Senin, 20 Mei 2019
  • Home
  • Nasional
  • Agama Tak Pantas Dijadikan Alat Membunuh Manusia

Agama Tak Pantas Dijadikan Alat Membunuh Manusia

Oleh: marsot
Minggu, 07 Apr 2019 12:46
BAGIKAN:
istimewa.
Masjid.
PALU (EKSPOSnews): Kepala Bidang Penelitian Forum Koordinasi Pencegaham Terorisme Sulawesi Tengah, Muhtadin Dg Mustafa mengatakan agama bukan alat dan tidak pantas dijadikan sebagai dasar atau alasan untuk membunuh dan menyalahkan kelompok tertentu. "Agama menjadi alat manusia menjadi baik, beretika, menuju Tuhan,  bukan sebagai alat untuk membunuh," kata Muhtadin.

Muhtadin menjadi salah satu pembicara dalam kelompok diskusi terarah (FGD) bertempat di Baruga Kepolisian Resort Kabupaten Buol Sulteng dengan tema penguatan kearifan lokal sebagai daya tangkal masyarakat terhadap paham radikalisme dan terorisme.

FGD yang di laksanakan oleh Polres Buol dan Gerakan Pemuda Ansor itu dalam rangka mewujudkan pesta demokrasi pemilu 2019 yang aman, damai dan tenteram.

Muhtadin menegaskan tidak ada satu-pun agama di muka bumi maupun yang ada di Indonesia, yang menganjurkan pemeluknya untuk membunuh manusia yang lain. Sebaliknya, agama melarang keras membunuh jiwa manusia, melarang bertikai dan berbantah-bantahan.
Karena pribadi yang beragama pada dasarnya religius, yang berjalan sesuai nilai-nilai agama.

"Semua agama mengajarkan tentang kebaikan, bukan keburukan. Nah, inilah dasar dari sikap persamaan antar sesama agama," ujarnya.

Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Tengah ini menguraikan, terdapat tiga faktor yang mendasar sehingga seseorang atau sekelompok orang yang bertindak radikalisme dan intoleransi, yaitu, fundamental, militan, dan ekstrimisme.

Hal itu terjadi karena fanatik berlebihan terhadap suatu pemahaman dan keyakinan terhadap faham tertentu. "Karena meyakini bahwa pendapat dan faham yang paling benar, yang lain salah, maka yang salah menjadi musuh baginya," kata Akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu itu.

Dirinya menegaskan kekeliruan dalam memahami anjuran dan ajaran lewat dalil-dalil agama, melahirkan suatu pemahaman dan tindakan yang dapat berujung radikalisme dan intoleransi. "Penguataan terhadap masyarakat di aspek peningkatan sumber daya manusia harus terus dilakukan. Ini penting," tegasnya.

Ia juga menyebut pertikaian yang membawa-bawa nama etnis dan agama tertentu, pada dasarnya hanyalah polemik yang berasal dari problem individu.

Dia menerangkan umat beragama harus cerdas menyikapi suatu dinamika dan problem yang terjadi, termasuk cerdas dalam mengakses dan menyaring informasi. "Jangan muda terprovokasi, artinya jika ada informasi yang didapat maka harus dikaji, ditelaah, dicermati baik-baik. Jangan langsung bertindak," katanya.

Menurut dia, penguatan kearifan lokal sebagai daya tangkal masyarakat terhadap faham radikalisne dan terorisme menjadi hal yang sangat penting untuk terus dilakukan.

FGD melibatkan para tokoh masyarakat, pemerintah kecamatan dan lurah/kades, jajaran Kepolisian Polres Buol, KPU Buol, dan generasi muda yang tergabung dalam GP. Anshor duduk bersama mendiskusikan upaya memperkuat daya tangkal tersebut.

Dalam rangka mensukseskan Pemilu 2019 yang aman, nyaman dan damai di Kabupaten Buol. Hadir dalam acara tersebut Kapolres Buol Rudi Priyanto, Ketua KPU Buol Alamsyah, Wasekjen PP GP. Anshor Nizar Rahmatu dan Ketua GP Anshor Buol Ibrahim Mangge.


Sumber: antaranews.

  Berita Terkait
  • 3 minggu lalu

    KPK Dalami Aliran Uang untuk Menteri Agama

    JAKARTA (EKSPOSnews): KPK masih akan memanggil Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam perkara dugaan penerimaan suap terkait seleksi jabatan di lingkungan Kemenag 2018-2019 terkait aliran uang yan

  • satu bulan lalu

    Perbedaan Agama Bukan Pemecah Belah Bangsa

    DENPASAR (EKSPOSnews): Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan perbedaan keyakinan dan agama masyarakat Indonesia bukan menjadi faktor pemecah belah bangsa, tetapi justru mempersatukan menjadi bangsa ya

  • 2 bulan lalu

    Kasus Diskriminasi Agama di Yogyakarta Agar Jangan Terulang Lagi

    SUKOHARJO (EKSPOSnews): Menteri Agama RI Lukman Hakim menyatakan kasus diskriminasi agama di Yogyakarta yang baru-baru ini menimpa warga bernama Slamet Jumiarto sudah selesai dengan perdamaian."Sudah

  • 2 bulan lalu

    Uang yang Disita KPK dari Ruang Menteri Agama Disebut Uang Honor?

    JAKARTA (EKSPOSnews): Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merespons soal adanya pernyataan beberapa pihak yang menyebut uang yang disita dari ruang kerja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin merupakan

  • 2 bulan lalu

    KPK Temukan Uang Ratusan Juta di Ruang Menteri Agama

    JAKARTA (EKSPOSnews): Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita sejumlah uang dari hasil penggeledahan di ruang kerja Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin di gedung Kementerian Agama, Jakarta

  •   komentar Pembaca

    Copyright © 2009 - 2019 eksposnews.com. All Rights Reserved.

    Tentang Kami

    Redaksi

    Pedoman Media Siber

    Disclaimer

    Iklan

    RSS

    Kontak

    vipqiuqiu99 vipqiuqiu99