

    Mengundang Saksi Ahli untuk Kasus Kapal Tenggelam di Danau Toba

    MEDAN (EKSPOSnews): Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Utara telah mengundang saksi ahli dari perguruan tinggi negeri, mengenai kapal tenggelam KM Sinar Bangun, di perairan Danau Toba, Ti

  • 2 minggu lalu

    Ketika Tim SAR Tinggalkan Danau Toba

    PARAPAT (EKSPOSnews): Tim SAR memulai berkemas-kemas untuk meninggalkan kawasan Tigaras, Kabupaten Simalungun, pascapenetapan berakhirnya pencarian KM Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Tob

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2018 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99