Selasa, 17 Sep 2019

Demo karena Diajak Guru Ngaji?

Oleh: alex
Selasa, 28 Mei 2019 04:23
BAGIKAN:
istimewa.
Demo.
JAKARTA (EKSPOSnews): Dari ikut-ikutan teman, ingin melihat langsung demo di Jakarta hingga diajak seorang yang diduga guru ngaji menjadi alasan banyak anak-anak ikut aksi penolakan hasil rekapitulasi pemilu 2019 pada 22 Mei lalu.

Di dalam situasi tersebut ada juga anak yang ingin mundur saat terjadi kericuhan namun terlanjur terjebak situasi "Ada anak-anak yang datang dengan inisiatif sendiri, diajak guru ngaji, tetapi kebanyakan mereka diajak teman dan mau melihat kerusuhan seperti apa, tetapi kemudian mereka dikasih ketapel dan batu untuk melempar polisi," kata Direktur Rehabilitasi Sosial Kemensos Kanya Eka Santi di KPAI, Senin 27 Mei 2019.

Kanya mengatakan belum mendalami apakah anak-anak tersebut kenal dengan orang yang menyuruh mereka melempar, atau apakah ada pertemuan sebelumnya mengenai hal tersebut.

Menurut Kanya, pada kericuhan tersebut ada sekitar 52 anak dengan rentang usia dari 14-18 tahun, secara bertahap dikirimkan oleh polisi ke rumah aman milik Kementerian Sosial, pihaknya pun melakukan berbagai uji awal untuk mengetahui sebab keterlibatan anak-anak tersebut.

"Dari uji awal ini, kami belum bisa mengidentifikasi mana korban mana pelaku dan mana saksi, kami juga tetap akan menyelaraskan dengan hasil BAP dari Polda," kata dia.

Selama menerima anak-anak tersebut, sudah ada sembilan anak yang dipulangkan karena mereka hanya ikut-ikutan, sisanya yaitu 52 anak masih dilakukan pendalaman.

Anak-anak tersebut pun kini dalam masa rehabilitasi, lamanya rehabilitasi menurut dia tergantung kerentanan dari masing-masing anak.

Selama anak dalam masa rehabilitasi, menurut Kanya sebagian besar orang tua sudah menjenguk anaknya.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati mengimbau orang tua untuk senantiasa menjalin komunikasi kepada anak-anaknya agar tidak terjebak dalam situasi tersebut.

Anak-anak harus dilindungi dari dari kegiatan politik, kedua harus dilindungi dari kegiatan kerusuhan yang ada.

"Kami imbau agar jaga anak-anak, jangan libatkan mereka karena proses pemilu yang ada saat ini kelihatannya masih belum selesai," kata dia.

Dia mengatakan 52 anak yang saat ini diduga terlibat dalam kericuhan tersebut, tidak diketahui oleh orang tuanya.

"Sebaiknya anak-anak dipantau secara lebih optimal. Jangan sampai sudah dua hari tidak pulang tenang-tenang saja," kata dia.

Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 4 bulan lalu

    Pedagang Mulai Beraktifitas

    JAKARTA (EKSPOSnews): Pasca kericuhan Rabu (22/5) sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di Jalan KS Tubun, Jakarta Barat dan Petamburan III, Jakarta Pusat kembali berjualan seperti sedia kala.Eva (50) saa

  • 4 bulan lalu

    Massa yang Demo Serang Petugas dengan Petasan

    JAKARTA (EKSPOSnews): Massa aksi yang terkonsentrasi di samping Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI, tepatnya di jalan Wahid Hasyim, Jakarta, pada Kamis dini hari, menyerang aparat kepolisian de

  • 4 bulan lalu

    Irjen Pol Gatot Eddy Pramono Berdiri di Garis Depan

    JAKARTA (EKSPOSnews): Polisi melakukan penyisiran di ruas Jalan Wahid Hasyim arah Tanah Abang sebagai upaya untuk membubarkan massa  yang bersikeras bertahan di area sekitar Gedung Bawaslu, Jakar

  • 4 bulan lalu

    Penolakan Hasil Kerja KPU Membuat Demokrasi Tak Sehat

    JAKARTA (EKSPOSnews): Pengamat politik Universitas Al Azhar Jakarta Ujang Komaruddin menilai penolakan hasil rekapitulasi suara Pemilu 2019 membuat sistem demokrasi Indonesia tidak sehat karena cender

  • 4 bulan lalu

    Ketua Bawaslu Sumut temui Pendemo

    MEDAN (EKSPOSnews): Aspirasi ribuan pendukung Capres-Cawapres Prabowo-Sandi di Kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sumut disambut langsung oleh Ketua Bawaslu Sumut Syafrida R. Rasaha dengan

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2019 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99